
Anne merenggut kesal ketika suaminya malah menyuruh Yoas untuk berhenti didepan rumah Aerin. Saking gilanya Alan malah mengikuti mobil yang dikendarai oleh Aerin dan Agam, dia benar-benar tidak terima saat Agam membawa Aerin begitu saja.
"Alan, sebenarnya apa yang kau lakukan? Kenapa kita harus mengintip Tuan Agam dan Aeri?" tanya Anne kesal.
Namun Alan malah santai-santai saja seolah tak terjadi apapun. Dia dengan tenang memperhatikan Aerin masuk kedlama gerbang rumahnya dengan Agam yang menunggu didepan mobil.
Yoas juga menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. Sebagai pengikut Alan yang sudah puluhan tahun bekerja dengan lelaki itu tentu dia paham apa yang ada dipikiran Alan. Ya wanita itu adalah incaran Alan sebagai pertanggungjawaban.
"Yoas, jalan," suruh Alan.
Anne menatap suaminya curiga. Selama dia mengenal lelaki ini, tak pernah Alan perhatian atau peduli pada siapapun. Apalagi Aerin notabene wanita yang baru Alan temui hari ini sebagai kekasih Agam. Ya dan Anne tidak tahu saja, jika suaminya memiliki hubungan yang tak biasa dengan wanita yang digadang-gadang sebagai sebagai kekasih dari Tuan Agam Robson.
"Kau memiliki hubungan dengan Aerin?" tanya Anne memincingkan matanya curiga.
"Bukan urusanmu," jawab Alan dingin.
Alan tidak peduli pada Anne. Sebab Anne lah yang duluan memasukkan orang ketiga di hubungan rumah tangga mereka. Bukan Alan tak tahu apa yang dilakukan Anne di belakangnya. Dia hanya tidak peduli saja. Sekarang, Anne tak punya hak untuk mengatur hidupnya.
"Tentu saja ini urusanku. Aku istrimu, Alan," sentak Anne kesal.
"Aku tahu dan aku tidak peduli," sahut Alan.
"Aku istrimu, Alan. Aku tidak mau kau memikirkan wanita lain selain aku," ucap Anne berderai air mata. Cinta nya pada lelaki ini sangat dalam. Namun, lelaki tersebut malah tak menganggap dia sebagai istri.
"Istri diatas kertas, jangan lupakan itu Anne. Kau dan aku sama-sama tak menginginkan pernikahan ini. Kau juga bermain api dibelakang ku, sekarang kau berpura-pura seolah kau yang tersakiti," sahut Alan menatap istrinya tajam.
Anne terdiam sambil berderai air mata. Dia tak mungkin bermain api dibelakang Alan. Jika saja lelaki ini menerima dia sebagai istri dan mencintai dia seperti pria yang mencintai istrinya.
Brakkkkkkkkkkkkkk
Alan menutup pintu mobil dengan kasar. Mereka berdua selalu bertengkar masalah rumah tangga. Keduanya sebenarnya saling menyakiti satu sama lain. Mungkin menikah adalah keputusan yang salah.
Anne menangis didalam mobil tanpa peduli ada Yoas didepannya. Dia menangis kecewa. Dia menangis terluka. Ternyata memang benar cinta tak bisa sepenuh nya dipaksakan. Cinta itu malah sungguh menyakitkan ketika tak mendapat balasan dari orang yang dicintai.
__ADS_1
"Silahkan Nona," Yoas membuka pintu mobil.
"Ini semua gara-gara Tuan mu itu," sentak Anne pada Yoas.
Yoas tak menanggapi. Lelaki itu hanya membungkuk hormat. Anne memang kasar dan terlalu angkuh. Dia sudah menatap rendah orang lain. Seolah dia adalah malaikat yang harus disanjung tinggi.
Anne masuk kedalam rumahnya dengan menghentakkan kaki nya kesal. Kalau sudah bertengkar seperti ini, Alan selalu suka mengungkit dirinya.
"Alan," sentak Anne.
Lelaki itu hanya menoleh lalu kembali membuang muka dan melepaskan jas nya.
"Tak bisakah kau mencintaiku, Alan?" tanya Anne penuh amarah.
