Terjebak Drama Queen

Terjebak Drama Queen
( Bab 53 )


__ADS_3

"Mana kartu ATM mu," ujar Ara seraya mengulurkan tangannya.


"Untuk apa kamu meminta kartu ATM ku?" tanya Axton dengan penasaran.


"Tentu saja untuk menebus obatmu ini. Kau pikir menebus obat tidak membutuhkan uang. " Ara menegus kesal saat mendengar perkataan Axton.


"Ck! Kau benar-benar wanita tidak punya hati. Seharusnya kamu yang menebus obatku mengunakan uangmu sebagai tanggung jawab karena sudah menyebabkan aku kesakitan seperti ini bukannya malah meminta padaku," ujar Axton dengan kesal.


"Dengar ya tuan Axton yang terhormat. Aku sudah berbaik hati karena sudah membawamu ke rumah sakit. Itu sudah membuktikan kalau aku sudah bertanggung jawab padamu. Jadi, jangan minta padaku untuk menebus obat mu ini karena sampai kapan pun aku tak akan mau melakukannya. Karena obat ini milikmu jadi, kau sendiri yang harus menebusnya jika kau tidak mau terserah, emangnya aku peduli," ujar Ara dengan wajah tanpa bersalah.


Mendengar perkataan Ara membuat Axton kesal setengah mati. Dia tidak menyangka bisa menikahi wanita tidak punya hati seperti ini. Jika bukan karena terpaksa tidak mungkin dia mau menikah dengan nya.


"Kau benar-benar wanita tidak punya perasaan. Menyesal aku menikah dengan mu." Axton benar-benar menyesal karena mengenal dengan wanita ini. Coba saja dia tidak terlibat masalah dengan wanita ini pasti hidupnya sekarang masih sangat baik dan tenang tidak seperti sekarang yang sangat sial kenal dengan wanita ini.


"Kau pikir aku tidak menyesal menikah dengan mu," ujar Ara seraya menatap dengan tatapan tajam.


"Maaf tuan, nona, tolong pelankan suaranya ini di rumah sakit. Jika kalian ingin bertengkar sebaiknya dikamar saja. Kalian ini masih pengantin baru kenapa bisa bertengkar seharusnya kalian saat ini sedang menikmati malam pertama bukannya berada di rumah sakit apalagi bertengkar seperti ini," ujar seseorang yang sedang memperhatikan pertengkaran mereka.


"Maaf Bu, ini semua salah suami saya. Dia yang lebih dulu mengajak aku bertengkar padahal aku sudah begitu baik membawa dia ke rumah sakit. Tapi, dia malah meminta aku untuk menebus obatnya. Dia tahu, kalau aku ini tidak memiliki uang tapi, masih saja meminta padaku untuk menebus obatnya," jelas Ara dengan sendu.


"Ck! Dasar suami tidak tahu diri, kenapa kamu malah meminta istri mu yang tebus obatmu? Seharusnya sebagai kepala keluarga kau yang menanggung semuanya bukannya malah meminta pada istri mu," ujar orang itu dengan sinis.


"Kenapa aku selalu sial setelah bertemu dengan wanita licik ini? Dia benar-benar duplikat om Alexander yang terkenal kejam dan licik. Bahkan dia selalu menang saat bertengkar dengan ku. Dasar drama queen," batin Axton dengan kesal.


"Ibu tidak tahu masalah kami jadi, jangan asal menghujat atau menuduh saya seperti itu. Karena apa yang ibu lihat dan dengar tidak sepenuhnya benar," ujar Axton seraya membantah tuduhan dari ibu itu.


"Alah, mana ada maling ngaku. Jika ada, penjara pasti penuh." Dia tidak percaya pada perkataan Axton. Baginya semua yang keluar dari mulut Axton adalah kebohongan.


"Kenapa kau menyebutku maling? Emangnya aku pernah mencuri apa di rumah mu sehingga anda menyebut saya maling?" Axton sangat emosi saat mendengar perkataan ibu itu yang mengatainya maling. Padahal seumur hidupnya dia belum pernah mencuri apapun milik orang lain tapi, orang ini dengan lancangnya malah menyebutkan dirinya maling.


"Itu karena anda tidak mau mengakui perbuatan anda yang tega membiarkan istrinya yang tidak memiliki uang buat menebus obat anda. Seharusnya sebagai seorang suami anda lah yang menafkahi istri mu bukannya malah sebaliknya," balas orang itu

__ADS_1


"Kau..."


