
Di Apartemen Gisela
"Kenapa kamu tidak memberitahukan pada mama kalau kamu sedang dekat dengan anak sang penguasa negara ini hah?" tanya Ambar seraya membentak anaknya.
"Maaf ma, aku lupa," jawab Gisela.
"Dasar gadis bodoh, jika saja kamu cerita sama mama, pasti sekarang kamu sudah bisa menjadi menantu keluarga terkaya yang ada di negara ini. Tapi sekarang, harapan kita untuk memiliki besan seperti mereka menjadi sirna. Karena mereka sudah tahu siapa kita sebenarnya. Jadi, mana mungkin mereka membiarkan anaknya menikah dengan wanita panggilan seperti kamu," ujar Ambar dengan wajah kesal.
Mendengar perkataan Ambar membuat Gisela terdiam seperti patung. Dia tidak menyangka rencana yang sudah disusun dengan sangat rapi malah menjadi berantakan akibat berita dirinya yang sedang viral itu. Untuk menghentikan berita itu pun dia tidak sanggup karena tidak memiliki uang untuk membayar mereka agar segera dihentikan berita yang sedang viral itu.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan agar Reagan bisa menjadi milikku ma?" tanya Gisela dengan penasaran.
"Cara satu-satunya adalah menjebak laki-laki itu agar tidur dengan mu. Dengan begitu mereka tidak memiliki pilihan lain selain menikahkan kalian berdua," balas Ambar dengan seringai liciknya.
"Apa mama yakin, rencana ini akan berhasil? Aku hanya takut itu akan menjadi bumerang untuk kita." Gisela hanya takut jika rencana mereka gagal maka hidupnya dan juga ibunya yang akan hancur. Karena dia sangat tahu bagaimana kejamnya Alexander Lemos jika ada seseorang yang mengusik keluarga nya. Itu sebabnya dia sangat ragu menjalankan rencana mamanya untuk menjebak Reagan.
"Mama sangat yakin jika rencana kita pasti akan berhasil," ujar Ambar dengan penuh keyakinan.
"Baiklah ma. Aku ikut saja apa kata mama. Semoga saja rencana kita berhasil dijalankan tanpa ada kendala apapun," balas Gisela.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa yang datang Sel?" tanya Ambar dengan penasaran.
"Tidak tahu ma," jawab Gisela dengan singkat.
"Cepat lihat siapa yang bertamu ke Apartemen kamu," titah Ambar dengan tegas.
"Baik ma," jawab Gisela seraya pergi dari sana.
Cklek
"Apa benar ini Apartemen nona Gisela?" tanya orang itu dengan sopan.
__ADS_1
"Iya benar. Ada apa anda kesini?" tanya Gisela dengan penasaran.
"Tolong berikan amplop ini pada nyonya Ambar," ujar orang itu seraya memberikan amplop pada Gisela.
"Dari siapa?" tanya Gisela dengan penasaran.
"Anda lihat sendiri saja siapa yang telah menyuruh saya memberikan amplop itu pada anda," ujar orang itu yang tidak mau memberitahukan siapa orang yang telah memerintahkannya untuk memberikan amplop itu pada Gisela.
"Kalau begitu saya permisi," sambungnya lagi seraya pergi dari sana.
"Siapa yang datang Sel? Dan apa yang ada di tangan kamu itu?" tanya Ambar dengan penasaran.
"Aku juga tidak tahu ma. Ini mama buka saja amplop nya biar mama tahu apa isi didalam amplop itu," ujar Gisela seraya memberikan amplop pada ibunya.
Saat Ambar melihat isi didalam amplop itu langsung saja membuat dia shock. Bahkan tangannya ikut gemetar, dia tidak menyangka apa yang dia takutkan terjadi juga.
"Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Mas Mario tidak mungkin menceraikan aku. Aku tidak terima diceraikan seperti ini tanpa mendapatkan apapun," ujar Ambar yang sedang frustasi saat melihat surat perceraian dari suaminya.
"Apa benar papa mau menceraikan mama?" tanya Gisela tak kalah shock saat mendengar perkataan ibunya.
"Apa yang bisa mama lakukan sekarang? Kita tidak bisa melawan papa, karena dari segi apapun kita yang akan kalah. Apalagi kita tidak memiliki uang buat menyewa pengacara," ujar Gisela.
