
Mobil yang membawa Alan dan Aerin memasuki pekarangan rumah mewah Yoas yang ada di Sidney.
Bersamaan itu mobil Christoper dan Agam juga baru datang dan terparkir di samping mobil Alan.
Tampak Yoas turun duluan membuka pintu untuk sang Tuan Muda.
"Pelan-pelan Bby," ucap Aerin mengulurkan tangannya.
"Sayang, aku jalan saja. Sepertinya aku sudah kuat," ujar Alan menyambut tangan sang istri.
"Yakin mampu?" goda Aerin.
Alan terkekeh, luka bekas operasinya sudah tidak sakit lagi. Hanya saja tenaganya masih lemas mungkin karena terlalu lama berbaring diatas brangkar.
"Bisa, Lan?"
"Bisa, Dad," jawab Alan.
Mereka masuk ke dalam. Si kembar berkerumun membantu Alan berjalan. Ke-empat anak Aerin itu seolah takut jika ayah kesayangan mereka sampai jatuh di atas lantai.
"Ini rumah siapa, Sayang?" Alan menatap rumah mewah tersebut. Dia bernafas lega, karena istri dan anaknya hidup di rumah yang memiliki fasilitas lengkap. Setidaknya mereka tidak kekurangan selama dia tidak ada.
"Ini rumah Kak Yoas, Bby. Disinilah kami tinggal," jawab Aerin.
Alan mengangguk sambil tersenyum, "Syukurlah, Sayang. Maafkan aku ya?" Dia menghela nafas lega. Dia tahu betapa sulit kehidupan Aerin ketika mereka tak bersama pasti istrinya itu telah melewati fase-fase terberat dalam hidupnya.
"Silakan masuk, Tuan Besar," ucap Yoas dan Yoel pada tamu terhormat mereka, yaitu Christoper dan Alta.
Christoper dan Alta juga bernafas lega karena Aerin tinggal di rumah yang nyaman dan besar seperti ini. Tak bisa Christoper bayangkan bagaimana sulitnya Aerin hidup selama 30 tahun tanpa siapapun. Tetapi semua yang terjadi atas kehendak Tuhan dan Christoper tak pernah menyesali hal tersebut karena dia yakin di balik yang terjadi ada sesuatu baik yang telah menanti kehidupannya.
"Terima kasih, Yoas," jawab Christoper.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh para pelayan yang bekerja di rumah mewah Yoas.
__ADS_1
Yoas memang hanya sebatas asisten tetapi dia memiliki kekayaan yang tidak jauh beda dengan tuan-nya. Bahkan selama lima tahun di Sidney dia sudah memiliki beberapa perusahaan walau tak sebesar perusahaan Alan. Apalagi di bantu oleh adiknya Yoel yang menguasai bidang IT, perusahaan Yoas berkembang pesat.
"Ayo Daddy, duduk," ajak Shaka
"Iya Son," sahut Alan.
Tampak Robson dan Ratih berjalan kearah ruang tamu. Tangan Ratih memeluk lengan suaminya, kondisi wanita paruh baya itu memang tidak sepenuhnya pulih. Oleh sebab itu Robson tak mau mengajak istrinya ke rumah sakit selama Alan di rawat di sana. Apalagi dia belum siap sang istri bertemu dengan cinta lamanya.
Namun, sekarang Robson sudah pasrah. Dia yakin cinta sejati akan selalu berpulang pada orang yang tepat. Kalaupun pada akhirnya, cinta yang dia jaga sepenuh hati dan jiwa itu berakhir di tengah jalan. Setidaknya dia sudah berjuang selama kurang lebih 15 tahun ini.
"Baby A."
Semua mata menatap kearah sumber suara yang memanggil Aerin.
Aerin langsung berdiri. Tentu saja dia kenal siapa wanita itu. Walau sudah berlalu sekian belas tahun tetapi wajah sang ibu sama sekali tidak berubah.
"Bunda," gumamnya.
Untuk sesaat tatapan ibu dan anak itu bertemu. Mata keduanya berkaca-kaca seolah kompak untuk menunjukkan jati dirinya. Ratih dan Aerin kembar tapi beda. Namun, tak ada yang menyadari kesamaan itu selama ini karena masing-masing fokus pada kondisi.
"Bunda." Aerin berjalan mendekat kearah Robson dan Ratih dia bahkan sampai lupa ada suaminya.
