
"Sayang, aku punya sesuatu untukmu!" ucap Robson pada sang istri.
Ratih hanya mengangguk dan tak banyak bicara. Kacamata tebal yang bertengger di hidung mancungnya tak memudarkan kasar kecantikan wanita paruh baya tersebut.
"Ayo, Sayang," ajak Robson menggandeng tangan istrinya.
Ratih menurut dan memeluk lengan sang suami. Wanita ini sangat manja pada suaminya, apalagi Robson adalah tipe lelaki penyayang dan memperlakukan istrinya dengan baik.
"Kau sudah siap, Son?" tanyanya pada Agam yang sudah menunggu di ruang tunggu.
"Iya, Ayah," sahut Agam. "Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Agam balik sambil melirik arloji di lengannya.
"Ikut saja," sahut Robson tersenyum.
Ketiganya masuk ke dalam mobil. Ratih tak banyak bicara, bayangan Aerin masih saja terpatri di otaknya. Dia benar-benar ingin bertemu anak perempuannya itu tetapi sudah sekian tahun berlalu, belum juga ditemukan jejak kaki Aerin.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Robson mengenggam tangan sang istri.
"Aku tidak apa-apa, Sayang," jawab Ratih meyatukan tangan mereka. Lalu wanita paruh baya itu bersandar di lengan sang suami. Dia memejamkan mata meresapi rasa sakit dan juga rindu yang menggembang di dalam sana.
"Aku rindu Aerin, Kak," ucap Ratih terdengar lirih. "Aku ingin sekali bertemu dengannya," ungkap wanita tersebut terlihat rapuh dan tak berdaya. Tak ada orang yang baik-baik saja saat merasakan rindu terhadap seseorang.
Robson mengusap kepala istrinya dengan lembut, dia paham perasaan sang istri. Bagaimanapun rindu hanya akan terobati jika menemukan titik temu. Apalagi, Ratih dan Aerin berpisah sejak puluhan tahun yang lalu. Setiba saja Ratih mendengar kabar bahwa anaknya hampir di habisi oleh pria kejam seperti Christoper, meski dia tidak tahu seperti apa wajah Christoper tetapi dia begitu membenci lelaki itu.
Agam yang mendengar juga tampak sendu. Sudah lima tahun berlalu sang ibu masih saja menanyakan tentang anaknya tersebut. Jawaban Agam selalu sama, bahwa hingga kini dia tak menemukan di mana Aerin.
Hingga mobil yang membawa mereka sampai di salah satu rumah besar nan mewah.
"Lho, Ayah bukannya ini rumah lama kita?" tanya Agam.
"Iya, Son," jawab Robson.
Rumah ini adalah kenangan masa kecil Agam. Dulu dia tumbuh di rumah tersebut, rumah ini menyimpan banyak kenangan tentang dia dan almarhum ibunya. Setiap hari Agam merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan. Oleh sebab itulah Robson mengajak anak semata wayangnya pindah sampai akhirnya bertemu dengan Ratih. Lalu mereka menikah dan hidup bahagia hingga sekarang.
Agam berdiri di depan bangunan kokoh nan mewah tersebut. Dia melirik kearah taman, masih bergelantungan ayunan yang sering dia gunakan bermain bersama kedua orang tua nya. Meski sudah lama tak di tempati, tetapi rumah ini selalu di jaga oleh para pelayan yang di tugaskan oleh Robson.
"Kenapa, Son?" Robson menepuk pundak anak lelakinya.
__ADS_1
"Tidak, Ayah. Aku rindu Ibu," sahut Agam.
"Sudah jangan dikenang lagi, sekarang kita harus melangkah dan memulai hidup yang baru," ucap Robson menghibur.
Sebelum bertemu Ratih, Robson harus menjadi ayah dan juga ibu untuk putra tunggalnya. Menghibur anaknya itu saat kerinduan menyerang hati Agam.
"Kau harus kuat, Son," ucap Ratih ikut menimpali.
Wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak keberatan jika Agam sesekali membahas sang ibu, dia justru merasa kasihan pada anak lelakinya itu.
"Iya, Bunda," jawab Agam memaksakan senyum di bibirnya.
"Iya sudah ayo kita masuk," ajak Robson.
