Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Season 2. Part 02.


__ADS_3

"Oh my God, aku kesiangan," pekik seorang gadis berhambur turun dari sofa.


"Astaga, bagaimana ini?"


Dia mengambil kopernya dan masuk ke dalam kamar yang belum dia rapikan sama sekali. Terlalu lama bermonolog sendiri hingga membuatnya tertidur di sofa.


Secepat kilat dia mandi dan memakai pakaiannya.


"Hoh, oke. Anaya kau pasti bisa, semangat," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Gadis itu merampas tas kerja dan sepatunya. Tak lupa alat-alat make-up dia masukkan ke dalam tas munggil tersebut. Dia keluar dari apartemen dengan buru-buru. Hari pertama bekerja dia kesiangan karena sudah terbiasa tidur lupa waktu.


"Aku sarapan di kantor saja," ucapnya.


Taksi yang dia pesan sudah menjemputnya di basement.


"Jalan, Paman!" titahnya.


"Baik, Nona," sahut sang supir menjalankan mobilnya.


"Oh astaga, aku sudah tepat sepuluh menit. Ya Tuhan selamatkan hamba-Mu yang cantik ini," ucapnya panik sembari melirik arloji di tangannya.


Walau panik dan buru-buru tetapi dia masih sempat memasang make-up tipis di wajahnya. Gadis ini terbiasa memakai merias wajah, baginya wanita itu wajib memperhatikan penampilan.


Sang supir hanya geleng-geleng kepala saja apalagi mendengar celotehan gadis tersebut, dia gemas sendiri.


"Hari pertama bekerja harus terlihat cantik," ucapnya dengan semangat. "Cantik-cantik begini saja masih di selingkuhin," keluhnya.


"Sabar, Nona. Nanti juga dapat yang lebih baik," ucap sang supir menimpali.


"Semu laki-laki itu sama saja, Paman. Buaya," cibirnya.


"Saya beda, Nona. Saya manusia," canda sang supir.


Anaya mencibir dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra. Liburan beberapa bulan di luar negeri menghabiskan uang ratusan juta dengan harapan dia bisa melupakan pengkhianatan kekasihnya. Dia berhasil untuk tidak menangis tetapi tak berhasil melupakan rasa sakit itu.


Sampai di gedung pencakar langit, gadis itu turun.


"Ini, Paman. Sisanya ambil saja," sambil menyedorkan uang lima puluh ribuan.


"Nona, ini kurang. Bagaimana saya mengambil sisanya?" protes sang supir.


"Uang saya hanya segitu, Paman. Sudahlah, ikhlaskan. Anggap saja menyumbang," pamitnya. "Bye bye." Dia berjalan setengah berlari dan masuk ke dalam gedung pencakar langit tersebut.


Sang supir geleng-geleng kepala salut. Ada-ada saja gadis itu. Dia pikir memberikan uang lebih ternyata malah kurang.

__ADS_1


.


.


Anaya masuk ke dalam lift dengan nafas tersengal-sengal. Dia panik sambil menekan tombol lift. Sesuai arahan resepsionis dia harus langsung menghadap boss pemilik perusahaan ini.


"Semoga boss-nya baik hati dan tidak suka mengomel seperti di novel-novel." Gadis itu komat-kamit seperti dukun baca mantra dan berharap jika boss+nya adalah orang yang baik hati.


Pintu lift terbuka, gadis itu segera keluar dari dalam lift. Dia berjalan sambil sesekali menghembuskan nafasnya kasar. Jantungnya berdebar kencang, tak lupa name tag yang diberikan resepsionis tadi bergantungan di saku bajunya.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Anaya.


Riu mengangkat pandangannya dan menatap gadis tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Nona Anaya?" tebaknya.


"Iya, Tuan. Saya Anaya," sahutnya dengan senyuman semanis mungkin.


Riu menghela nafas panjang. Bossnya sudah mengomel karena gadis ini terlambat entah hukuman apa nantinya yang akan di berikan oleh tuan-nya pada gadis tersebut.


"Kenapa terlambat Nona?" tanya Riu mendesah pelan.


"Saya kesiangan ehh salah tadi macet, Tuan," sahut Anaya menepuk bibirnya yang salah bicara.


"Iya, sudah. Ayo ikut saya masuk, Nona," ajak Riu.


