
"Bagaimana, Son?" tanya Robson pada anaknya.
Agam menggeleng. Dia sudah mencari di mana keberadaan Aerin. Namun, hingga kini tak ada jejak yang tertinggal tentang wanita tersebut. Dia hilang, seolah enggan untuk kembali. Bahkan senyuman pun tak lagi tertinggal di bibir nya.
"Apa mungkin Christoper melenyapkan Aerin?" tanya Robson.
Christoper adalah mantan rekan bisnis Robson. Lelaki itu terkenal dengan kekejaman nya dalam dunia bisnis. Sehingga tak heran jika dia menjadi salah satu pengusaha yang disegani oleh para rekan bisnisnya.
"Entahlah Ayah. Aku tidak menyangka jika Tuan Christoper sejahat dan setega itu jika sampai membunuh Aerin," sahut Agam.
Robson dan Agam bukanlah orang sembarangan, mereka memiliki pengaruh yang tak main-main dalam dunia bisnis. Tentu mereka juga memiliki kuasa. Tetapi untuk menemukan Aerin, rasanya teramat susah. Bahkan Robson sudah mengerahkan semua anak buah kepercayaan nya unyuk melacak keberadaan wanita tersebut.
"Bagaimana keadaan Bunda, Ayah?" tanya Agam. Agam merasa kasihan dengan Ratih yang tampak rapuh setelah tahu Aerin hilang.
"Seperti biasa dia hanya melamun," jawab Robson.
Robson ikut terpukul melihat istrinya yang seperti tak memiliki semangat hidup. Namun, dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Son, tetap cari keberadaan Aerin. Daddy yakin dia masih hidup. Mungkin saja dia dibawa keluar negeri. Bukankah katamu dua asisten Alan ikut hilang? Bisa saja mereka yang membawa Aerin pergi."
.
.
"Kau tampak puas, Anne?" ujar Jo terkekeh.
"Tentu, aku berhasil menyingkirkan Aerin dan sebentar lagi Alan akan menjadi milik ku seutuhnya," sahut Anne menyesap wine di gelasnya.
"Tentu. Aku sudah berhasil menyingkirkan kelinci pengganggu itu," jawab Anne dengan senyuman iblis nya.
"Kau yakin jika Ayah mu menyingkirkan Aerin?" tanya Jo sekali lagi.
Anne sontak terdiam. Dia melihat kearah Jo yang tersenyum tanpa arti. Ayah nya mengatakan kalau Aerin sudah mati dan dilenyapkan dari muka bumi ini.
__ADS_1
"Daddy tidak mungkin bohong," jawab Anne. Anen sangat yakin jika sang ayah membunuh Aerin. Sebab dia tahu betapa ayah nya itu menyayangi nya walau kerap membentak.
"Kalau benar, apa ada bukti? Mana jenazahnya? Mana kuburannya?" cecar Jo.
Anne langsung terdiam mendengar pertanyaan Jo. Kalau memang Aerin sudah dibunuh oleh ayah nya kenapa tidak ada jejak sama sekali?
"Kenapa? Kau mulai berpikir?" ledek Jo.
Anne kembali menyesap wine dalam gelasnya. Dia stress seharian karena Alan mengurung diri di diruang kerja dan tak mau bertemu Anne. Sedangkan wanita itu rela meninggalkan karirnya demi bersama Alan.
"Aku sedang stress jangan menambah beban pikiran ku, Jo," ketus Anne kembali menyesap wine tersebut.
Jo tertawa menggelora. Dia juga merasa menang jika Aerin sungguh-sungguh mati karena dia masih dendam pada mantan kekasih nya tersebut. Bila perlu Jo ingin menghibur sendiri tubuh Aerin, agar dia bisa menyaksikan penderitaan wanita tersebut.
"Kau masih yakin dengan perasaan mu pada Alan?" tanya Jo lagi. Dia suka sekali melihat wajah Anne yang frustasi.
"Tentu saja. Aku akan membuat Alan jatuh cinta padaku. Aku akan menghapus luka nya karena kehilangan Aerin," sahut Anne. Dia mulai meracau tidak jelas sambil menyebut nama suaminya.
