Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Pulang ke Indonesia


__ADS_3

Aerin berat sekali melepaskan anak-anaknya pulang ke Indonesia tanpa dirinya. Tetapi saat dia ingin ikut Yoas dan Yoel malah melarangnya.


"Mommy, jangan khawatir," ucap Shaka menenangkan sang ibu.


Aerin menghela nafas panjang, lalu menatap ketiga putranya dengan sayang. Wajah mereka benar-benar mirip, apalagi pakaian yang mereka pakai juga sama. Sangat sulit membedakan diantara ketiganya.


"Kalian hati-hati ya, Nak. Jangan lupa kabari Mommy kalau sudah sampai," pesan Aerin memperbaiki rambut ketiga anaknya secara bergantian.


"Iya Momm."


Ketiga anak kembar itu mencium pipi Aerin dengan sayang.


"Nana, hati-hati di rumah. Ingat jangan nakal dan jaga Mommy," pesan Shaka pada adik bungsunya.


"Iya Kakak," jawab Shena polos.


Gadis kecil dan satu-satunya perempuan itu tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh ketiga kakaknya.


"Ayo, Son," ajak Yoel.


Mereka masuk kedalam mobil menuju bandara.


"Ayah, perjalanan ke Indonesia kira-kira berapa jam?" tanya Chana


"Sekitar 7 jam, Son," jawab Yoas.


"Apa di pesawat boleh memainkan alat elektronik, seperti laptop, Ayah?" sambung Shaka.


"Sebenarnya tidak boleh karena bisa menganggu penerbangan. Tapi kalian tenang saja di jet Ayah bisa menggunakan alat itu," jelas Yoas tersenyum.


"Mamangnya kalian mau apa, Son?" tanya Yoel memincingkan matanya curiga. Bukan apa, ketiga anak kembar ini hobbynya membuat kasus dan masalah.


"Tidak," jawab ketiganya kompak.


"Ayah, bolehkah Shaka pinjam laptopmu?" pinta Shaka.


"Untuk apa, Son?" tanya Yoas.


Sementara Yoel menatap selidik ketiga anak tersebut. Anak-anak Aerin sangat nakal, kalau sudah berulah bisa pusing kepala.


"Main game," sahut Zanka asal.


"Ada. Nanti saja tunggu di pesawat," jawab Yoas mengusap kepala Shaka.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh Yoel sampai di bandara. Segera kelima pria tampan itu turun dari sana. Mereka langsung menjadi pusat perhatian, apalagi ketiga bocah kembar yang wajah mereka sangat mirip dan sulit membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.


"Ayo, Son," ajak Yoas.


Yoas menggandeng tangan Zanka dan Chana. Sementara Yoel menggandeng tangan Shaka. Beberapa bodyguard mengekor dari belakang membawa koper yang berisi beberapa baju selama mereka ada di Indonesia.


Beberapa kali Yoas menghela nafas panjang. Sepertinya kedatangan mereka ini akan menghebohkan, apalagi ada tiga anak kembar yang begitu mirip dengan Alan. Tanpa di jelaskan semua orang tahu bahwa ketiga anak kembar itu adalah darah daging Alan karena wajah mereka tidak bisa disembunyikan.


"Son, kalau harus hati-hati," pesan Yoas.


Shaka, Zanka dan Chana hanya mengangguk walau mereka tidak paham, harus hati-hati pada siapa?


Yoas dan Yoel membawa ketiga anak kembar itu masuk kedalam pesawat. Ada beberapa krue yang bekerja di sana sudah menanti sejak tadi.


"Wah, apakah ini punya Ayah?!" tanya Zanka dengan wajah kagumnya.


"Ya tentu, punya Ayah juga punyamu," sahut Yoas terkekeh.


"Mewah sekali, Ayah," sahut Zanka.


"Ayah, apakah Daddy juga orang kaya?" sambung Chana.


"Hem, jelas! Daddy kalian jauh lebih kaya," sahut Yoel mewakili.


Shaka lelaki kecil itu hanya diam saja sambil menatap kosong kearah luar jendela pesawat. Ini bisa dikatakan penerbangan pertamanya. Tatapan lelaki kecil itu seperti pria dewasa. Dia menghela nafas panjang, sebagai anak normal dia ingin kedua orang tua nya bersatu. Setiap anak menginginkan hidup dengan orang tua yang lengkap, begitu juga dengan Shaka.