Anaya mengangguk lalu mengikuti Riu yang masuk ke dalam ruangan boss-nya. Gadis itu berkeringat dingin karena gugup dia sudah membayangkan wajah boss-nya yahh menyeramkan seperti di novel-novel.


"Selamat pagi, Tuan. Ini sekretaris baru Anda," lapor Riu membungkuk hormat.


Pria yang tengah sibuk dengan pekerjaan tersebut mengangkat kepalanya dan seketika pandangan mereka bertemu.


'Oh my God, kenapa bisa?' batin Anaya mengelus dadanya.


Alta memincingkan matanya serta menatap gadis itu dengan penuh selidik. Dia tampak berpikir sejenak, di mana dia bertemu gadis itu. Alta membulatkan matanya sempurna, gadis itu adalah wanita yang pernah minta antar padanya saat dia menyewa bandara ketika mengejar Alan yang hendak berangkat ke Sidney.


"Kau...." Alta langsung berdiri dari duduknya.


"Perkenalkan Tuan saya Anaya, sekretaris baru Anda," sahut Anaya dengan cepat sebelum lelaki itu mengamuk.


"Kau gadis penyewa itu?" Alta memincingkan matanya curiga.


"Bukan, Tuan. Saya hanya menumpang," sahut Anaya tersenyum seraya menampilkan rentetan gigi putihnya.


"Alah, sama saja," cetus Alta. "Jadi kau yang akan menjadi sekretarisku?" tanya Alta menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Mohon bimbingannya. Saya baru pertama kali bekerja," jawab Anaya jujur.


"Berapa persen progres-mu?" tanyanya kembali duduk.


"Belum ada, Tuan."


Mendengar jawaban Anaya, Alta sontak melihat gadis itu dengan kening mengerut. Padahal dia meminta Riu mencari sekretaris yang memiliki pengalaman kerja minimal satu tahun tetapi gadis ini bahkan baru pertama kali bekerja.


"Apa motivasimu bekerja?" tanya Alta menatap gadis itu serius.


"Mencari uang, Tuan," jawab Anaya jujur dengan senyuman tanpa dosa.


Alta menggeleng kepalanya salut. Sepertinya dia harus memikirkan kembali menjadikan Anaya sekretarisnya. Apalagi perusahaan besar seperti ini butuh seseorang yang kompeten tetapi gadis di depannya ini sama sekali tidak sesuai dengan kriteria karyawan yang dia mau.


"Riu, berikan dia tugas," titah Alta.


"Baik, Tuan."


Riu mengambil beberapa berkas di atas meja lalu memberikannya pada Anaya.


"Ini, Nona. Silakan di kerjakan," ucap Riu.


"Sebanyak ini?" tanya Anaya keberatan, berkas itu menumpuk dan lagi dia belum tahu sama sekali apa yang harus dia kerjakan.


"Kerjakan berkas-berkas itu buat laporan sesuai contoh yang ada di dalamnya," jelas Alta. "Saya berikan waktu tiga hari, jika dalam waktu tiga hari tidak selesai maka kau di nyatakan gugur menjadi sekretarisku dan sebaliknya jika kau berhasil, kau akan mendapatkan bonus dan beberapa fasilitas dari perusahaan," jelas Alta.


Anaya mencebik kesal. Bahkan tanpa di jelaskan dia harus mengerjakan berkas yang sudah menggunung tersebut.


"Bagaimana apakah Anda keberatan Nona Anaya?" Alta tersenyum licik. Dia ingin balas dendam pada gadis ini karena sudah menjadikan dirinya seperti supir taksi.


"Tidak, Tuan," kilah Anaya. Padahal dalam hati sudah menyumpahi lelaki tersebut.


"Iya sudah. Silakan kerjakan," ucapnya tersenyum licik.


"Iya, Tuan," sahut Anaya malas.


"Riu, tunjukan meja kerjanya!" suruh Alta.


"Baik, Tuan," sahut Riu.


"Mari, Nona," ajak Riu.


Anaya mengikuti langkah kaki Riu dengan wajah kesalnya. Mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra. Dalam hati sudah mengumpati boss-nya tersebut. Padahal Anaya berharap mendapatkan boss baik hati seperti di drama Korea dan berakhir jatuh cinta padanya. Memang benar hidup ini tak seindah itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2