
Aerin melepaskan pelukan sang ayah. Nyaman sekali rasanya di peluk oleh pria tersebut. Padahal dulu dia sangat takut pada Christoper, apalagi ketika mengingat sang ayah memukul wajah suaminya. Rasanya Aerin ingin lupa ingatan agar bayangan itu tidak melintas di kepalanya.
"Maafkan Daddy," ucap Christoper mengusap pipi basah Aerin. Dia masih merasa berada di dunia mimpi ketika di pertemukan dengan putri kecilnya yang sudah terpisah selama puluhan tahun.
Aerin menatap Christoper sepuasnya. Hatinya memang hangat dan nyaman saat berada di dekat pria ini. Tetapi Aerin tak pernah menyadari ini ketika pertama kali bertemu Christoper karena yang ada di pikirannya hanya rasa takut saja.
"Daddy," renggek Aerin. "Aku rindu, aku merindukanmu, Dad. Kau tahu? Aku tak pernah baik-baik saja selama ini. Aku hancur karena keadaan. Aku di hempaskan oleh kenyataan. Aku kehilanganmu sudah sangat lama, bisakah kau berjanji untuk kali ini jangan tinggalkan aku lagi? Aku, aku takut menghadapi kekejaman dunia yang seakan ingin membunuhku?" pinta Aerin.
Ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya, tak semua. Tak semua seberuntung itu. Mungkin Aerin adalah salah satunya. Selama 30 tahun hidup tanpa figure seorang ayah kandung walau Rollies sanggup memberikan kasih sayang melimpah. Namun, tetap ada ikatan yang tak bisa mengikat keduanya.
Air mata Christoper lagi-lagi luruh. Pria kejam dan tak memiliki perasaan itu, seketika luruh saat melihat tatapan rapuh dari bola mata putrinya.
"Dad, bisakah kau berjanji?" Aerin menatap mata Christoper seraya mengenggam tangan hangat sang ayah.
Christoper mengangguk, "Daddy berjanji, Sayang. Daddy tidak akan pergi lagi. Daddy akan menebus semua kesalahan Daddy. Sekali lagi maafkan Daddy," ucap Christoper.
"Hiks hiks hiks hiks hiks."
Ayah dan anak itu kembali saling memeluk dan bertangsian satu sama lain. Pertemuan yang di nantikan selama kurang lebih 30 tahun kini terbayarkan. Pertemuan yang tak pernah mereka bayangkan kini benar-benar mereka nikmati.
"Daddy menyayangimu, sangat."
Aerin mencoba berdamai dengan masa lalu. Dia memiliki hati lembut yang mudah tersentuh. Nyatanya semua rasa marah dan kecewa itu terbayarkan dengan rasa rindu yang merasuki dadanya. Kerinduan pada kedua orang tua nya lebih besar dari semua rasa yang ada di dadanya. Aerin tak ingin hidup sendirian, sudah cukup selama 15 tahun hidup dalam kesendirian dan kesunyian apalagi sejak Rollies menikahi Jasmine, semuanya berubah dan dia tak merasakan lagi kasih sayang yang seharusnya.
Lama Aerin menangis sambil memeluk Christoper. Bagaimanapun seorang ayah dan anak tak bisa pisahkan. Walau ada kecewa dan marah di dalam hati perasaan rindu itu takkan bisa di bohongi.
Christoper melepaskan pelukannya. Lalu mengusap pipi basah putrinya.
"Sudah jangan menangis lagi ya. Putri Daddy, wanita yang kuat," ucapnya mengecup kening anaknya itu dengan sayang.
Aerin mengangguk walau masih segugukan. Aroma tubuh sang ayah begitu lama dia rindukan, semoga Aerin selalu bersama ayahnya hingga nanti.
"Daddy, apa kita cari Bunda saja?" Aerin menghela nafas panjang. "Aku ingin sekali bertemu Bunda, aku merindukannya," ungkap Aerin yang tak mampu membendung perasaan rindunya. Dia memang marah dan kecewa tetapi dia tidak benci. Apalagi sejak menjadi seorang tentu dia paham perasaan ibunya yang terluka setelah mereka terpisah.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Daddy akan mencari Bunda," sahut Christoper.