Yoel memang paling dekat dengan Shaka. Sifat Shaka sama seperti Alan, keras dan tegas jiwa kepimpinannya sudah terlihat sejak dini. Anak ini pemberani dalam mengambil resiko.


"Apa hidup Daddy benar-benar sengsara, Pa?" tanya Shaka dengan mata berkaca-kaca.


Yoel terdiam, dia menatap sendu wajah Shaka yang sangat mirip dengan Tuan Muda-nya. Walau dulu, Yoel tak begitu dekat dengan Alan karena tugas nya hanya mengatur beberapa asset perusahaan, tetapi dia cukup mengenal Tuan Muda-nya tersebut.


"Daddy-mu, hidup dalam sangkar istri pertamanya," sahut Yoel.


Yoel sebenarnya tak ingin mengatakan kenyataan pahit yang mungkin saja bisa melukai anak-anak Aerin. Tetapi dia paham bahwa anak-anak ini sudah dewasa sebelum waktunya.


"Apakah Daddy bisa lepas dari istri pertamanya? Kalau bisa, Shaka ingin melepaskannya, Pa!" ucap lelaki kecil itu dengan mata berkaca-kaca.


Hati Yoel terenyuh, anak sekecil ini saja sudah memiliki perasaan peka terhadap orang tua nya.


"Hanya Mommy yang bisa melepaskan, Daddy," jawab Yoel. "Tetapi itu ada pengorbanan, sebab Tuan Christoper dan Tuan Alta tidak akan membiarkan hal itu terjadi," jelas Yoel.


"Mereka siapa, Pa?" tanya Shaka lagi.

__ADS_1


"Orang tua Nona Anne, istri pertama Daddy-mu," jawab Yoel lagi. "Sudahlah jangan dipikirkan, kau masih terlalu kecil untuk memahami hal ini," sambung Yoel.


"Tubuh Shaka memang kecil, Pa. Tetapi pikiran Shaka melebihi orang dewasa," sergah anak kecil itu tak terima di bilang masih anak kecil.


Yoel terkekeh, dia merangkul tubuh Shaka lalu menyandarkan di dada bidang lelaki itu.


"Apakah Papa pernah menyukai Mommy?" tanya Shaka mendongkakkan kepalanya menatap wajah Yoel.


Yoel tersenyum simpul, sebagai pria normal mungkin ia dia pernah menaruh rasa pada Aerin. Tetapi bagi Yoel Aerin adalah sosok adik yang butuh bimbingan.


"Dulu pernah. Tetapi sekarang perasaan itu tidak ada lagi, Son. Mommy sudah seperti adik kandung Papa sendiri," jawab Yoel memberi pengertian dan takut jika anak ini salah paham padanya.


.


.


"Jadi wanita itu masih hidup?" Anne menatap tajam dua orang pria di depannya.


"Iya Nona. Bahkan Nona Aerin melahirkan empat bayi kembar," jelas salah satu anak buahnya.


"Brengsek!" pekik Anne memukul mejanya dengan keras. "Ternyata Yoas dan Yoel suka bermain-main denganku?" ucap Anne dengan tatapan iblisnya. "Lihat saja Aerin, kau tidak akan hidup aman. Aku akan melenyapkanmu berserta anak-anakmu. Aku takkan membiarkanmu merebut Alan dariku," ucap Anne.


Kedua anak buah itu hanya menunduk saja mendengar amukkan Anne.


"Di mana sekarang wanita pelakor itu?" tanya Anne duduk di kursi kebesarannya.


Anne rela meninggalkan kariernya di dunia modeling demi mensejajarkan dirinya dengan Alan. Tetapi tetap saja, dia tak bisa membuat lelaki itu jatuh cinta padanya.


"Nona Aerin ada di Sidney, Australia," jelas salah satu anak buahnya.


"Bagus," ucap Anne tersenyum licik. "Awasi mereka dan culik wanita itu, lalu bunuh dan jangan tinggalkan jejak!" titah Anne.


"Baik Nona Muda," sahut keduanya kompak.


"Kalian boleh keluar," usir Anne.


Anne kembali duduk di kursinya. Tak bisa dia pungkiri bahwa sekarang dia mulai gelisah dan takut. Kehadiran Aerin akan kembali menggeser posisinya di kehidupan Alan.


Bersambung....


Hai guys....


Jangan lupa mampir ke karya sebelah author...

__ADS_1


Menikahi Brondong (Please jangan lompat bab ya guys))))


Love Is Hurt (Poligami Pernikahan))))


__ADS_2