Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Terbangun


__ADS_3

Aerin mengelap tubuh suaminya dengan tissue basah.


"Mommy, kenapa Daddy tidak bangun-bangun?" tanya Shena menatap lelaki yang tertidur itu. Dia sempat terkejut ketika Aerin menjelaskan bahwa pria itu adalah ayahnya.


"Daddy masih ingin istirahat, Sayang," jawab Aerin asal sambil memaksakan senyumnya.


"Tapi lama sekali, Mom. Nana ingin mendengal suala Daddy," ucap Shena dengan mata berkaca-kaca.


Aerin memaksakan senyum tetapi matanya juga berkaca-kaca menahan lelehan bening yang sudah menumpuk dipelupuk matanya. Dia setia menemani suaminya yang masih terlelap nyaman.


"Sabar ya, Sayang. Kita berdoa supaya Daddy cepat bangun dan sembuh biar nanti bisa main sama Nana," ucap Aerin lembut sambil mengusap rambut panjang anaknya.


Shena mengangguk paham. Gadis kecil ini tak mau jauh dari ibunya dia memang manja apalagi satu-satunya perempuan.


"Mommy." Shena mengangkat kepalanya.


"Iya, Nak," sahut Aerin.


"Mommy tidak ingin bertemu, Oma?" Shena menatap ibunya serius.


Kening Aerin mengerut, "Oma?" ulangnya sekali lagi.


Wanita itu memang belum mengetahui jika sang ibu berada di Sidney. Sejak kemarin dia tidak pulang ke rumah dan menginap di rumah sakit untuk menjaga suaminya.


"Iya, Mom. Ibu-nya Mommy," jawab Shena.


Aerin tak mengerti apa yang di maksud anaknya. Tetapi wanita itu mengangguk seraya menampilkan senyum manisnya. Untuk sekarang dia tidak mau memikirkan hal yang lain. Dia hanya ingin suaminya cepat bangun dan tersenyum padanya.


"Mommy, tangan Daddy bergerak!" ujar Shena.


Aerin panik, segera dia memanggil dokter untuk memeriksa suaminya. Jantungnya berdegup kencang tak sabar.


Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan rawat inap Alan lalu memeriksa lelaki itu. Tentu saja Christoper tak mau main-main menyiapkan ruangan perawatan untuk menantunya. Jika bersangkutan dengan Aerin apapun akan dia lakukan.


Perlahan mata Alan terbuka. Lelaki itu menatap langit-langit kamar ruangan rawat inap yang terasa asing baginya.


"Hubby."


Dia terkejut ketika mendengar suara yang begitu dia kenal. Lelaki itu menoleh kearah sang istri. Matanya langsung berkaca-kaca, tetapi dia belum bisa bangun untuk memeluk wanita yang dia rindukan sejak lima tahun yang lalu.


"Hubby."


Aerin memeluk suaminya yang masih terbaring dengan tangis. Tangis haru dan bahagia yang menggema di dalam ruangan.

__ADS_1


"Hubby, aku merindukanmu sangat," renggeknya mengadukan perasaan rindunya ada sang suami.


Alan tak mampu berucap, tangan yang mengusap kepala istrinya menandakan bahwa dia juga merindukan sosok wanita ini. Bahkan Alan tak bisa jelaskan betapa dia merindukan istrinya.


"Daddy."


Shena ikut memeluk Alan, gadis kecil itu menangis terisak. Dia tidak menyangka jika dirinya memiliki ayah lain. Dia pikir, Yoas dan Yoel adalah ayahnya ternyata bukan.


Mata Alan basah, mulutnya masih kaku untuk mengeluarkan suara. Koma panjang tersebut seperti membuat raganya tak berjiwa.


"Hiks hiks hiks hiks hiks. Daddy."


\* \* \* \*


Alan tersenyum melihat ke-empat anaknya yang begitu antusias mengurut bagian tangan dan kakinya.


"Bby, makan dulu," ucap Aerin mengaduk bubur di mangkuknya.


Alan mengangguk. Lelaki itu tak bisa jelaskan betapa bahagianya dia saat ini. Dia masih belum percaya jika sekarang bertemu dengan wanita dan anak yang dia cari selama 5 tahun.


"Daddy, makan yang banyak bial cepat sembuh. Bial bisa main sama Nana!" seru Nana sambil memijit-mijit tangan Alan.


