
Alan bangun pagi sekali. Sedangkan Aerin masih terlelap nyaman. Sejak hamil, wanita ini tak hanya manja tetapi juga sedikit pemalas.
"Sayang, bangun," panggil Alan.
"Sudah siang ya, Bby?" Aerin duduk.
"Iya Sayang, ayo cuci muka dulu." Alan menyimak selimut mereka.
"Iya Bby."
"Aku gendong ya." Alan langsung mengangkat tubuh wanita itu.
Usia kehamilan Aerin sudah memasukkan bulan ke-enam. Jadi masa mengidamnya pun sudah berkurang hanya manjanya masih kuat.
"Bby, maaf merepotkan mu," ucap Aerin tak enak hati.
"Sama sekali tidak, Sayang. Aku ingin kau terus manja-manja padaku." Alan mencolek dagu istrinya dengan gemes.
Lima tahun berpisah meninggalkan istrinya, Alan ingin memberikan segala hal yang terbaik untuk wanita itu dan menebus semua kesalahannya
"Ehem, tidak mungkin aku manja terus, Bby. Sudah ayo cuci muka, kita harus siapkan sarapan untuk anak-anak," ajak Aerin.
Setelah mencuci muka dan gosok gigi kedua pasangan itu keluar dari kamar mandi. Seperti biasa aktivitas pagi adalah mengurus keperluan anak-anaknya sebelum berangkat sekolah.
"Sayang biar aku saja, kau tidak boleh lelah," cegah Alan saat istrinya itu hendak memasak. "Mulai sekarang, dimasa kehamilanmu jangan melakukan aktivitas berat yaa. Tugas masak biar Bibi yang kerjakan," sambung Alan.
"Tapi Bby, anak_"
"Mereka akan paham, Sayang," potong Alan. Alan tak mau istrinya kelelahan karena terlalu banyak beraktivitas dan itu juga bahaya untuk kandungannya.
Alan membantu ke-empat anaknya mandi dan tidak membiarkan Aerin mengurus anak-anak nya. Pokoknya Alan tidak mau jika istrinya itu kelelahan nantinya, dan bisa berakibat untuk bayi dalam kandungannya.
"Daddy, Kakak bisa sendiri," protes Shaka saat Alan hendak menyisir rambut anak 6 lima tahun itu. "Kakak sudah besar, Dad." Bibirnya menggerecut kesal.
"Ck, Daddy hanya menyisir rambutmu saja, Son. Kau itu masih kecil." Alan gemes sendiri dengan anaknya yang satu ini.
"Sisil lambut Nana saja, Dad."
"Sini, Sayang."
Aerin tersenyum melihat ke-lima orang itu. Tampak Zanka, Chana dan Shena yang berebutan agar rambutnya disisir oleh Alan. Sedangkan Shaka memasang kancing baju nya dan menyisir rambutnya sendiri. Lelaki kecil yang satu ini memang tidak suka dimandikan apalagi rambutnya disisir.
__ADS_1
"Kakak sini." Aerin melambaikan tangannya. Wanita itu duduk di bibir ranjang. Usia kandungannya yang sudah memasukkan bulan ke-enam itu membuatnya sedikit kelelahan dan tidak bisa bergerak bebas.
"Boleh, Mommy perbaiki baju nya, Kak?" Aerin tersenyum hangat pada putra sulungnya ini.
"Belum rapi yaa, Mom?"
Aerin mengangguk. "Sini Mommy perbaiki." Shaka menurut. Lelaki kecil itu memang selalu patuh pada ibunya.
Alan juga bersiap-siap ke kantor dan mengantar anak-anaknya.
"Sayang, aku dan anak-anak berangkat yaaa?" pamit Alan mengecup kening istrinya. "Kalian baik-baik dirumah," sambil mengusap perut buncit Aerin.
"Berhenti mengumbar kemesraan didepan kami, Dad," protes Shaka
"Iya, Daddy dan Mommy sengaja membuat kita iri," sambung Zanka.
"Chana jadi ingin menikah," ucap Chana ikut menimpali.
Sementara Shena hanya melihat saja. Gadis kecil itu bingung mau berkomentar apa.
Alan dan Aerin terkekeh bersamaan. Anak-anaknya suka cemburu kalau tidak diperhatikan. Apalagi sebentar lagi mereka punya adik, pasti kasih sayang itu akan terbagi.
"Iya Sayang. Nanti jam makan siang aku pulang kita makan siang bersama."
"Iya, Bby," sahut Aerin.
"Mommy, kami berangkat." Ke-empat anak kembar itu bergantian memberikan ciuman dipipi Aerin.