Anne wanita cantik dan kaya raya yang kehilangan sosok teman yang mampu menghapus segala luka dan kesepian. Didikan keras sang ayah menjadikan dia wanita berambisi yang selalu mendapatkan apa saja yang dia mau. Termasuk memiliki Alan dengan caranya yang licik.
"Aku juga," balas Anne.
.
.
Alta menghela nafas panjang. Dia memikirkan ucapan sang ayah. Entah kenapa ucapan ayah nya terus terngiang dikepalanya.
"Apa benar Aerin adalah adikku? Jika Aerin adikku lalu di mana Mommy? Apa mungkin mereka terpisah?" tanya Alta pada dirinya sendiri.
Alta menatap kosong kearah jendela ruangan kerjanya. Kenapa sekarang dia malah di liputan perasaan bersalah yang teramat sangat. Padahal awalnya ia benar-benar menyiksa Aerin. Tetapi setelah melihat tatapan rapuh wanita itu, Alta merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Kakak."
__ADS_1
Alta terkejut ketika Anne masuk dengan wajah cemberutnya. Dia memang dekat dengan adiknya ini sejak kecil, hingga tak heran di usia matang pun keduanya tetap kompak saling menunjukkan kasih sayang.
"Kenapa An?" tanya Alta tersenyum hangat pada adiknya itu.
"Kak, Alan mengurung diri di ruangan. Dia tidak memperolehkan aku masuk," renggek Anne bersandar dibahu kakak nya itu.
Alta terdiam sejenak, mendengar nama Alan dia langsung teringat pada Aerin. Jika memang benar Aerin adalah adik kecilnya. Maka Alta akan sangat merasa bersalah karena sudah menyakiti adiknya tersebut.
"Kenapa bisa?" tanya Alta mengusap kepala Anne.
"Aku tidak tahu, Kak. Sejak kejadian kemarin, Alan tidak mau bicara sama sekali dan bahkan dia tak mendengar ucapan ku," sahut Anne dengan wajah cemberut nya. "Aku tidak habis pikir apa yang membuat Alan mencintai pelakor tidak tahu diri itu," ucap Anne dengan menggebu-gebu. Dia benar-benar langsung emosi ketika mengingat perselingkuhan Alan dan Aerin. Tak hanya selingkuh bahkan keduanya sudah menikah dan sebentar lagi memiliki anak. Entah sudah berapa lama Alan mendua? Padahal yang Anne tahu, Aerin adalah kekasih Agam tetapi bagaimana bisa jadi istri kedua suaminya?
"Aku benar-benar membenci wanita itu, Kak. Ingin rasanya ku remas-remas wajahnya," ujar Anne lagi.
Alta lagi-lagi terdiam. Entah kenapa dia tak suka saat Anne mengatakan hal tersebut pada Aerin?
"Kakak kenapa diam saja?" tanya Anne mengangkat pandangan nya.
"Hem, tidak apa-apa," kilah Alta.
"Kak, aku ingin Alan melupakan Aerin dan hanya mencintai ku, tolong bantu aku Kak," pinta Anne merenggek pada kakak nya itu.
Alta bingung sendiri, apa yang bisa dia bantu? Mengancam Alan dengan hal-hal mengerikan lagi! Tetap saja tak ada hasil. Contohnya ketika melenyapkan Aerin dalam kehidupan Alan, hal tersebut sama sekali tak mengubah perasaan Alan. Dia malah semakin membenci Anne.
"Apa yang bisa Kakak bantu?" tanya Alta.
"Terserah apa saja, Kak. Aku juga tidak tahu apa? Entah kenapa Alan sama sekali tidak mau belajar mencintai ku?" sunggut Anne.
Alta menghembus nafasnya kasar, sejujurnya dia kasihan pada Anne mengejar cinta Alan yang sama sekali tak mencintainya. Segala cara sudah dilakukan, tetapi hati Alan tak juga berpaut pada Anne.
"Kau tenang yaa, Kakak akan lakukan apapun untuk kebahagiaan mu," ucap Alta sambil tersenyum lebar.
"Iya Kak. Terima kasih Kak," balas Anne memeluk kakak nya dengan sayang.
__ADS_1
Mereka memang tidak memiliki hubungan darah tetapi perasaan sayang antara kedua nya sama seperti saudara kandung. Apalagi sikap Alta yang lemah lembut membuat Anne betah bersama kakaknya tersebut.
Bersambung...