
Di Ruang Kerja Arrabella
"Kenapa diam? Apa sekarang kamu menjadi bisu?" tanya Ara dengan tatapan mengejek.
"Tolong maafkan saya nona muda, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama," ujar orang itu dengan wajah ketakutan.
"Kau pikir aku percaya pada perkataan mu itu. Ck! Ingat baik-baik, aku bukanlah orang bodoh yang mudah tertipu dengan omong kosong mu itu."
"Katakan siapa yang telah menyuruhmu menggelapkan uang perusahaan?" tanya Ara seraya menatap dengan tatapan tajam.
"Revan Sanders," jawab orang itu dengan singkat.
"Siapa Revan Sanders? Kenapa dia menyuruhmu menggelapkan uang perusahaan milikku?" tanya Ara dengan bingung pasalnya dia tidak pernah mengenal nama tersebut.
"Saya juga tidak tahu apa motif orang itu menyuruh saya menggelapkan uang perusahaan," ujar orang itu yang masih ketakutan pasalnya Ara sejak tadi belum memindahkan pisau itu dari wajahnya.
"Dasar bodoh, apa kamu tidak sadar kalau kamu itu cuma di jadikan alat oleh orang itu demi kepentingan dia sendiri. Apa kamu tidak pernah dengar bagaimana kejamnya daddy ku memusnahkan para musuhnya yang berani berkhianat?" tanya Ara.
"Tahu nona," jawab orang itu.
"Jika tahu, kenapa kamu masih berani mengkhianati keluarga ku?" tanya Ara lagi.
"Karena aku berpikir selama tuan muda Reagan yang memimpin perusahaan maka aku akan selamat. Karena tuan muda Reagan sangat berbeda dengan tuan Alex dan juga nona muda yang sangat cerdik dan licik," balas orang itu.
"Dasar bodoh, apa kamu pikir aku akan melepaskan perusahaan ku begitu saja? Dengarkan aku baik-baik, aku sangat tahu bagaimana sifat adikku yang sangat bodoh bahkan dia sangat mudah di manfaatkan oleh orang lain. Itu sebabnya aku menempatkan orang kepercayaan ku agar para tikus yang berani bermain curang di perusahaan ini akan langsung tercium oleh orang kepercayaan ku. Dan lihat sekarang sudah terbukti jika di perusahaan ini ada tikus yang berani mencuri uang perusahaan," ujar Ara dengan penuh emosi.
"Ampuni saya nona," mohon orang itu seraya berlutut di bawah kaki Ara.
"Dasar sampah," umpat Ara dengan penuh emosi.
"Le... lepaskan saya nona," ujar orang itu dengan terbata-bata saat dengan kejamnya Ara mencekik lehernya.
"Lepaskan dia kak," teriak Reagan yang sedari tadi memperhatikan mereka. Dia sejak awal sudah sangat ketakutan saat melihat bagaimana kejamnya kakaknya menyiksa pengkhianat itu.
Hanya saja dia tidak berani mencegah lantaran takut akan kemarahan kakaknya. Tetapi sekarang, dia harus mencegah kakaknya agar tidak bertindak gegabah karena itu bisa berakibat fatal pada kakaknya. Dia hanya takut kakaknya masuk penjara gara-gara membunuh orang walaupun orang yang dibunuh adalah penjahat yang telah berani mencuri uang perusahaan.
"Diam kau bodoh, ini semua gara-gara kamu. Sudah berapa kali aku katakan padamu jangan mudah percaya pada orang lain tetapi kamu masih saja bodoh sehingga pengkhianat ini memanfaatkan kebodohan mu demi kepentingan dia sendiri." Ara yang sedang tersudut emosi tanpa sadar membentak adiknya sendiri.
Glek
"Inilah kenapa aku sangat takut pada kak Ara? Lihatlah dia benar-benar sangat menakutkan persis seperti daddy. Lebih baik aku kabur saja dari sini sebelum kak Ara melampiaskan kemarahan padaku. Aku harus menghubungi daddy agar datang kesini karena cuma daddy yang bisa menghentikan kak Ara. Semoga saja laki-laki itu masih selamat dari amukan kak Ara," batin Reagan seraya pergi dari sana dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"A... Aku mohon ampuni aku nona," ujar orang itu lagi seraya terbata-bata.
"Kau pikir dengan permintaan maafmu maka uang yang kau curi itu bisa kembali hah." Ara masih saja mencekik leher orang itu hingga mengeluarkan air mata.
"U... Uang itu masih ada di tangan saya nona. Saya belum sempat mengirim uang itu pada dia karena keburu ketahuan oleh orang kepercayaan nona," jelas orang itu.