Robson merangkul bahu sang istri. Beberapa tahun terakhir kondisi tubuh Ratih menurun karena makan tidak teratur meski di awasi oleh suaminya. Memikirkan Aerin membuat Ratih lupa pada kesehatannya.
"Opa," panggil dua orang bocah menyambut mereka dengan senyuman.
Ratih dan Agam menatap dua anak kembar tersebut. Ratih bertanya-tanya siapa bocah kembar ini?
Sementara Agam mematung ditempatnya, apalagi wajah kedua bocah itu sangat mirip Alan.
"Hai Oma, perkenalkan aku Arzanka biasa di panggil Zanka. Aku anak kedua dari empat bersaudara," ucap salah satunya menyalami tangan Ratih.
"Aku Chana, Oma," sambung Chana memperkenalkan diri.
Dari arah ruangan tamu Shaka berjalan menghampiri mereka bersama Yoas dan Yoel.
Setelah perjuangan panjang yang tentunya tidak mudah. Robson berusaha menguak keberadaan Aerin, akhirnya setelah memiliki Banyan jaringan. Dia berhasil menemukan Aerin, tetapi dia tak bisa gegabah karena takut pergerakannya diketahui oleh Christoper dan Alta. Akhirnya Robson memutuskan mendekati Yoas dan meminta lelaki itu agar bisa merahasiakan bahwa dirinya sudah menemukan Aerin. Kedatangan Yoas serta ketiga anak kembar itu atas persetujuan Robson. Tentunya dia sudah memperketat penjagaan dan pengawasan terhadap ketiga cucunya tersebut.
"Sayang." Robson merangkul bahu Ratih. "Ini adalah anak-anak Aerin dan Alan."
Deg
Ratih langsung membeku ditempatnya. Dia menatap ketiga anak kembar tersebut. Meski tak mirip dengan wajah putrinya Aerin. Tetapi tatapan ketiga bocah itu seperti putri kecilnya dulu.
"Anak-anak Aerin?" ulang Ratih memastikan.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Aerin sekarang berada di Sidney, Australia. Maaf selama ini aku tidak jujur jika sudah tahu keberadaan Aerin. Aku hanya takut Christoper dan Alta menemukan mereka," jelas Robson.
Air mata Ratih luruh. Dia berjongkok menatap wajah Chana dan Zanka lalu beralih pada Shaka yang diam saja.
"Cucuku," ucap Ratih dengan air mata berlinang.
"Oma."
Zanka dan Chana langsung memeluk Ratih sambil menangis. Awalnya anak-anak itu terkejut jika selama ini sang kakek mengetahui keberadaan mereka.
"Cucuku, hiks hiks. Benarkah ini kalian?" tanya Ratih masih tak percaya sambil memeluk erat tubuh kedua cucunya.
Sementara Shaka hanya diam saja. Entah kenapa lelaki tampan dan jenius yang satu ini tampak marah dengan wajah datar dan juga dingin. Tak ada yang tahu apa yang dia pikirkan selain dirinya sendiri.
"Oma."
Zanka dan Chana juga ikut menangis, selama ini mereka kira ibu-nya tak memiliki siapa-siapa selain ayah dan ibu tirinya.
Ratih melepaskan pelukan kedua cucunya. Dia menatap dua bocah itu dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
"Mana Mommy?" tanyanya.
"Mommy tidak ada disini, Oma. Mommy ada di Sidney menjaga Shena," jelas Chana.
"Shena?" ulang Ratih.
"Arshena, saudara kembar kami. Kami kembar empat, Oma," jelas Zanka itu menimpali.
Air mata Ratih kembali luruh karena terharu. Betapa dia kagum dan benar-benar terkagum dianugerahi empat cucu kembar sekaligus. Dia semakin tak sabar untuk anak perempuannya, Aerin.
Ratih beralih pada Shaka yang diam saja. Sifat lelaki kecil ini sama seperti Agam yang kelihatan dingin dan sulit di dekati.
"Apa kau tak ingin memeluk Oma, Son?" tanyanya.
"Oma."
Shaka berhambur memeluk Ratih sambil menangis. Wajah dinginya seperti sulit di dekati, tetapi sebenarnya dia adalah lelaki penyayang yang memiliki hati lembut. Hanya saja perlu waktu untuk mengenal dan mengetahui sifat aslinya.
__ADS_1
Bersambung...