
Seorang pria tampan sibuk dengan tumpukan berkas di atas mejanya. Bahkan dia tak peduli jika belum makan siang dan mengisi perutnya.
"Selamat siang, Sayang," sapa seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan pria tersebut.
Dia mengangkat pandangan sejenak lalu kembali fokus pada berkas tangannya. Tanpa berniat membalas sapaan dari wanita tersebut.
Perempuan cantik itu masuk dengan meneteng rantang nasi ditangannya.
"Apa kau sudah makan siang?" tanyanya.
Namun, lagi-lagi lelaki itu sama sekali tak merespon dan bahkan tak mendengar sama sekali.
"Alan," panggil Anne sekali lagi.
Alan tetap tak menanggapi tangannya sibuk mengotak-atik stut keyboard laptop di depannya.
Anne merenggut kesal, dia menatap Alan marah. Sudah lima tahun berlalu tetapi lelaki ini tak juga berubah. Bahkan seperti tak menganggapnya ada.
"Alan sampai kapan kau akan terus mendiamkanku seperti ini, hah? Ini sudah lebih dari lima tahun tetapi sikapmu masih saja sama," hardik Anne dengan wajah marahnya.
Alan tak peduli sama sekali. Dia anggap ucapan istrinya adalah angin yang lewat begitu saja.
"ALAN."
Anne menutup laptop didepan Alan. Dia tidak suka saat dirinya bicara tetapi di abaikan oleh suaminya itu.
Alan acuh saja dan tak memberikan tanggapan apapun. Luka yang Anne turihkan telah mendarah daging, selama lima tahun dia hidup dalam kurungan dan kuasa istrinya. Alan bahkan sempat depresi berat dan hampir gila. Untung saja dia memiliki orang tua yang selalu mensupportnya dalam segala hal.
"Apa salahku, sehingga kau sama sekali tak menganggap aku ada?" tanya Anne dengan suara teriakkan yang menggema memenuhi ruangan kerja Alan.
Alan tersenyum sinis, wanita ini masih bertanya salah nya apa? Sejak awal Alan tak pernah mau menikah dengan Anne, tetapi perempuan itu melakukan segala cara agar Alan menjadi miliknya. Pantas salahkah Alan jika sama sekali tak menganggap kehadiran Anne dalam hidupnya? Bukan Alan tak berusaha mencintai Anne tetapi sikap dan tingkah istrinya itulah yang membuat hati Alan seolah membeku.
__ADS_1
Sudah cukup Alan hidup dalam kuasa Anne hampir 15 tahun dan sekarang dia takkan biarkan lagi wanita ini berkuasa atas hidupnya.
"Kau bertanya salahmu di mana, Anne?" Alan geleng-geleng kepala.
Air mata Anne luruh, dia wanita biasa yang memiliki perasaan. Selama 15 tahun menikah sikap lelaki ini tak pernah lembut padanya. Bahkan jika orang boleh tahu, mereka tak pernah melakukan hubungan suami istri karena Alan yang tak mau menyentuh istrinya. Dia seperti jijik melihat tubuh Anne saat tahu perselingkuhan sang istri.
"Kau tidak lebih dari seorang pelacur Anne. Kau memaksaku mencintaimu dan melakukan segala cara agar aku tertarik padamu," ucap Alan sinis menetap istrinya dengan kebencian. "Kau kurung aku dalam kekuasaan keluargamu yang mengikatku tak bisa lepas. Kau lupa, semua yang kau lakukan adalah merendahkan harga diriku karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu. Justru melihat perbuatanmu yang tak berperikemanusiaan membuatku semakin jijik," jelas Alan dengan senyuman meledeknya. Tak ada lagi ketakutan di wajah lelaki itu, sekarang dia mencoba lebih berani untuk melawan Anne.
"Kau jahat Alan," ucap Anne menggeleng sambil terisak.
"Kau sudah tahu, kenapa kau masih berusaha menahanku?" ujar Alan menatap tajam istrinya tersebut.