Ratih melepaskan pelukannya dari tangan Robson dan berjalan menyambut putrinya itu. Keduanya saling menatap dengan kerinduan yang mendalam. 15 tahun tak bertemu, pertemuan terakhir mereka ketika Ratih di usir dari rumah oleh suaminya dan setelah itu mereka hilang kontak satu sama lain.
"Bunda."
"Aerin."
Tangan Ratih menangkup wajah Aerin. Dia usap wajah itu perlahan. Air mata luruh, dia berusaha meyakinkan dirinya apakah ini kenyataan atau dia sedang bermimpi? Dia masih belum percaya bisa di pertemukan dengan putri kecilnya yang dia rindukan selama belasan tahun tersebut.
"Bunda."
"Apakah benar ini kau, Nak?" tanya Ratih mengelus wajah anaknya.
__ADS_1
"Bunda, ini Baby A. Baby A merindukanmu," sahut Aerin.
Ratih masih mengelus wajah Aerin. Air mata luruh berderai berlomba bersama perasaan yang kian mendesir hebat. Ini pertemuan pertama mereka setelah dia tumbuh dewasa. Ratih tak berada di samping anaknya itu, sehingga Aerin tumbuh tanpa sosoknya.
"Apakah Bunda bermimpi, Nak?" tanyanya memastikan. Sebab Ratih selalu bermimpi bertemu Aerin karena perasaan rindu yang mengikat.
"Bunda tidak bermimpi, ini Baby A. Ini aku anak Bunda. Maafkan aku Bunda," ucap Aerin terisak sambil memegang tangan Ratih yang menempel di wajahnya.
Wanita yang dulu begitu dia benci karena dia pikir telah mengkhianati sang ayah. Padahal Aerin tidak tahu jika ibu-nya di fitnah oleh Jasmine dan Lisa agar bisa menikahi Rollies dan menguasai harta mereka.
"Bunda."
"Baby A."
Keduanya berpelukan sambil menangis hebat. Suara isakkan terdengar menggema di dalam ruangan tamu rumah mewah Yoas. Tangis kerinduan karena perpisahan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Bunda," rintih Aerin, dadanya sampai sesak serta pasokan udara yang terasa menipis.
"Baby A." Ratih memeluk anaknya dengan erat.
Baby A adalah panggilan kesayangan yang dia sematkan pada anak perempuannya itu.
"Maafkan aku, Bunda."
Setelah menjadi orang tua, Aerin baru menyadari betapa beratnya perjuangan seseorang ibu melahirkan anaknya. Perjuangan yang mempertaruhkan nyawa. Perjuangan antara hidup dan mati. Menggandung selama sembilan bulan serta membawa perut besar itu kemana-mana. Tidur susah dan kadang merasakan beberapa keluhan.
Aerin menyesal telah membenci ibunya sendiri. Dia merasakan perasaan yang dirasakan oleh sang ibu saat dirinya mengatakan benci pada wanita itu.
"Bunda yang harus yang harus minta maaf karena sudah meninggalkanmu. Maafkan Bunda, Sayang," ucap Ratih seraya menangis dengan raungan suara penyesalan.
Ratih tak menyalahkan Aerin yang membencinya. Setiap anak benci perpisahan orang tua nya. Setiap anak menginginkan keluarga yang utuh dan bahagia seperti orang lain. Namun, apalah daya dia sendiri tak mampu mewujudkan impian anaknya itu dan malah melukai hati putri kecilnya sehingga menimbulkan luka yang mendalam di hati Aerin.
"Maafkan Bunda telah meninggalmu sendirian. Maafkan Bunda yang tidak bisa menemanimu melewati pahitnya kehidupan ini. Maafkan Bunda untuk semua yang telah Bunda lakukan padamu. Bunda selalu merindukanmu sepanjang hari. Bunda berharap bertemu denganmu untuk melepaskan semua kerinduan yang Bunda rasakan. Bunda......" Ratih tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Hatinya rapuh dan hancur ketika mengingat penderitaan yang telah putrinya rasakan. Sebagai seorang ibu dia tak mampu mewujudkan keinginan Aerin untuk memiliki orang tua lengkap.
__ADS_1
Tangis Aerin pecah. Rasa sakit dan kecewa itu memang ada. Tetapi dia berusaha berdamai dengan masa lalu dan keadaan. Dia tak mau hidup dalam dendam dan ketidakberdayaan.
Bersambung.....