"Iya Girl," sahut Alan.


"Sayang," panggil Alan lirih.


"Iya, Bby. Kenapa? Apa lukanya sakit?" cecar Aerin.


"Iya, Dad. Di mana yang sakit?" sambung Shaka.


"Katakan pada Chana Dad, biar Chana sembuhkan," ucap Chana ikut menimpali.


"Nana, akan sembuhkan Daddy. Nana 'kan calon dokter!" sambung Nana.


"Dih, calon dokter dari mana? Melihat darah saja takut," sindir Zanka memutar bola matanya malas.


Alan tersenyum simpul melihat wajah khawatir dari istri dan anak-anaknya. Dia menatap kelima orang itu dengan tatapan penuh cinta. Keluarga adalah harta paling berharga yang dia miliki.


"Daddy tidak apa-apa, Daddy bahagia," ucap Alan dengan suara paraunya.


15 tahun hidup dalam kurungan Anne. Dalam sangkar yang membuatnya terjebak dan tidak bisa kemana-mana. Semua yang dia lakukan selalu saja di pantau oleh wanita itu. Sebelum bertemu Aerin, pria itu tak pernah merasa bahagia. Hidupnya datar dan terasa mati setiap hari. Dia menemukan kebahagiaan di pertemuan malam pertama itu, apalagi saat mengetahui jika wanita yang tidur bersamanya telah menggandung benih yang tidak sengaja dia tanam.


Lagi, di saat dirinya merasakan kebahagiaan karena telah menemukan wanita yang tepat. Mereka harus dipisahkan oleh orang-orang egois yang tak memiliki perasaan. Tak hanya sampai di situ, hidupnya terancam sang ayah mengalami stroke mendadak karena perlakuan mertua Alan.

__ADS_1


Wajar jika Alan tak percaya bahwa saat ini dia telah bertemu istri dan anaknya karena, dalam hidupnya lelaki itu tak pernah berpikir bahwa kebahagiaan akan dia rasakan.


"Daddy."


Keempat anak itu memeluk Alan dengan erat.


"Jangan sedih, Kakak akan menjagamu dan Mommy," ucap Shaka, anak sulung Aerin yang paling dewasa di usia belia.


"Chana juga," sambung Chana.


"Zanka juga, Dad," ucap Zanka ikut menimpali.


"Kalau Nana di jaga, Dad. Nana 'kan pelempuan," sambung gadis kecil itu cenggesan sambil menggaruk-garuk tengguknya yang tidak gatal.


Air mata Alan menetes karena bahagia.


"Mommy, sini peluk," pinta Shaka.


Aerin ikut memeluk kelima orang itu dengan senyuman manis. Bahagia seorang wanita itu sederhana, dia hanya cukup menjadi seorang ibu serta di cintai oleh suaminya.


.


.


"Ayah, makan dulu," ucap Bella meletakkan makanan di depan meja suaminya.


Arkin mengangguk pelan. Lelaki paruh baya itu telah melakukan berbagai terapi karena permintaan Christoper. Entah, angin apa yang membuat besan-nya itu berbaik hati padanya. Sekarang Arkin sudah bisa berbicara walau belum terdengar jelas, tetapi ada perubahan yang dia rasakan setelah melakukan berbagai macam treatment kesembuhan.


"Apakah sudah lebih baik, Ayah?" tanya Bella.


"S-su-da-h," jawab Arkin berbicara dengan suara terpotong-potong. Lidahnya belum terbiasa mengucapkan kata-kata tersebut.


"Ayah, cepat sembuh. Supaya kita bisa menyusul Alan dan cucu-cucu kita di Sidney," ucap Bella memberikan semangat.


Suaminya itu akan bersemangat jika bersangkutan dengan putra dan cucu-cucunya yang langsung mampu membangkitkan bagian syarafnya.


"I-iya, B-u," jawab Arkin tergagap.


Bella menyuapi suaminya dengan sabar dan telaten. Wanita paruh baya itu tetap setia meski sang suami lumpuh dan tak bisa kemana-mana. Baginya, hidup dan mati adalah ketika setia pada pasangan. Oleh sebab itu Bella merawat Arkin dengan perasaan cinta.


"Ayah jangan banyak berpikir yaa. Semua akan baik-baik saja, Alan dan cucu kita akan berkumpul kembali," ucapnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2