"Dad, apa Kak Alta itu Kakak kandungku?" tanya Aerin. Jujur ketika Alta memeluknya lima tahun lalu, ada perasaan aneh yang menyeruak masuk ke dalam rongga dadanya.
"Iya, Baby A. Kak Alta adalah kakakmu, dia sangat menyayangimu," jawab Christoper seraya mengelus pipi mulus Aerin untuk menghapus air mata anaknya itu.
"Daddy, kenapa aku di panggil Baby A? Aku bukan anak kecil lagi, bahkan sekarang aku sudah punya anak kecil," protes Aerin. Sejak kemarin dirinya terus di panggil Baby A.
Christoper terkekeh, "Itu panggilan sayang Daddy dan Kakak padamu," jawabnya.
Aerin mengangguk. Seketika keduanya terdiam dan menatap kearah Alan yang masih tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit, lebih tepatnya koma. Aerin tak bisa bayangkan jika dia kehilangan Alan selamanya, mungkin dia tidak mau hidup karena dia benar-benar mencintai lelaki itu. Sudah cukup perpisahan 5 tahun yang menyiksa dalam dada. Sekarang dia ingin minta bahagia, sekali saja.
"Dia pasti sembuh," ucap Christoper mengusap bahu anak perempuannya. "Daddy akan meminta pengobatan terbaik agar Alan cepat pulih," sambungnya.
Aerin tersenyum simpul lalu mengenggam tangan suaminya. Dia tatap sepuasnya wajah sang suami dengan tatapan sendu dan penuh kerinduan.
"Hubby, bangun. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu," ucap Aerin lirih dia menepuk-nepuk punggung tangan Alan.
.
.
"Oma."
"Hai cucu, Oma." Ratih berjongkok menyambut pelukkan ketiga cucu kembarnya.
Ketiga bocah itu memeluk Ratih dengan sayang. Mereka sangat menyukai sifat lemah lembut Ratih yang mirip dengan sang ibu Aerin.
"Papa, dia siapa?" tanya Shena yang masih belum tahu.
"Girl, dia adalah Oma. Ibu-nya Mommy," jelas Yoel.
"Oma?" ulang Shena yang tampak bingung terlihat dari keningnya yang mengerut.
__ADS_1
Lalu Agam berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil berwajah cantik yang sangat mirip dengan Aerin, adik tirinya.
"Sayang, itu adalah Oma dan ini Uncle, kakaknya Mommy," jelas Agam tersebut.
"Apa Uncle dan Mommy saudara sepelti Nana dan Kakak?" tanyanya polos.
"Iya, Sayang," sahut Agam.
Shena mengangguk seolah paham. Dia menatap kearah Robson dan Ratih secara bergantian.
Ratih juga menatap Shena. Air mata wanita itu tak terbendung, Shena benar-benar mirip dengan Aerin ketika kecil.
"Cucu-ku." Ratih mengulurkan tangan agar Shena menyambut pelukannya.
"Oma."
Shena mendekat kearah Ratih. Dia tatap wajah wanita paruh baya itu.
"Oma milip sama Mommy," ucap Shena.
"Iyalah, Nana. Oma kan ibu-nya Mommy," sahut Zanka geleng-geleng kepala mendengar ucapan adiknya.
"Tapi kenapa Kakak tidak milip Mommy?" cetus Shena dengan wajah kesalnya.
"Ck, Kakak itu mirip Daddy," jawab Zanka sambil menyisir rambutnya ke belakang. "Tampan dan berwibawa serta calon pria masa depan," ucapnya dengan mengedipkan mata jahil kearah Shena.
Mereka terkekeh pelan mendengar perdebatan kedua kakak beradik tersebut. Lalu Shena kembali fokus pada Ratih dan tersenyum melihat wajah sang nenek.
"Sini, peluk Oma, Sayang."
Shena menyambut pelukan Ratih, walau gadis kecil itu masih belum paham jika mommy-nya memiliki seorang ibu. Bahkan gadis kecil itu mungkin tak mengerti sama sekali jika di jelaskan, apa sebenarnya yang sudah di lewati oleh ibunya.
Bersambung....
__ADS_1