Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Aerin memasukan barang-barang mereka ke dalam koper dan di bantu oleh si kembar. Wanita ini sama seperti dulu, dia tidak membiarkan orang lain masuk ke dalam kamar mereka yang menurutnya sangat privasi dan tidak boleh di masuki oleh orang lain.


"Daddy, masih sakit?" tanya Shena mengurut-ngurut lengan Alan. Sedangkan ketiga pria kecil itu membantu Aerin.


"Tidak, Girl. Daddy sudah sembuh," sahut Alan mengusap kepala anak perempuannya itu.


"Kalau sakit, bilang Nana ya, Dad. Nana 'kan calon doktel!" seru gadis kecil tersebut.


Alan terkekeh pelan. Jika ketiga kakaknya bercita-cita ingin menjadi pengusaha seperti sang ayah maka berbeda dengan Shena yang ingin menjadi relawan kedokteran. Melihat dokter-dokter di rumah sakit yang mengobati penyakit ayahnya, gadis kecil itu tertarik dan merasa bahwa menjadi dokter adalah pekerjaan yang menyenangkan karena bisa menyembuhkan orang sakit.


Setelah bersiap-siap ke-lima orang itu keluar dari kamar mereka. Tampak di sana semua anggota keluarga sudah menunggu. Termasuk Robson dan Ratih serta Christoper dan Alta. Ada Agam bersama Yoas dan Yoel juga.


"Sudah siap semuanya, ayo," ajak Christoper.


"Iya, Dad."


Mereka masuk ke dalam beberapa mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Tentu saja Christoper memberikan pengawalan yang ketat untuk keluarga besarnya karena dia tidak mau ada penyusup yang mengusik kehidupannya lagi. Christoper memiliki banyak musuh karena persaingan di dunia bisnis dan banyak sekali orang-orang yang ingin menghancurkannya.


"Kenapa, Sayang?" Alan melirik istrinya.


"Aku memikirkan Daddy. Kasihan," sahut Aerin bersandar di bahu suaminya.


Selama ini Aerin memperhatikan ayahnya tersebut. Christoper memang tampak murung tak seperti biasa. Tak ada orang yang baik-baik saja ketika melihat seseorang yang sangat dia cintai bahagia bersama orang lain, apalagi berada di depan. Tetapi diapun tak bisa berbuat banyak karena dia tak mungkin mengatur kehidupan orang tua nya. Jujur saja Aerin mendambakan kehidupan keluarga bahagia seperti yang lainnya. Tetapi dia sadar diri, bahwa hidup ini harus berdasarkan skenario yang sudah di atur oleh Sang Pencipta Takdir.


"Semua sudah berlalu, Sayang. Biarkan Bunda bahagia bersama Ayah Robson. Suatu saat Daddy juga akan menentukan kebahagiaan bersama anak dan cucu-cucu-nya," jelas Alan.


Menurut Alan kisah percintaan mertuanya sangatlah rumit. Setelah sekian lama berpisah lalu di pertemuan kembali tetapi dalam bentuk kehidupan yang berbeda. Cinta segitiga yang ada di antara tentu akan sangat menyakitkan. Tetapi dia takut dengan keputusan Ratih yang mempertahankan Robson yang notabene orang baru dalam hidupnya. Sedangkan Christoper adalah lelaki yang dia cinta sejak puluhan tahun hingga memiliki dua buah hati. Tetapi kembali lagi pada takdir, terkadang orang-orang memiliki cara pandang tersendiri untuk mengatasi masalahnya.


"Iya, Bby. Aku berharap Daddy bahagia dan tidak meratapi kepergian Bunda," sahut Aerin. "Bby, nanti kita tinggal bersama Daddy saja ya. Aku tidak tega meninggalkannya. Apalagi kalau Kak Alta menikah, siapa yang akan mengurus masa tua Daddy," pinta Aerin.


Alan tersenyum dan mengangguk, "Iya, Sayang. Kita akan ajak Ayah dan Ibu juga tinggal bersama tahu. Aku anak tunggal kalau bukan aku siapa lagi yang akan mengurus mereka," jelas Alan. Sebagai anak tunggal, dia harus berbakti pada kedua orang tua nya. Apalagi sekarang sang ayah belum juga sembuh di masa kelumpuhan lnya.

