Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Menunggu


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Aerin duduk bingung di ruangan tamu. Wanita itu celingak-celinguk melihat kearah pintu masuk. Dia seperti sedang menunggu seseorang yang dia rindukan sejak hari kemarin.


"Bik, kenapa suami ku belum pulang ya?" tanya Aerin.


Bik Surti dan Yoas saling melihat satu sama lain. Sudah tiga hari Alan tidak pulang ke rumah dan Aerin sangat merindukan suaminya tersebut. Apalagi dia sedang hamil muda.


"Tuan, sedang ada perjalanan bisnis ke Bali, Nona," jelas Yoas.


"Sudah tiga hari Kak, suamiku tidak pulang-pulang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" ucap Aerin tampak gelisah. "Telepon ku tidak diangkat Kak," sambung Aerin lirih.


Wanita berusia 25 tahun tersebut, sesekali menoleh kearah pintu barangkali suaminya datang. Aerin tak sabar ingin bertemu Alan, dia ingin memeluk suaminya itu dengan erat. Ingin melepaskan semua kerinduan dalam dadanya. Dia benar-benar rindu Alan.


"Nona, jangan menangis," ucap Bik Surti mengusap bahu Nona Muda-nya tersebut.


"Bik hiks, aku merindukan suamiku," renggek Aerin sambil menangis terisak.


Sejak hamil dia sensitif dan mudah sekali merasakan hatinya rapuh hanya karena hal-hal sepele. Sejak menikah lalu pindah kerumah ini, setelah paginya Aerin tidak bertemu suami nya itu. Bagaimana dia tak rindu, semua perasaan itu mulai menggebu. Dia ingin bertemu.


Yoas menatap Aerin kasihan. Seandainya Aerin tahu dimana Alan sekarang, pasti wanita itu akan benar-benar merasakan terluka. Lelaki yang baru menikahi nya itu adalah pria beristri yang sekarang sedang menemani istri pertamanya pemotretan di Bali.


"Sabar ya Nona. Semoga pekerjaan Tuan cepat selesai, sehingga Tuan bisa pulang dan menemui Nona," ucap Yoas ikut menimpali.


Aerin bersandar manja di lengan Bik Surti, entahlah kenapa dia bisa memikirkan Alan? Bahkan setelah menikah wanita itu tidak memikirkan hal yang lain, selain suaminya. Rasa rindu yang kian menyeruak seolah menghilangkan akal sehatnya.


Yoas sengaja di tugaskan oleh Alan untuk menjaga istrinya. Sebab Alan takut jika ada yang mengawasi Yoas secara diam-diam dan hal tersebut malah membuat keberadaan Aerin ditemukan oleh keluarga Anne.


"Nona, sebaiknya Anda istirahat saja," ucap Yoas.


"Kak, aku ingin menunggu suamiku," renggek Aerin.

__ADS_1


"Saya tahu Nona. Tapi Tuan tidak akan pulang malam ini, sebab pekerjaan Tuan belum selesai," sahut Yoas. Jangan sampai Aerin begadang, bisa digantung hidup-hidup Yoas oleh Alan.


Wajah Aerin tampak lemah lesu, wanita hamil itu mengigit bibir bawahnya menahan tangis. Dia memang cenggeng, apalagi jika sudah bersangkutan dengan hati. Hatinya terlalu lemah.


"Kak, kenapa ya Hubby tidak angkat telepon ku. Apa sesibuk itu pekerjaan nya sehingga tidak mau mengangkat teleponku?" ucap Aerin sendu.


Yoas menghela nafas panjang, "Mungkin pekerjaan Tuan memang banyak, Nona. Sehingga tidak sempat memegang ponsel," jawab Yoas asal.


Aerin mengangguk paham sambil menyeka air matanya. Dia harus memahami perannya sebagai seorang istri, apalagi suaminya sedang mencari nafkah untuk menghidupi dia dan calon bayi nya.


"Ya sudah Kak, aku tidur dulu," ucap Aerin


"Nona, minum susu dulu," ucap Amy, salah satu pelayan yang juga dekat dengan Aerin.


Aerin menurut lalu mengambil gelas berisi air berwarna putih tersebut hingga tandas. Disaat kesepian seperti ini, Aerin ditemani oleh para pelayan yang melayani nya dengan setulus hati.


