
"Tuan, seperti nya aku harus memakai lipstik supaya wajahku tidak pucat," ucap Aerin izin pada agam.
"Tidak perlu Aerin. Kau sudah cantik," sahut Agam tersenyum. Di mata Agam tanpa apapun Aerin tetaplah wanita cantik.
"Tapi nanti, Anda malu, Tuan," sahut Aerin tak enak hati. Bukankah penampilan adalah tolak ukur agar orang menghargai kita.
"Saya tidak malu. Sudah, ayo," ajaknya.
Agam dan Aerin keluar dari area toilet dengan Aerin yang menggandeng tangan Agam. Sedangkan wajah Agak tersenyum manis dan tampak bahagia. Ini adalah kesempatan dia untuk meluluhkan hati Aerin. Sebelumnya wanita ini tak pernah mau akrab dengan nya, meski dengan alasan apapun.
"Tuan, saya malu," bisik Aerin.
"Tenang saja. Saya ada disini untuk mu," sahut Agam menepuk punggung tangan Aerin yang memeluk lengannya.
Semua mata tertuju pada mereka berdua. Banyak yang menganggumi kecantikan Aerin, dia benar-benar cocok bersanding dengan Agam. Keduanya seperti pasangan didunia dongeng.
"Wahh, apakah itu kekasih Tuan Agam?" bisik yang lainnya.
"Iya cantik sekali. Tapi sayang wajahnya pucat seperti itu. Apa dia sakit?" sambung yang lain nya.
Agam seolah menulikan telinganya ketika mendengar bisik-bisik para tamu undangan padanya. Bagaimanapun kondisu fisik Aerin, dia tetap menyukai wanita itu apa adanya? Agam tak tertarik dengan kecantikan Aerin, tapi dia menyukai kepribadian wanita keras kepala seperti Aerin. Menurut nya wanita seperti ini lah yang wajib diperjuangkan serta pertahankan. .
Berbeda dengan Aerin yang sudah berkeringat dingin. Selain gugup, perut nya juga kembali mual. Rasanya wanita itu ingin berlari ke toilet. Namun, dia tidak mau mengacaukan acara Agam.
"Apakah ini kekasih Tuan Agam, dia cantik sekali?" puji Ru, salah satu teman bisnis yang mengadakan acara ulang tahun tersebut, di mana ayah nya yang bertambah usia hari ini.
"Oh ya perkenalkan Aerin. Calon istri saya," ucap Agam dengan bangga.
Mata Aerin membulat sempurna. Beberapa kali wanita itu mengerjabkan-ngerjabkan matanya ketika mendengar Agam memperkenalkan dia sebagai kekasih dari lelaki tampan tersebut.
"Tuan," bisik Aerin.
Agam malah tersenyum ketika melihat wajah gugup Aerin. Sumpah demi apapun wanita ini sangat menarik perhatian nya. Baru kali ini dia tergila-gila pada seorang wanita. Dulu dia tidak tertarik karena memang tidak ada yang menarik. Sekian lama bersama Aerin dalam dunia pekerjaan, akhirnya benih-benih perasaan tumbuh memekar dihati lelaki tampan tersebut.
__ADS_1
"Sayang, perkenalkan ini Tuan Ru," ucap Agam.
"Aerin,"
"Ru,"
Alan memalingkan wajahnya kesembarangan arah. Hatinya benar-benar panas meluhat Aerin memeluk lengan Agam. Keterlaluan sekali wanita ini. Seenaknya memeluk tangan pria lain.
"Hai perkenalkan aku, Anne," ucap Anne memperkenalkan dirinya pada Aerin.
"Aerin," sambut Aerin.
Aerin terkejut ketika melihat Anne memeluk lengan Alan. Baru saja tadi lelaki itu memeluk nya dan mengatakan bahwa Aerin adalah miliknya, tapi sekarang lelaki itu malah bergandengan tangan dengan wanita lain. Aerin tidak tahu saja, jika wanita yang memeluk lengan Alan adalah istri dari pria tersebut.
"Kau sangat cantik, Aerin," puji Anne.
Anne benar-benar menganggumi kecantikan Aerin. Tanpa make up saja wajah wanita ini bersinar. Apalagi kalau di polesi dengan make up mahal, mungkin Anne bisa jatuh cinta sebagai wanita pada Aerin yang sesama jenis dengannya.