"Sudah mas, sebaiknya kita pulang saja tak baik bertengkar dengan orang yang lebih tua dari mu," ujar Ara seraya menyudahi pertengkaran mereka.


"Cepat bayar sana setelah itu kita pulang," ujar Axton seraya pergi dari sana dengan raut wajah kesal.


"Oke mas," jawab Ara dengan singkat.


"Terima kasih banyak bu karena sudah membelaku tadi," ujar Ara dengan sopan.


"Sama-sama nona," balas wanita itu.


"Kalau begitu saya pulang dulu," ujar Ara yang di tanggapi anggukan kepala oleh wanita itu.





"Puas kamu lagi-lagi bikin aku malu di depan publik? Kamu memiliki dendam apa padaku sehingga kamu selalu saja membuat aku malu di depan publik?" tanya Axton dengan penuh kemarahan.


"Apa kau amnesia? Coba ingat baik-baik saat pertama kali kita bertemu di bandara. Tanpa perasaan kau membentak dan menghinaku tepat di hadapan orang banyak sehingga orang-orang yang ada disana malah menatapku dengan tatapan sinis dan mencemoh. Padahal aku sama sekali tidak kenal dengan mu apalagi memiliki niat buruk seperti yang kau tuduhkan itu. Jika saja kamu tidak menghina ku mana mungkin aku memiliki niat buruk buat balas dendam padamu," ujar Ara.


Mendengar perkataan Ara membuat Axton terdiam seperti patung karena apa yang dikatakan oleh Ara semuanya benar. Dialah puncak permasalahan lebih dulu hingga membuat Ara marah padanya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Axton.


"Kau mau tahu apa keinginan ku?" Ara bukannya menjawab pertanyaan Axton tetapi dia malah menanyakan balik padanya.


"Cepat katakan kau mau apa dariku jangan malah bertanya balik seperti ini?" tanya Axton dengan kesal.

__ADS_1


"Berikan aku black card, setelah itu aku akan menganggap semua masalah yang terjadi pada kita selesai," jawab Ara seraya mengulurkan tangannya.


"Kau... Dasar wanita matre. Pintar sekali kau memanfaatkan kesempatan," umpat Axton dengan kesal.


"Hidup membutuhkan uang. Tak ada uang manusia akan cepat mati akibat menahan lapar," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.


"Kau bukan orang miskin tapi, kenapa masih saja merampas milik orang lain," ujar Axton seraya menahan emosi.


"Apa kamu lupa? Kalau aku ini sekarang sudah menjadi istri mu. Tak salahkan seorang istri meminta nafkah pada suaminya yang salah itu pelakor yang meminta nafkah pada suami orang." Soal berdebat Ara lah pemenangnya. Dia tidak pernah kalah dalam hal berdebat, jika tidak ingin kalah dan malu lebih baik jangan mencari masalah dengan Ara.


"Dasar perempuan licik," umpat Axton dengan kesal.


"Sudahlah sayang. Tak perlu mengumpat ku seperti itu. Kamu cukup memberikan aku black card maka semua masalah kita aku anggap selesai," ujar Ara.


"Ck! Oke, aku akan berikan padamu. Tapi ingat, jangan sampai aku bangkrut gara-gara ulahmu. Jika sampai itu terjadi maka aku akan membunuhmu," ujar Axton seraya memberikan black card pada Ara.


"Dengarkan aku baik-baik tuan muda Axton yang terhormat. Aku Arrabella Anastasya Lemos tidak pernah takut pada apapun dan pada siapapun termaksud kamu. Lupakan ancaman mu itu karena aku bisa saja membunuhmu dengan tanganku sendiri. Kau harus tahu dalam darahku mengalir darah daddy ku Alexander Lemos. Aku tak mudah dikalahkan apalagi takut dengan ancaman bodohmu itu," ujar Ara seraya menatap Axton dengan tatapan tajam.


Glek


"Sial. Aku lupa, kalau wanita ini adalah anak om Alexander yang terkenal kejam serta sadis dalam membasmi musuh yang mencari masalah dengan dia dan juga keluarga nya," batin Axton seraya menelan ludahnya sendiri.





Bersambung...


🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿

__ADS_1


__ADS_2