"Mari Nona, biar Bibi antar sampai kamar," ajak Bik Surti


Bik Surti mengantar wanita hamil itu masuk kedalam kamarnya. Aerin memang tampak rapuh, apalagi dia sedang merindukan seseorang yang ingin dia temui sejak tadi.


"Hallo Tuan, Nona sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat," lapor Yoas.


.


.


Alan duduk dengan tatapan kosong sambil menatap Anne yang sedang berlagak lengo didepan kamera. Gaya wanita itu berubah-ubah sesuai dengan perintah sang fotografer.


Anne adalah model ternama yang sedang naik daun. Karier nya seketika melejit tinggi saat menikah dengan Alan. Sebab Alan memiliki pengaruh yang besar didunia bisnis.


'Maafkan aku, Sayang. Tunggu aku pulang. Aku merindukan mu. Sangat Sayang,' batin Alan sambil mencengkram ponselnya.

__ADS_1


Dia tidak bisa menghubungi Aerin karena ponselnya disadap oleh Anne. Alan juga tahu jika Anne mengawasi segala gerak-geriknya. Itulah sebab nya dia menahan Yoas disana agar menjaga istrinya tersebut.


Selama hidup dalam sangkar Anne, Alan tak bisa bergerak bebas. Hidupnya akan terus di awasi oleh keluarga istri pertamanya itu. Bahkan untuk makan saja Alan harus hati-hati, karena hidupnya benar-benar didedikasikan pada keluarga Anne.


Alan bersyukur saat ini istrinya masih aman, meski lambat laun pernikahan nya tersebut akan diketahui. Saat itulah kehancuran akan menghadang hidup Alan. Tidak masalah Alan kehilangan semua dalam hidupnya. Asal Aerin ada disampingnya, semua akan baik-baik saja dan dunia nya akan aman. Sebab hidup Alan terasa berarti sejak dia bertemu dengan Aerin.


Alan memejamkan matanya, mencoba menahan segala sesak yang menghantam didalam sana. Bayangan Aerin terus saja terngiang dikepala lelaki itu. Seharusnya dia ada disamping Aerin, apalagi di saat-saat masa kehamilan sang istri.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Anne menatap suaminya manja. "Aku cantik tidak?" ucak nya meminta saran pada lelaki tersebut.


Alan hanya mengangguk, jika raganya berada di Bali. Maka jiwanya tinggal di Jakarta. Dia tak benar-benar bisa berpindah dari kota ke kota, hatinya tetap berada ditempat yang lama.


"Kau lapar?" tanya Anne sambil melepaskan heels nya.


"Aku masih kenyang," jawab Alan. "Kapan kita pulang ke Jakarta?" tanya Alan dingin. Sungguh dia tak sabar ingin pulang ke Jakarta.


"Setelah pemotretan, aku ingin mengajakmu liburan sekalian honeymoon, sejak menikah kita tidak pernah menghabiskan waktu berdua," ucap Anne sambil tersenyum hangat.


"Anne aku tidak memiliki waktu untuk liburan, pekerjaan ku masih banyak," sergah Alan. Kali ini dia tidak mampu lagi menahan emosinya.


"Tapi Al_"


"Aku akan pulang lebih dulu. Jika kau ingin liburan, lanjutkan saja," ucap Alan sembari berdiri dari duduknya dan melenggang pergi.


Anne merenggut kesal, begitu susah mencairkan batu es tersebut.


Alan melangkah pergi tanpa peduli dengan panggilan Anne padanya. Alan ingin segera pulang, dia benar-benar tak bisa lagi menahan rindu yang menggembang dalam dada.


'Aerin, aku pulang Sayang. Aku akan memelukmu sampai puas. Kita akan bersama, Sayang. Selamanya,'


Alan memutuskan langsung pulang ke Jakarta tanpa Anne. Dia sudah tak peduli, jika pun dia ketahuan menemui wanita lain. Alan sudah siap menanggung segala resiko.

__ADS_1


Hampir satu Minggu Alan meninggalkan istrinya tersebut, waktu yang sangat lama dan menyita rindu.


Bersambung...


__ADS_2