
Ingin bertemu.
Seorang lelaki tampak meringguk di ranjang king size miliknya. Tatapannya kosong dengan penampilan yang berantakan dan juga tak terurus.
"Aerin," gumamnya.
Alan Arkin, pria yang dipaksa berpisah dengan wanita yang begitu dia cintai. Dia terpukul ketika perpisahan tersebut merebut segala impiannya. Perasaan Alan terhadap Aerin tak main-main. Sepenuh hati jiwa dan perasaannya hanya untuk Aerin. Dia bahkan rela kehilangan apa saja, asal jangan kehilangan Aerin dalam hidupnya. Alan memang tak baik-baik saja selama berpisah dengan Aerin.
"Aku ingin bertemu denganmu, Sayang. Maafkan aku. Maafkan aku," lirihnya dengan lelehan bening yang menetes dipipi tampannya.
Anne masuk kedalam kamar suaminya membawa nampan berisi makanan. Sejenak wanita itu menghela nafas panjang ketika melihat sang suami yang meringguk di ranjang seperti orang ketakutan.
"Alan," panggil Anne.
Namun, Alan tak menanggapi, lelaki itu malah asyik dengan lamunannya.
"Makanlah, kau belum makan dari tadi pagi," ucap Anne lembut sambil duduk dibibir ranjang.
Alan tetap tak bicara. Tatapannya kosong kedepan seakan dia tak mendengar suara sang istri. Baginya percuma mendengarkan suara Anne hal itu hanya akan membuat hatinya berdenyut sakit.
__ADS_1
Anne menghela nafas panjang. Rasanya dia ingin menyerah mengejar cinta Alan. Setiap hari dirinya harus menjadi pengemis demi meminta perhatian pada pria itu. Sementara Alan duduk seperti orang gila yang habis obat.
Anne lagi-lagi menahan amarahnya. Ingin rasanya dia menjambak rambut Alan, tetapi dia tak mau membuat keributan. Toh percuma juga dia koar-koar memarahi lelaki itu takkan bisa mengubah sifat Alan.
Anne keluar dari kamar mereka. Wanita itu menggerutu kesal. Setiap hari dirinya di abaikan oleh sang suami seolah keberadaan nya tidak dianggap.
Alan melanjutkan lamunannya. Dia tampak kurus tak seperti biasanya. Makan saja tidak teratur dan kadang juga tidak makan sama sekali karena terlalu fokus pada perasaan nya.
Terlalu rindu seringkali menjelma hal-hal yang tak biasa. Semisal, pikiran tak tenang dan gelisah. Apalagi rindu yang takkan menemukan titik temunya. Hal itu lah yang dirasakan oleh Alan saat ini. Bahkan tak jarang dia di datangi mimpi yang aneh. Yang membuatnya menghela nafas panjang saat terbangun. Sungguh, rindu kadang menjelma hal-hal yang menyeramkan. Namun, dia ingin selalu menangkan diri. Walau nyatanya tidak lah bisa.
"Aerin," lirih nya.
Lelaki itu memejamkan matanya. Tangannya sengaja dia letakkan didada untuk menetralisir denyut jantung yang terasa berhenti berdetak. Nyatanya jika merindukan seseorang yang tidak akan bisa dia temui. Sebab rindu kian menyiksa dalam dada.
.
.
"Huh, aku yakin jika Aerin belum mati," ucap Lisa.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak yakin?" tanya Jo menatap Lisa.
"Aku bisa merasakan bahwa Aerin masih hidup," jelas Lisa.
"Apa yang Lisa katakan memang benar. Jika Aerin sudah meninggal, kenapa tidak ada jejaknya?" sambung Jasmine.
Jo terdiam dan mulai berpikir. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Lisa dan Jasmine ada benar nya juga. Jika memang Aerin sudah meninggal kenapa tak ada yang berani membuktikan di mana jasadnya berada?
Jo berdiri dari duduknya, "Aku akan selidiki. Kalaupun Aerin masih hidup, aku yang akan membunuhnya," ucap Jo dengan tangan yang mengepal sangat kuat.
Jo melenggang pergi meninggalkan Jasmine dan Lisa dengan penuh amarah.
Sementara kedua rubah licik tersebut tersenyum penuh kemenangan merasa sudah berhasil memanas-manasi Jo yang dipenuhi dendam pada Aerin.
"Ayo, kita pulang," ajak Jasmine.
Kedua wanita itu masuk kedalam mobil. Lalu meninggalkan cafe tempat mereka bertemu tadi.
"Apa rencana kita selanjutnya, Mom?" tanya Lisa.
__ADS_1
"Kita sudah berhasil menyingkirkan Aerin. Selanjutnya singkirkan tua bangka tidak tahu diri itu," ucap Jasmine tersenyum licik.
Bersambung...