
Aerin membantu suaminya naik ke atas ranjang. Kondisi Alan memang sudah pulih tetapi dia perlu istirahat rutin agar dirinya cepat sembuh.
"Pelan-pelan, Bby," ucapnya.
"Terima kasih, sayang," balas Alan sambil bersandar hoadboard tempat tidur.
Aerin naik keatas ranjang lalu menyimak selimut mereka dan mendekat kearah suaminya.
"Sini, Sayang. Peluk aku," pinta Alan melambaikan tangannya agar sang istri mendekat padanya.
"Tapi dadamu nanti sakit?"
"Tidak, sudah sembuh," sahut Alan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Iya, Bby." Aerin melingkarkan tangannya di perut Alan.
Keduanya saling memeluk dan meresapi pelukkan hangat tersebut. Lima tahun yang boleh terlewati tanpa sebuah pertemuan tentunya banyak rindu yang ingin tersampaikan. Apalagi keduanya sudah memiliki buah hati yang tumbuh mulai tumbuh dan berkembang.
"Sayang," panggil Alan.
"Iya, Bby?" Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat wajah sang suami.
"Terima kasih ya. Aku masih tak menyangka jika saat ini kita kembali bersama," ungkap Alan dengan mata berkaca-kaca. Sekarang dia menemukan tujuan dan arti hidupnya.
"Aku yang harus berterima kasih karena Hubby sudah menyelamatkan aku dan anak-anak dan bahkan rela tertembak demi melindungi kami," sahut Aerin dengan suara serak juga. Mengingat kembali kekejaman Anne membuat jiwanya terasa tergoncang, apalagi tuduhan wanita itu padanya.
"Kau tahu, Sayang? 15 tahun aku hidup dalam kurungan dunia yang gelap. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk melawan pun aku tak bisa," ucap Alan terdengar lirih sambil mengusap rambut panjang Aerin.
Aerin mengeratkan pelukannya di perut Alan. Aroma tubuh suaminya selalu menjadi wangi kesukaannya. Nyaman sekali memeluk pria ini. Aerin tak ingin kehilangan pelukan dan tubuh nyaman ini lagi. Dia ingin bersama Alan untuk selamanya. Hingga dia temukan akhir dari usia.
__ADS_1
"Setelah aku bertemu denganmu. Aku merasa menemukan kehidupan baru dan dunia yang baru. Terima kasih, Sayang. Aku sungguh mencintaimu." Alan membalas pelukan wanita tersebut.
Keduanya saling berpelukan di keheningan malam dan berbagi kehangatan setelah perpisahan yang panjang dan menguras air mata.
Alan adalah pria yang hidup dalam cengkeraman istri pertama dan mertuanya. Selama itu juga dia tidak bisa melawan dan berbuat apa-apa karena selalu di ancam dengan hal-hal yang mengerikan. Pertemuannya dengan Aerin mengubah semua kehidupan yang Alan jalani. Melewati malam panas bersama wanita asing dan bahkan dia belum pernah malam pertama Anne. Hasil malam itu menumbuhkan benih di rahim wanita tersebut, hingga dia mencari Aerin dan menikahi istrinya.
Alan bahagia, Aerin seperti cahaya yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi hidupnya. Dia seperti menemukan harapan untuk hidup lebih lama dari biasanya.
"Aku berjanji, setelah ini tidak akan ada lagi yang memisahkan kita, Sayang. Aku akan pastikan kalian akan bersamaku." Alan mengecup kepala istrinya.
Aerin mengangguk lalu membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu. Pelukan yang sudah lama hilang dari hangatnya tubuh Aerin. Nyaman, tenang dan merasa terlindungi. Semoga kali ini kebahagiaan berpihak padanya. Semoga kali ini Tuhan memberinya bahagia, sekali saja. Sejak kecil dia sudah harus hidup dan menghadapi kekejaman dunia seorang diri. Sekarang dia tidak mau kehilangan hal tersebut.
Keduanya terlelap di dalam keheningan dan kehangatan malam bersama lampu temaram yang menjadi saksi bisu bahwa kedua insan yang pernah terpisah itu, kini kembali bersama merajut kasih dalam mimpi serta asa.
.
.
"Iya, Son?" Christoper memalsukan senyumnya. Semburat wajah terluka itu terlihat jelas.