"Sial, sia-sia semua usaha ku menjebak laki-laki brengsek itu. Karena pada akhirnya aku tetap tidak mendapatkan apapun," ujar Ambar seraya mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.
"Sekarang kita tidak punya cara lain selain menjebak anak tuan Alexander. Walaupun itu sangat beresiko mengingat ayahnya seorang penguasa negara ini. Tapi, apa salahnya kita mencoba, siapa tahu rencana kita berhasil." Ambar yang tidak memiliki rencana lain akhirnya berniat menjebak Reagan agar jatuh ke tangan anaknya. Sedangkan Gisela hanya bisa mengikuti semua kemauan ibunya, karena mereka tidak memiliki rencana lain selain menjebak Reagan agar menjadi miliknya.
•
•
•
Di Ruang kerja Alexander
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
"Ada daddy menyuruh aku kesini?" tanya Reagan dengan penasaran.
"Kemarin daddy sudah bicara dengan kakak kamu dan dia mengatakan belum siap jika harus memimpin perusahaan ini. Itu sebabnya daddy meminta untuk sementara waktu kamu yang akan menggantikan posisi daddy diperusahaan ini sampai kakak mu siap memimpin perusahaan yang sekarang sudah sah menjadi milik Ara seutuhnya," ujar Alex.
"Kenapa bukan daddy saja yang memimpin perusahaan ini sampai kak Ara siap mengantikan posisi daddy?" tanya Reagan dengan penasaran.
"Daddy sudah tua tidak mampu lagi untuk memimpin perusahaan ini. Sudah waktunya daddy menyerahkan perusahaan pada kalian berdua. Terserah siapa diantara kalian yang mau mengantikan posisi daddy yang jelas daddy berharap kalian bisa menjaga perusahaan ini agar tetap diposisi terkuat dibandingkan perusahaan lain. Dan satu lagi, jangan mudah percaya pada orang lain karena mereka bisa saja menusuk kita dari belakang," balas Alex seraya memperingati anaknya.
Glek
"Bagaimana jika sampai daddy tahu kalau aku sudah berkali-kali ditipu oleh orang-orang yang aku percayai? Pasti daddy tidak akan percaya dan menyerahkan perusahaan ini pada ku. Lagian aku juga tidak mampu untuk memimpin perusahaan raksasa ini, apalagi aku terlahir sebagai anak yang baik dan polos. Itu sebabnya mereka selalu memanfaatkan aku. Berbeda dengan kak Ara yang memiliki sifat kejam dan licik seperti daddy pasti tidak akan ada orang yang berani mencari masalah dengan nya," batin Reagan.
"Aku takut tidak bisa memimpin perusahaan ini. Apalagi banyak musuh daddy yang ingin menjatuhkan perusahaan ini. Bagaimana seandainya aku bukannya memperluas perusahaan ini tapi malah menghancurkan nya?" Reagan hanya takut tidak bisa seperti ayahnya yang dapat mengalahkan musuh yang berniat buruk terhadap mereka.
"Sudah aku duga. Anak ini walaupun terlahir sebagai anak laki-laki tapi sifatnya justru malah mengikuti sifat Claudia yang baik hati dan juga polos. Sedangkan anak perempuan ku justru malah mengikuti sifatku yang terkenal kejam dan licik. Aku lebih merasa aman bila perusahaan dipimipin oleh Ara dibandingkan dengan Reagan. Tapi, Ara justru malah menolaknya dan malah menyuruh Reagan untuk mengantikan aku," batin Alex yang merasa tidak yakin menyerahkan perusahaan pada anaknya.
"Ini hanya sementara, sampai kakakmu siap mengambil ahli perusahaan ini. Dan bila ada kendala atau masalah segera beritahu pada daddy biar daddy yang mengurusnya. Dan kamu harus mengingat baik-baik perkataan daddy jangan mudah percaya pada orang lain dan tetaplah waspada," ujar Alex yang tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan perusahaan ini pada anak laki-laki nya.
"Baik dad," jawab Reagan dengan pasrah.
•
•
•
Bersambung...
__ADS_1
🌿🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼||||🌼🌼🌿