"Iya Sayang, kalian hati-hati," pesan Aerin "Kakak tolongin jagain adiknya. Jangan nakal ya, Nak," pesan Aerin pada ke-tiga putranya. Ketiganya akan menjadi sayap pelindung Shena nantinya. Apalagi gadis kecil itu yang sifat manja dan ceroboh jadi harus dijaga dengan ketat.
"Iya Mommy."
.
.
.
.
Alan membawa istrinya untuk cek kandungan. Setiap bulan Alan tak lengah, dia bahkan memiliki dokter kandungan pribadi yang ditugaskan untuk mengontrol kesehatan janin istrinya.
__ADS_1
"Sayang, pelan-pelan." Alan membantu istrinya berbaring diatas brangkar.
Ibu hamil tentu tak asing dengan tes ultrasonografi atau yang biasa dikenal sebagai tes USG. Pemeriksaan ini merupakan teknik menampilkan gambar atau citra dari kondisi bagian dalam tubuh. Alat medis ini memanfaatkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi untuk mengambil gambar tubuh bagian dalam. Misalnya, organ tubuh atau jaringan lunak.
Dalam kehamilan, tes USG menjadi prosedur pemeriksaan medis yang umum dilakukan ibu hamil. Tes USG ini bertujuan untuk memantau kesehatan ibu dan janin, serta mendeteksi ada atau tidaknya kemungkinan komplikasi selama masa kehamilan. Pendek kata, kesehatan ibu dan janin bisa diselidiki melalui prosedur ini.
Tes USG ini idealnya dilakukan ibu hamil sebanyak tiga kali selama masa kehamilan. Sebenarnya untuk kehamilan normal pemeriksaan USG memang tidak perlu terlalu sering. Sebaiknya USG ini dilakukan di usia kehamilan 10, 20, dan 30 minggu. Ini kali ketiganya Rachel melakukan tes USG untuk mengetahui perkembangan janin didalam rahim nya.
Misalnya, tes USG di trimester pertama untuk mengevaluasi keberadaan, ukuran, jumlah, dan lokasi kehamilan. Sementara itu, tes USG di trimester kedua tujuannya untuk mengevaluasi beberapa kondisi kehamilan, termasuk anatomi janin (minggu ke-18 atau 20).
Yang perlu dipahami, waktu pemeriksaan ini bisa berubah karena alasan tertentu. Contohnya, obesitas yang diidap ibu hamil yang bisa membatasi visualisasi janin. Sedangkan pada trimester ketiga, dokter akan mengevaluasi pertumbuhan janin, hingga perkiraan volume cairan ketuban.
Ingat, ibu hamil amat tidak disarankan untuk melakukan USG tanpa tujuan medis, apalagi dilakukan oleh tenaga non-profesional. Lalu, manfaat apa sih yang diperoleh dari pemeriksaan ini? Dan Rachel dikontrol dengan baik oleh dokter pribadi yang Ramos tunjuk dalam proses perkembangan janin sang Ibu.
Manfaat test kehamilan ini adalah untuk memastikan kehamilan dan lokasi janin.
Menentukan usia kehamilan.
Mengetahui jumlah janin dalam kandungan, seperti mendeteksi kehamilan kembar.
Mendeteksi kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim).
Mengidentifikasi cacat lahir pada janin.
Mengevaluasi pertumbuhan janin selama kehamilan.
Memantau pergerakan dan denyut jantung janin.
Alan dan Aerin melihat ke monitor. Tampak seperti benda bergerak.
"Perkembangan kesehatan bayi anda meningkat Nona," jelas sang dokter.
Mata Aerin kembali berkaca-kaca. Tak menyangka jika Tuhan kembali menganugerahkan dirinya bayi setelah memiliki empat anak. Aerin tak memiliki target harus punya berapa anak. Anak adalah anugerah dari Tuhan. Anak adalah hadiah dari sebuah pernikahan. Maka dari itu Aerin berjanji akan merawat serta membesarkan anak-anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Jenis kelamin nya, Dok?" tanya Alan penasaran. Dia berharap anaknya berjenis kelamin perempuan. Kalau laki-laki lagi, bisa pusing dia menghadapi kenakalan anak-anaknya nanti.
"Laki-laki, Tuan," jawab sang dokter.
Alan menghembuskan nafasnya kasar. Setelah ke-empat anak kembarnya tumbuh besar ditambah lagi satu anak laki-laki, pastilah rumahnya akan ramai dan dia harus bersiap-siap menjadi bahan uji coba anak laki-lakinya.
**Bersambung....**
__ADS_1