Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Cinta lama


__ADS_3

Tubuh Christoper dan Alta seketika melemah. Kaki seolah tak mampu menopang berat badan ketika melihat siapa yang tengah memeluk Aerin. Keduanya terdiam seakan jiwa dalam raga mereka keluar dan meninggalkan tubuh yang kini mereka tinggali.


Tubuh terasa dingin dan wajah pucat. Keduanya lekat menatap Ratih dan Aerin yang masih setia saling berpelukan tersebut. Air mata yang tertahan seketika luruh. Tetapi tak ada yang menyadari karena yang lain ikut terharu dengan pertemuan antara ibu dan anak tersebut.


"Ratih," gumam Christoper mengepalkan tangannya untuk menguatkan hati dan jiwa yang tengah bergejolak di dalam sana.


30 tahun terpisah dengan wanita yang begitu dia cintai. Perpisahan mereka terjadi bukan karena keinginan mereka berdua. Tetapi takdir yang seolah tak mengizinkan mereka bersama. Masih terngiang di kepala Christoper bagaimana istrinya itu di usir di tengah hujan deras membawa bayi berusia 3 bulan di dalam gendongannya.


Christoper mencari keberadaan Ratih dan Aerin tetapi sayang kekuasaan dan uang yang dia miliki tak membuatnya bertemu dengan dua wanita yang begitu dia rindukan sosoknya tersebut. Takdir seakan tak memihak mereka bersama, walau dia berusaha menolak.


Begitu juga dengan Alta yang tak mampu membendung air mata. Wajah tegas dan dingin serta kejam itu hilang seketika saat melihat dua wanita yang begitu dia rindukan selama ini. Wanita yang dia cari dan selalu hadir dalam setiap mimpi malanya, kini berada tepat di depannya.


Sang ibu, Alta tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu-nya. Walau Ema sanggup memberikan kasih sayang yang mungkin tidak dia dapatkan. Tetapi tetap ada perasaan berbeda yang sulit dia jelaskan.


"Mommy," lirihnya.


Jika saja dia tak berusaha menopang tubuhnya. Mungkin Alta sudah tersungkur di lantai sambil menangis hebat atau berlari kearah Ratih dan Aerin serta memeluk kedua wanita hebat itu sembari menangis hebat. Dia sangat menyayangi ibu-nya. Wanita itu selalu mampu meredakan taksinya ketika mainan kesayangannya hilang dan selalu sabar mengajarinya saat ulangan matematika. Sudah lama, sangat lama. 30 tahun tak berjumpa, itu bukan waktu yang singkat. Waktu yang lama dan sangat lama tersebut telah menumpuk banyak rindu yang menggembang di dalam dada.


"Ratih."


Pelukan Ratih dan Aerin sontak terlepas ketika mendengar suara panggilan tersebut.


Lagi, Ratih mematung di tempatnya ketika melihat dua pria yang berdiri tidak jauh dari mereka. Bahkan jika tidak Aerin menangkap tubuh ibunya itu mungkin saja Ratih sudah terjatuh di lantai.


"Mommy," panggil Alta.


Tatapan Ratih kembali tertuju pada Alta. Jantungnya berdebar sangat kencang. Lidah terasa kelu untuk berbincang-bincang. Kedua pria yang terus terngiang di dalam kepalanya kini berada di hadapannya.

__ADS_1


"Kak Chris," gumam Ratih.


"Ratih," panggil Christoper.


Ingin rasanya dia berlari memeluk Ratih sambil berkata rindu. Sangat rindu. Ingin dia peluk tubuh wanita yang dia cintai dan dia cari selama berpuluh-puluh tahun tersebut. Tetapi kenapa kakinya berat melangkah untuk berjalan menghampiri wanita tersebut setelah melihat Robson di belakang Ratih.


Christoper tak pernah tahu, jika Robson adalah suami dari mantan istrinya bukan mantan istri. Masih istri sah, mereka tak bercerai. Mereka masih pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama. Mereka terpisah bukan karena perceraian tetapi itu di sebabkan oleh orang-orang yang egois, oleh orang-orang yang tak menghargai betapa pentingnya kebersamaan.