__ADS_1


"Iya, Bby. Aku tidak keberatan mengurus mereka. Bukankah tugas kita sebagai seorang anak memang mengurus mereka di masa tua?" tukas Aerin.


"Aku juga rindu Ayah Rollies, apa kabar dia?" lirih Aerin.


"Nanti kita temui dia ya," sahut Alan mengusap kepala istrinya.


"Iya, Bby. Aku tidak sabar ingin sampai ke Indonesia. Aku rindu sekali suasana di sana," ungkap Aerin.


"Apa kita kembali ke rumah kita saja?" saran Alan.


"Boleh, Bby."


.


.


Penerbangan yang panjang dan cukup lama tersebut telah membawa mereka sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.


Tampak Agam dan Alta berjalan berdampingan. Kedua pria itu menampilkan wajah yang sama yaitu dingin tanpa ekspresi. Tak ada yang tahu apa yang sedang mereka pikirkan saat ini.


"Jangan lupa kau juga saudaraku," ucap Agam dingin.


"Saudara tiri," cetus Alta.


Agam memutar bola matanya malas. Dia sebenarnya tidak terima kenapa bisa menjadi saudara tirinya?


"Tatap saudara namanya," sahut Agam.


"Walau saudara kau adalah sainganku." Alta menatap lelaki itu jenggah.


"Iya dan aku menunggu pesaingan itu." Agam membalas dengan senyuman meledek.

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam mobil. Walau seperti anjing dan kucing yang suka saling sindir-sindiran tetapi jika masalah Aerin, keduanya sangat kompak menjaga dan melindungi adiknya tersebut.


"Hem, aku tidak menyangka jika kau adalah kakak Aerin! Kenapa bisa kau ya?" Agam sedikit terkekeh. Bahkan dia pernah berkeinginan untuk membalaskan perbuatan Alta dengan.


"Dih." Alta mendelik kearah Agam. "Memang kau pikir pantas menjadi kakak sambung adikku?" sindir Alta.


"Tentu saja pantas. Secara aku baik, tampan dan jangan lupa kaya raja!" seru Agam mengedipkan matanya jahil sambil tertawa lebar.


Alta merenggut kesal seperti Zanka yang suka sekali mengomel. Sedangkan Agam mirip Shaka yang kadang dewasa dan dingin tetapi kadang seperti anak-anak.


Sementara Yoas dan Yoel yang satu mobil dengan kedua saudara tiri tersebut hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemes.


"Hem, aku titip Mommy," ucap Alta memecahkan keheningan.


"Memangnya kau ingin kemana?" Alis Agam saling bertaut sembari menatap saudara tirinya.


"Tentu saja aku tinggal bersama Aerin dan Alan. Kau ini bagaimana sih?" gerutu Alta saat Agam tak paham.


"Ck, kenapa tak bisa baik-baik? Kau ini sensi sekali, apa kau sedang dapat tamu bulanan?" ledek Agam.


Alta melipat kedua tangannya di dada dan menatap Agam jenggah. Sebenarnya dia ingin membawa ayahnya pergi jauh agar tidak larut dalam kesedihan. Tetapi Aerin malah melarang dan meminta Christoper dan Agam tinggal bersamanya dengan Arkin dan juga Bella. Sementara Ratih dan Robson akan di urus oleh Agam, kebetulan dia belum menikah.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki pekarangan rumah Alan. Rumah yang dulu dia belikan khusus untuk Aerin. Suasana rumah tersebut tak berubah sama sekali. Interior di luar dan di dalamnya masih sama. Bahkan warna catnya juga tak berubah meski sudah berlalu selama kurang lebih 5 tahun.


Alta menatap bangunan tersebut. Disini pertama kali dia melihat Aerin duduk di bangku taman bersama beberapa pelayan yang menemaninya. Saat itulah di tahu jika Alan menikah secara diam-diam dengan Aerin.


Seketika Alta terdiam mengingat Anne. Walau bagaimanapun wanita itu adalah adiknya dan dia sangat menyanyangi Anne. Tetapi sekarang Anne sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.


"Kau baik-baik saja?" Agam menepuk bahu Alta ketika lelaki itu terdiam sambil melamun.


"Iya," jawab Alta singkat, padat dan jelas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2