"Anda juga cantik, Nona," puji Aerin tanpa melihat Alan yang menatapnya.
"Seperti nya Anda lebih tua dari saya, bagaimana kalau saya panggil Kak Anne saja?" saran Aerin. Wanita ini memang selalu sopan pada lebih tua dari nya.
"Bagaimana menurut mu saja," sahut Anne.
Alan merenggut kesal. Dalam hati lelaki itu sudah mengumpat berbagai macam umpatan. Ingin rasanya dia menarik tangan Aerin dan membawa wanita itu pergi dari sana. Dia tak suka melihat wajah Agam yang seperti bahagia dipeluk oleh Aerin.
.
.
.
"Kenapa terdiam?" tanya Agam melirik Aerin yang tampak melamun. "Apa perutmu masih sakit?" tanya nya.
__ADS_1
"Tidak," kilah Aerin. "Tuan, kenapa Anda mengaku bahwa saya kekasih Anda?" tanya Aerin heran.
Agam malah tersenyum. Aerin ini memang berbeda. Jika wanita lain akan bahagia jika diakui sebagai kekasih oleh nya. Maka berbeda dengan Aerin yang tampak tak suka. Padahal tak ada yang kurang dari dirinya. Dia pria tampan dan kaya raya. Tentu nya menjadi incaran para wanita yang berlomba-lomba untuk menjadi kekasihnya. Namun, lihatlah Aerin wanita ini malah biasa saja. Terkadang Agam suka membandingkan diri nya dengan Jo, mantan kekasih Aerin yang biasa saja. Bahkan tak memiliki apapun, tapi Aerin bisa nencintai lelaki seperti itu.
"Kenapa kau tidak suka?" tanya Agam setengah terkekeh sambil menggoda.
Aerin hanya tersenyum kaku. Bukan tak suka dia merasa tak nyaman. Agam bukan pria biasa, tentu saja kalau dekat dengan lelaki itu memiliki resiko yang tinggi. Apalagi Agam termasuk lelaki yang menjadi incaran para wanita.
"Mau ke rumah sakit?" tawar Agam.
"Tidak Tuan, saya sudah baik-baik saja," balas Aerin.
Agam menepikan mobilnya.
"Lho, kenapa Tuan?" kening Aerin berkerut heran.
"Kau kedinginan," ucap Agam membuka jas nya lalu memasangkan ditubuh munggil Aerin.
"Terima kasih Tuan," senyum Aerin.
Setelah kejadian kemarin, Aerin memang sangat menjaga diri terhadap lawan jenis. Dan Jo, lelaki itu pergi tanpa berpamitan pada Aerin. Ponselnya tidak aktif dan dia hilang tanpa jejak. Entah kemana Jo pergi. Jujur saja walau kecewa Aerin masih mencintai Jo, karena lelaki itu adalah cinta pertama yang menemani dia sejak duduk dibangku sekolah. Namun, Aerin tak habis pikir kenapa Jo tega mengkhianati cinta yang dia berikan. Padahal Aerin memberikan apapun yang Jo mau kecuali tubuhnya.
Rasa trauma yang mendalam itu meninggalkan rasa sakit yang luar biasa bagi Aerin, sehingga dia tak percaya lagi pada ungkapan kata cinta dari seseorang.
Sampai dikediaman Aerin, Agam turun duluan. Dia membuka pintu mobil untuk wanita tersebut.
"Ya sudah, langsung istirahat. Jangan begadang. Tidak baik untuk kesehatan mu," ucap Agam mengusap kepala Aerin. Apalagi Aerin sangat pendek hanya setinggi dadanya.
Aerin mengangguk, "Terima kasih Tuan, maaf merepotkan," ucap Aerin tak enak hati, malah dia yang merepotkan Boss nya tersebut.
"Sama sekali tidak. Jika belum pulih, istirahat saja besok, jangan datang ke kantor," ucap Agam penuh perhatian.
Aerin mengangguk. Agam memang boss yang selalu peduli padanya. Tak kala lelaki itu seperti kekasih yang terkadang memberikan perhatian lebih pada Aerin. Mungkin ini dulu yang menyebabkan dia dan Jo sering bertengkar, karena perhatian Agam yang terlalu berlebihan pada Aerin.
__ADS_1
"Kalau begitu saya masuk, Tuan. Selamat malam," pamit Aerin membungkuk hormat sambil mengeratkan jas Agam yang menempel ditubuhnya.
Bersambung....