"Mommy." Alta berjalan mendekat kearah Ratih dan Aerin. Sedangkan Christoper masih berada di tempatnya.


"Alat," gumam Ratih menatap putra sulungnya.


Air mata Ratih lagi-lagi luruh. Apakah takdir telah menguji dirinya, dia dipertemukan dengan orang-orang di masa lalu yang begitu dia cintai tetapi setelah dia menemukan cinta sejati yang memilikinya dengan utuh.


"Mommy, ini aku," renggek Alta.


Ratih mengulurkan tangannya menggapai wajah Alta yang lebih tinggi darinya. Putra kecil yang dulu sering dia ajari pelajaran matematika. Putra kecil yang dulu begitu bahagia menyambut kelahiran adiknya yang dia beri nama Baby A.


"Iya Mommy. Ini aku anakmu. Aku putramu Mommy. Aku Alta," jelas Alta dengan air mata berderai.


Ratih langsung memeluk anak lelakinya dengan menangis hebat. Sangat hebat. Bagaimana tak mengeluarkan air mata? Ketika dia di usir dari rumah putranya tersebut memanggil namanya sambil menangis histeris tetapi tubuh kecilnya di pasung oleh para pengawal suruhan sang mertua.


Sementara yang lain terdiam saja. Semua mulut seolah bungkam untuk berbicara termasuk Alan dan si kembar yang masih syok. Begitu juga dengan Agam, Yoa dan Yoel yang tak bisa berkata apa-apa.


Sedangkan Robson juga hanya terdiam saja. Hatinya panik dan khawatir apalagi ketika melihat tatapan mata Christoper yang begitu damba pada istrinya. Bagaimana jika lelaki itu merebut sang istri darinya dan Ratih memilih kembali bersama Christoper daripada dirinya. Dia tak bisa bayangkan bahwa dia akan mengalami patah hati yang hebat untuk kedua kalinya.


Agam melirik sang ayah yang diam dengan wajah sendu dan rapuh. Dia paham apa yang di rasakan oleh ayahnya. Bagaimanapun tak ada orang yang mau kehilangan orang yang dia cintai sepenuh hati. Namun, lagi Agam percaya bahwa bunda yang dia sayangi itu tidak akan mungkin berpaling hanya karena kedatangan cinta lamanya.

__ADS_1


"Mommy."


Tangis Alta pecah. Betapa dia mencintai ibu-nya. Betapa dia ingin bertemu ibunya. Betapa dia menahan semua kerinduan yang menggembang dalam dada dan berharap selalu memiliki kesempatan untuk bertemu dengan ibunya tersebut.


"Alta."


Ratih memeluk putranya dengan erat seraya mengusap punggung anak lelaki itu. Rasanya seperti bermimpi di pertemukan kembali dengan anak lelakinya.


"Mommy." Alta melepaskan pelukan ibu-nya.


"Kau sudah besar, Son? Kau tampan sekali!" puji Ratih terkekeh tetapi air mata yang menetes menandakan bahwa ada luka yang tersemat di dalam hatinya saat melihat putranya tersebut.


"Iya, Mom. Aku sudah besar dan aku memang tampan," sahut Alta.


Aerin ikut tersenyum melihat ibu dan kakaknya. Wanita itu menyeka air matanya dengan kasar. Banyak sekali emosi yang dia rasakan hari ini. Pertemuan tak terduga ini berhasil membuat Aerin merasakan satu kebahagiaan lagi.


Alta melirik kearah adiknya, "Baby A," panggilnya.


"Kakak."


Mereka bertiga saling berpelukan satu sama lain. Waktu yang panjang telah menjadikan masing-masing mereka menahan dada yang sesak karena rindu yang menggembang di dalam sana.


"Mommy, bahagia karena bertemu kalian," ucap Ratih mengecup kening Alta dan Aerin secara bergantian.


Kebahagiaan seorang ibu adalah ketika bisa berkumpul bersama anak-anaknya. Apalagi di usia transisi yang sudah tak muda lagi.


"Mommy, jangan pergi lagi," pinta Alta.

__ADS_1


"Mommy tidak akan pergi. Mommy akan bersama kalian selamanya," jawab Ratih kembali memeluk kedua anaknya.


Bersambung....


__ADS_2