Alan tak menjawab dia malah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Lelaki itu membasahi tubuhnya dibawah shower. Bayangan Aerin yang memeluk lengan Agam masih terngiang dikepalanya. Kenapa rasanya sakit, sangat sakit. Jika bisa dia benar-benar ingin memberontak dan marah.
Tak pernah Alan semarah ini. Jiwa nya serasa membara menahan amarah. Entahlah, pokoknya dia marah dan ingin sekali Aerin tahu bahwa dia cemburu. Apakah Alan suka pada Aerin? Dia pun tak tahu, yang jelas sejak malam itu Aerin sudah menjadi miliknya dan tak ada yang bisa mengubah hal tersebut.
"Aerin," lirihnya.
.
.
.
"Kenapa wajahmu kesal begitu?" tanya seorang pria sambil terkekeh pelan
Anne memutar bola matanya malas, "Sudah tahu masih bertanya," ketus nya.
"Masalah suami mu?" tanya pria tersebut sambil menarik Anne duduk dipangkuan nya.
"Apa lagi," ketus Anne sambil melingkarkan tangannya dileher lelaki tersebut.
__ADS_1
Pria itu terkekeh. Dia mengelus wajah cantik Anne. Siapa yang tak terpikat dengan wanita ini, sudah cantik dan menawan serta wangi dan bersih.
"Apa masalahnya?" tanya nya menyelipkan anak rambut Anne.
"Seperti nya Alan menyukai wanita lain," sahut Anne menghela nafas panjang. "Kau tahu kan kalau aku mencintai nya. Aku tidak mau berpisah dengannya. Jika kami berpisah, akan berakibat fatal," jelas Anne.
Lelaki itu terkekeh pelan. Tak apa dia menjadi pelampiasan. Toh dia sungguh menikmati permainan Anne yang luar biasa menggilanya.
"Hem, ya aku tahu dan juga paham," sahut lelaki tersebut sambil menyesap leher putih Anne.
"Kau menginginkan nya?" bisik lelaki itu sambil mengigit telinga Anne dengan penuh kabut gairah.
"Tentu, aku butuh pelepasan," sahut Anne menyambar bibir lelaki tersebut.
Anne Hathaway, seorang putri pengusaha. Dia butuh belaian dan sentuhan. Suaminya Alan sama sekali tak mau menyentuhnya. Dia seperti barang kotor yang ditatap jijik oleh suaminya sendiri. Hal tersebut justru membuat Anne terjebak dalam hasrat terlarang bersama pria bayaran. Dia tak peduli jika Alan tahu permainan nya, yang jelas saat ini dia butuh pelampiasan untuk hasratnya yang membuncah.
Kedua orang itu saling memuaskan satu sama lain lewat sentuhan hangat. Sang lelaki, seorang pria playboy yang menutupi kedoknya melalui wajah polos yang dia tampilkan, berhasil menjerat Anne seorang pria bersuami kedalam hubungan terlarang nya.
Kedua orang itu masing-masing ambruk di apartemen yang sengaja Anne beli untuk kekasih gelapnya. Disinilah, keduanya saling memadu kasih tanpa peduli pada akibat yang mungkin saja bisa timbul suatu saat.
"Kau enak sekali, Sayang?" bisik lelaki tersebut. Keringat dingin membasahi tubuh keduanya.
Anne yang baru saja bertengkar dengan Alan memang membutuhkan pelepasan untuk sekedar menghangatkan tubuhnya.
"Kau juga enak, Sayang. Aku suka." Anne memeluk tubuh lelaki itu dengan erat sambil mengendus-enduskan wajahnya didada bidang pria tersebut.
"Mau lagi?" godanya terkekeh sambil menyelipkan anak rambut Anne.
"Tidak. Aku masih lelah. Permainan mu membuat ku kewalahan," tolak Anne. Bisa patah tulang-tulang nya jika kembali bercinta dengan lelaki ini.
Sang pria tertawa. Dia juga sudah kelelahan. Apalagi permainan Anne sungguh membuat dia tak mampu menahan diri. Anne seperti nya memang sudah berpengalaman dalam hal tersebut
"Ya sudah ayo kita tidur," ajak lelaki itu mengecup kening Anne yang masih berkeringat.
__ADS_1
Bersambung....