Bruk
"Huuk... Huuk... Huuk..."
"Di mana uang itu?" tanya Ara setelah dia melepaskan orang itu hingga dia terbatuk.
"Ada di ATM pribadi saya nona," jawab orang itu setelah menarik nafas akibat serangan Ara tadi.
"Kirim semua uang yang ada di ATM kamu beserta semua harta kamu yang lain," titah Ara dengan tegas.
"Tapi nona..."
"Ck! Kau masih saja membantah, apa kamu sudah siap meninggalkan dunia ini?" tanya Ara dengan seringai liciknya.
Glek
"Ti... Tidak nona," jawab orang itu dengan terbata-bata.
"Bagaimana dengan anak dan istri saya jika nona mengambil alih harta yang saya miliki?" tanya orang itu dengan wajah cemas.
"Apa pada saat kamu menggelapkan untuk perusahaan pernah berpikir tentang keluarga saya?" tanya Ara balik.
Terdiam, dia tidak tahu lagi harus menjawab apa. Dia benar-benar bodoh karena percaya pada orang itu. Seandainya dia tidak bekerjasama dengan orang itu maka hidup nya dan keluarga nya pasti akan baik-baik saja. Tapi percuma menyesal sekarang karena itu sudah terlambat masih untung dia dieksekusi oleh Ara sehingga nyawanya masih hidup dibandingkan dia dieksekusi oleh Alexander maka nyawanya akan melayang. Lebih baik dia kehilangan harta dari pada kehilangan nyawa.
"Baiklah, aku akan menyerahkan semua harta yang aku miliki asal nona membiarkan saya hidup," ujar orang itu dengan pasrah.
"Pilihan yang bagus."
"Berikan berkas itu padanya," titah Ara dengan tegas.
"Baik nona muda," jawab anak buah Ara seraya memberikan berkas kepindahan harta orang itu menjadi atas nama Ara.
"Tanda tangan," titah Ara dengan tegas yang di tanggapi anggukan kepala oleh orang itu.
"Ini nona," ujar orang itu setelah menandatangani berkas kepindahan harta miliknya menjadi milik Ara.
__ADS_1
"Bagus, mulai sekarang kau di pecat dengan tidak hormat. Setelah keluar dari sini maka namamu akan masuk dalam daftar hitam," ujar Ara.
"Tolong jangan pecat saya nona, saya tidak tahu harus mencari kerja di mana lagi apalagi nama saya sudah masuk daftar hitam," ujar orang itu dengan wajah memelas.
"Bawa dia keluar dari sini," titah Ara dengan tegas tanpa peduli pada orang itu.
"Baik nona muda," jawab anak buah Ara seraya menyeret orang itu keluar dari ruangan Ara.
"Lepaskan saya, tolong maafkan saya nona," ujar orang itu seraya memberontak.
"Apa kau kenal Revan Sanders?" tanya Ara pada orang kepercayaan nya.
"Tidak nona muda, sebaiknya nona tanyakan pada tuan Alex mungkin saja dia tahu siapa itu tuan Revan Sanders," jawab orang kepercayaan Ara.
"Ya, mungkin daddy tahu siapa itu Revan Sanders. Akan aku tanyakan padanya nanti."
"Di mana Reagan?" tanya Ara yang baru sadar saat melihat ternyata adiknya tidak ada di ruangan ini lagi.
"Tuan muda Reagan sudah keluar dari sini nona," jawab orang kepercayaan Ara.
"Sejak kapan dia keluar dari sini? Kenapa aku tidak tahu kalau dia pergi dari sini?" tanya Ara lagi dengan penasaran.
"Bagaimana anda bisa tahu kalau anda sejak tadi sedang fokus menghukum pengkhianat itu. Bahkan gara-gara andalah tuan muda Reagan kabur dari sini karena takut dengan kemarahan anda," batin orang kepercayaan Ara.
"Sejak anda membentak dia nona," jawab orang kepercayaan Ara.
"Ck! Dasar laki-laki penakut," umpat Ara dengan kesal.
"Siapapun yang ada di posisi tuan muda Reagan pasti akan ketakutan saat melihat kemarahan nona termaksud aku." Dia hanya bisa membantin lantaran takut pada Ara. Mana berani dia membicarakan tentang atasannya yang sedang emosi.
"Kau bisa pergi dari sini," titah Ara dengan tegas.
"Baik nona muda," jawab orang kepercayaan Ara seraya pergi dari sana.
•
•
•
Bersambung...
__ADS_1
🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