
Aerin wanita cantik bak jelmaan Dewi Yunani tersebut. Kulit mulus seputih susu. Rambut ikal dan panjang yang menjuntai. Hidung mancung dan alis tebal serta bibir seksi. Bola mata berwarna biru. Dia seperti boneka Barbie yang sempurna dengan keelokkan yang tak tertandingi.
Hari ini adalah hari bahagia nya. Wanita yang sebentar lagi menjadi ibu itu, menatap pantulan dirinya didepan cermin besar. Gaun mewah yang mungkin saja harganya mencari ratusan juta itu, membungkus tubuh ramping dengan sempurna.
Wanita yang dicintai Alan itu sangat cantik. Rambutnya sengaja digerai indah dengan mahkota yang tertanam diatas kepalanya. Senyum manis dengan dua gigi gisul yang akan terlihat apa bila dia tersenyum.
Aerin tersenyum lebar melihat betapa cantiknya dia hari ini. Entah kenapa dia bisa bahagia menikah dengan Alan? Walau belum tahu siapa lelaki itu? Apakah Aerin sudah mencintai Alan? Atau wanita itu hanya menutupi luka dihatinya? Entahlah, hanya Aerin yang tahu.
Pernikahan sederhana ini hanya digelar disebuah gereja kecil. Alan tak mau mengambil resiko untuk mengadakan pesta di tempat terbuka. Dia tak memikirkan dirinya, dia hanya takut Aerin dan calon bayi nya akan menanggung akibat.
"Mari, Nona. Tuan sudah menunggu Anda," ucap Yoas yang bertugas untuk menjemput Aerin diruangan rias.
Yoas sempat tak berkedip melihat kecantikan Aerin. Wanita yang sebentar lagi menjadi istri dari tuan nya itu benar-benar cantik diluar batas. Semua kaum adam akan menatap nya dengan kagum dan berebut untuk sekedar mengenggam tangannya.
Aerin berjalan menghampiri Yoas. Tangannya mengangkat gaun yang panjang menjuntai ke lantai.
"Ayo, Kak," ajak Aerin memeluk lengan Yoas.
"Ayo, Nona," sahut Yoas menggandeng tangan Aerin.
Keduanya berjalan menuju altar pernikahan. Hanya ada beberapa orang saksi yang sengaja dibayar oleh Yoas sebagai tamu undangan.
Arkin dan Bella menatap kearah calon menantunya. Kedua pasangan itu berdecak kagum ketika melihat wajah cantik yang tersenyum ramah sambil berjalan dengan Santi dengan memeluk lengan Yoas.
Pantas saja, Alan begitu mencintai Aerin sampai rela melakukan apa saja demi mempersunting wanita itu menjadi istrinya.
Arkin dan Bella tahu jika keputusan mereka memberi restu pada Alan adalah hal yang salah. Namun, sebagai orang tua mereka ingin yang terbaik untuk anaknya. Apalagi Alan adalah anak satu-satunya. Sudah cukup Alan menderita dalam pernikahan nya selama sepuluh tahun ini. Sekarang mereka ingin, Alan bahagia karena menikah dengan pilihan hatinya sendiri.
Arkin dan Bella sudah siap menanggung segala resiko yang mungkin saja akan terjadi peperangan besar jika sampai besan nya tahu, bahwa putra mereka telah berpoligami.
Alan menangis melihat kecantikan Aerin malam ini. Air mata bahagia nya tak bisa ditahan. Dia menggeleng menganggumi wajah yang sebentar lagi akan menjadi teman hidupnya hingga dia menemukan akhir dari usia.
__ADS_1
"Tuan," panggil Yoas menyerahkan tangan Aerin pada lelaki itu.
"Terima kasih Yoas," ucap Alan.
"Sayang," air mata Alan menetes membasahi pipinya.
"Kenapa kau menangis, Bby?" tanya Aerin mengusap pip basah Alan.
"Kau cantik sekali, Sayang. Aku sampai lupa berkedip," sahut Alan terkekeh pelan.
Aerin tersenyum simpul. Entahlah, apakah dia bahagia? Aerin tak tahu. Yang jelas dia akan memulai hidup berbeda setelah ini. Dia akan menjadi istri dan calon bayi dalam kandungan nya.