"Kau baik-baik saja?" Alta mengusap bahu ayahnya seolah sedang menyalurkan kekuatan.
"Daddy, baik-baik saja," kilah Christoper lalu menatap kosong ke depan.
Alta memahami perasaan terluka ayahnya. Tetapi dia pun paham bahwa sekarang semua tak lagi sama. Sang ibu memang takkan bisa kembali bersama mereka di kehidupan masa depan.
"30 tahun berpisah. Daddy berharap masih bisa bersama Mommy. Tetapi takdir berkata lain." Christoper menunduk meresapi semua perasaan sakit yang kini menyeruak masuk ke dalam rongga dadanya.
"Aku mengerti perasaanmu, Dad." Alta mengusap lengan ayahnya. "Daddy tidak perlu khawatir, aku akan selalu ada untukmu. Ada Baby A juga. Kami akan menemani masa-masa tuamu," tukas Alta.
__ADS_1
"Terima kasih, Son." Christoper lagi-lagi hanya bisa tersenyum menutupi luka yang masih basah di dalam sana.
Keduanya kembali dalam lamunan seolah sibuk dengan pikiran masing-masing. Kehidupan bahagia yang mereka dambakan kini telah hangus. Dua wanita yang dulu mereka cari-cari keberadaannya telah menemukan menjaga masing-masing. Siapa yang bisa di salahkan? Beginilah cara takdir bekerja memporak-porandakan kehidupan yang tak di inginkan oleh insannya.
Namun, bukankah kehidupan akan terus berjalan dengan atau tidak adanya orang-orang terkasih di sekitar mereka? Tidak perlu di sesali dan di renungkan, akan ada fase menerima semua dengan lapang dada.
"Setelah Alan sembuh, kita langsung pulang ke Indonesia," ucap Christoper.
"Iya, Dad," sahut Alta. "Ya sudah, Daddy istirahat saja. Ini sudah tengah malam," ucap Alta.
"Iya, Son. Kau juga," balas Christoper.
Christoper masuk ke dalam kamarnya. Hampa, kosong. Selamanya dia akan hidup dalam kesepian dan kesendirian sepanjang masa hingga asa datang menjemputnya pergi. Akibat keegoisan Keuda orang tua nya. Dia menjadi korban. Dia menjadi sasaran. Kebahagiaan yang dia idam-idamkan akan menjadi miliknya, kini hilang bersama rasa sakit yang tertanam di dalam sana.
Christoper duduk di bibir ranjang. Tatapan matanya tertuju ada foto kenangannya bersama sang mantan istri, sebenarnya mereka belum bercerai. Tetapi setelah sampai ke Indonesia, Christoper akan mengurus semua surat perceraiannya dan melepaskan Ratih hidup bahagia bersama lelaki yang telah menjaganya selama dia tidak ada.
"Ratih," lirihnya.
Christoper mengusap wajah Ratih yang terdapat di dalam sana. Seandainya waktu bisa di ulang kembali, dia tidak akan pernah membiarkan istrinya pergi. Dia akan lebih berani untuk memperjuangkan kisah cinta mereka. Namun, nyatanya dia telah di kalahkan oleh keegoisan orang tua dan kebodohannya sendiri.
"Maafkan aku, Ratih." Kata maaf itu masih terus terucap di mulut Christoper.
"Aku yang membuatmu pergi," ucapnya penuh penyesalan.
"Ratih, apa kau tahu? Perasaanku tak pernah berubah selama 30 tahun ini! Aku selalu menanti hari-hari di mana kita di pertemukan kembali. Namun, ternyata Tuhan memiliki rencana untuk kita. Aku melihatmu bahagia bersama pria lain. Sedangkan aku, aku masih betah dalam kesendirian memikirkanmu yang takkan kembali padaku lagi."
"Aku pikir melupakanmu bukan hal yang sulit. Tetapi saat aku mencoba untuk tak ingat, kau selalu ada di bayangan mataku."
"Rasanya sulit sekali menjalani hidup ini tanpamu. Tetapi apa yang bisa ku perbuat? Kau sudah bukan milikku lagi. Aku tak bisa merayu Tuhan agar mengembalikanmu padaku."
__ADS_1
Bersambung.....