Lima tahun yang Alan lewati penuh dengan air mata. Tak hanya Anne yang mengurungnya tetapi juga Christoper, sang ayah mertua. Alan memilih bangkit dan melawan orang-orang jahat itu. Walau dia tahu sedikit sulit untuk menang melawan kekuasaan Christoper.
"Dengarkan aku, Anne! Sampai kapanpun kau tidak akan bisa membuatku jatuh cinta. Apalagi setelah apa yang kau lakukan pada istriku, Aerin. Kau lihat saja nanti, aku akan balaskan semua dendam ini," ancam Alan dengan mata merah padam tangan mengepal kian kuat.
Wajah Aerin terakhir kali masih terngiang dikepala Alan. Wajah istrinya merah-merah bekas tamparan kekerasan dari Christoper dan Alta. Sampai matipun Alan takkan lupakan hal tersebut.
Lelaki itu berdiri dari duduknya, meninggalkan Anne yang terisak di sofa.
"Kau jahat, Alan," gumam Anne menatap punggung Alan yang menghilang dibalik pintu. "Kau takkan bisa membalaskan dendammu karena aku takkan biarkan kau melakukan itu. Kau hanya milikku dan hanya milikku. Aku akan tetap lakukan segala cara agar kau mencintaiku," ucapnya sambil menyeka air matanya.
Entah obsesi atau cinta, Anne tak bisa membedakan dua kata berbeda arti dan tujuan tersebut. Dia tak menyerah mengejar cinta lelaki yang jelas tidak akan pernah mau mencintainya.
.
.
Alan masuk kedalam mobilnya.
"Arghhhhhhhhhhhhh." Dia memukul stir mobil kuat.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks hiks hiks."
Lagi-lagi tangisnya pecah, mengingat kejadian yang menguras emosi dan perasaannya itu.
"Aerin, apakah kau benar-benar meninggalkan aku? Apa kau benar-benar pergi? Kenapa kau ingkar janji, kau mengatakan ingin bersama denganku apapun yang terjadi tak akan menyerah?"
Alan menjalankan mobilnya sambil terisak, hancur semua harapan dan impian. Lima tahun hidup tanpa arah dan tujuan. Semua orang mengatakan jika Aerin mati karena dibunuh oleh orang suruhan Christoper, tetapi Alan tak percaya. Dia ingin sekali mengusut kasus tersebut pada kepolisian. Namun, melawan Christoper adalah menghabiskan waktu saja karena pria berambisi itu akan melakukan segala cara untuk bisa menjadi pemenang dari permainan yang dia buat sendiri.
"Aku merindukanmu, Sayang. Sangat."
Dalam keputusaan, Alan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya yang benar-benar menyakitkan. Dia tak sanggup hidup ditengah gelapnya dunia ini. Hidup sendirian, hidup dalam ketidakberdayaan. Dia tak hanya kehilangan sang istri tetapi juga anak dalam kandungan Aerin serta dua asisten kepercayaan Alan yaitu, Yoas dan Yoel.
Alan kehilangan semua yang berharga dalam hidupnya. Jika bukan kedua orang tua nya yang menjadi kekuatan dan alasan dia hidup, mungkin akan memilih mengakhiri kehidupannya.
"Aku percaya kau masih hidup, Aerin," ucap Alan menepis semua ucapan orang-orang.
Mobil Alan terparkir di rumah mewah kedua orang tua nya. Dia merasa bersalah, akibat perbuatannya ayah dan ibunya pun menjadi sasaran kekejaman Christoper.
"Alan."
Bella berhambur memeluk anak semata wayangnya itu. Sedangkan Arkin mengalami stroke ringan karena ulah dari Christoper yang setiap hari mengirim ancaman untuknya.
"Bu." Alan membalas pelukan wanita paruh baya tersebut.
Alan menangis dalam diam dipelukan ibunya. Seolah dia ingin memberikan rasa sakit dihatinya kepada sang ibu.
"Kau harus kuat, Nak," ucap Bella lirih sambil mengusap punggung anak lelakinya.
Alan mengeratkan pelukannya. Di usia dewasa pun dia masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
Bersambung....
__ADS_1