Jujur saja Aerin, sedih. Di hari bahagia nya tak ada satu orang tua pun yang datang untuk menjadi wali atau sekedar mengucapkan selamat perpisahan karena setelah ini dia akan ikut suami dan meninggalkan kedua orang tua nya.
Aerin bukan anak yatim piatu. Dia masih memiliki orang tua lengkap yang masih muda dan sehat. Tapi Aerin merasa sendiri dan hampa. Tak ada kasih sayang yang dia dapatkan.
Acara pemberkatan sederhana dan janji suci telah diucapkan oleh kedua pasangan penggantin tersebut.
"Sayang, bolehkah aku memeluk mu?" pinta Alan.
"Boleh Bby," sahut Aerin.
Alan memeluk Aerin dengan erat. Lelaki itu menangis dalam diam. Dia benar-benar takut setelah ini badai besar memisahkannya dengan Aerin.
"Terima kasih sudah hadir dikehidupan saya. Aku menyesal terlambat menemukan mu," ucap Alan sedikit menyesal. Seandainya dia bertemu Aerin sebelum dia menjadi istri Anne. Pasti hubungan mereka takkan sesulit ini.
Aerin hanya tersenyum simpul saja. Tak ada balasan dari mulut wanita itu selain senyum yang mengembang.
Tak ada tamu undangan seperti pernikahan nya dan Anne. Hanya ada beberapa tamu yang sengaja di bayar agar Aerin tak curiga bahwa pernikahan ini tersembunyi.
"Alan," panggil Arkin dan Bella menghampiri kedua pasangan itu.
__ADS_1
"Ayah. Ibu," sahut Alan.
Alan melindungi Aerin dibelakang nya. Entah kenapa dia takut jika kedua orang tua nya akan menyakiti Aerin. Meski dia tahu kemungkinan hal tersebut tidak mungkin karena Arkin dan Bella tak sejahat itu.
"Aerin, sini peluk Ibu, Nak!" seru Bella merentangkan tangan nya agar menantunya itu memeluknya.
Aerin tampak ragu. Namun, Alan tersenyum dan mengangguk menandakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Aerin masuk kedalam pelukan Bella. Dia rindu ibu nya yang sekarang sudah sibuk dengan kehidupan barunya bersama suami baru.
"Selamat datang dikeluarga kami, Nak," Bella mengecup kening Aerin dengan sayang.
Tidak ada alasan untuk dia menolak Aerin menjadi menantu nya. Wanita baik-baik seperti Aerin memang pantas menjadi bagian dari hidup Alan.
"Terima kasih, Bu," mata Aerin berkaca-kaca. Baru kali ini dia merasakan hangatnya pelukan seorang ibu setelah dia beranjak dewasa
"Hei," Bella menyeka air mata Aerin. "Jangan menangis. Ini adalah hari bahagia kalian berdua. Ibu berharap kalian akan selalu bersama hingga maut memisahkan," imbuh Bella sambil tersenyum hangat.
"Alan, selamat ya, Son. Jaga istrimu dengan baik. Jadilah suami yang selalu siaga menjaga Aerin, apalagi dia sedang hamil. Wanita hamil memiliki mood yang suka berubah-ubah, kau harus lebih banyak sabar ketika permintaan nya tak sesuai dengan keinginan mu," ucap Bella menjelaskan sembari terkekeh pelan.
"Terima kasih Bu," Alan memberikan pelukan hangat pada ibu nya.
Arkin juga memberikan ucapan selamat pada putranya. Dia menerima Aerin sepenuh hati menjadi bagian dari keluarga nya.
Alan bersyukur karena kedua orang tua nya menerima Aerin. Meski Alan tahu jika kedua orang tua memiliki kecemasan tersendiri atas keluarga barunya saat ini. Alan akan menjalankan perannya sebagai seorang suami dan juga ayah dari calon bayi mereka.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Arkin. "Kalian akan tinggal di mana, Son?" tanya Arkin.
"Aku sudah membeli rumah baru untuk istriku, Ayah," sahut Alan.
Bersambung...
__ADS_1