Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Ekstra part 02.


__ADS_3

"Sayang, ayo," ajak Alan menggandeng tangan Aerin.


"Iya, Bby."


Keduanya berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan. Tatapan kekaguman terlontarkan pada mereka berdua. Terutama pada Aerin yang semakin hari semakin cantik dan menarik hati. Wajahnya halus seperti kulit bayi dan putih seperti susu. Senyumannya manis, semanis madu.


Setelah mengantar anak-anaknya ke sekolah, Alan meminta sang istri ikut dengannya serta menemaninya ke kantor. Sudah lama dia tidak mengawasi rumah keduanya tersebut. Sejak lima tahun terakhir perusahaan Alan berkembang pesat dan mampu menduduki peringkat sebagai perusahaan dengan asseet milyaran rupiah perbulan.


Alab menatap orang yang melihat istri dengan tajam. Apalagi tatapan mereka terlihat damba dan ingin.


"Bby, jangan begitu." Aerin geleng-geleng kepala sambil masuk kedalam ruangan kerja Alan.


"Ck, aku tidak terima, Sayang. Mereka menatapmu dengan lapar dan damba," protes Alan. "Besok-besok, jika kau mau keluar pakai topeng saja biar tidak ada yang melihat wajah cantikmu itu selain aku," ujarnya.


Aerin terkekeh pelan. Ada-ada saja suaminya itu. Bucin dan posesif parah. Namun, Aerin memaklumi karena mereka memang terpisah cukup lama, jadi wajar saja jika Alan posesif karena dia takut kehilangan yang kedua kalinya.


"Bby, kau ini ada-ada saja." Aerin menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Yoas yang berjalan di belakang mereka hanya tersenyum saja. Dalam hati memang mengakui jika kecantikan Aerin semakin bertambah, sementara Alan makin tua. Jelas saja banyak yang melirik Aerin daripada Alan.


Bayangkan usia mereka terpaut 15 tahun. Alan berusia 45 tahun sedangkan Aerin baru 30 tahun memasuki 31 tahun, tentu saja perbedaan usia yang begitu jauh terlihat mencolok.


Alan masih menggerutu kesal. Ingin rasanya dia mengajak orang-orang tadi baku hantam karena sudah berani menatap istrinya dengan damba.


"Bby, jangan marah-marah. Nanti cepat tua," celetuk Aerin terkekeh sambil duduk di sofa.


"Ck, jangan disinggung tua, Sayang. Aku memang sudah tua," ujar Alan.


Aerin ngakak. Sedangkan Yoas yang tengah memberikan laporan menahan tawanya sekuat tenaga, tak berani mengeluarkan tawanya takut singa jantan itu nanti mengamuk padanya.


"Bby." Aerin memeluk lengan lelaki itu dengan mesra. Tanpa peduli pada Yoas yang tengah menyampaikan beberapa agenda pekerjaan suaminya hari ini.


Sontak saja emosi Aerin seketika mereda. Dia tersenyum hangat lalu mengusap kepala istrinya dengan sayang.

__ADS_1


"Yoas, kau boleh keluar. Nanti saja laporannya," usir Alan mengibaskan tangannya agar Yoas keluar dari ruangannya.


"Baik Tuan," jawab Yoas seraya melenggang keluar dari ruangan, sebelum dirinya di buat iri dengan kemesraan dua manusia tersebut.


"Maafkan aku yang cemburuan, Sayang. Aku sungguh takut ada yang merebutmu dari aku. Apalagi kau masih muda dan aku sudah tua," ucap Alan setengah kesal ketika mengetahui dirinya sudah 45 tahun, beda 15 tahun dari Aerin. Jauh sekali bedanya. Dan istrinya semakin cantik. Sementara dia semakin tua.


"Tidak apa-apa, Bby." Senyum Aerin. "Aku senang," tuturnya kemudian masih memeluk lengan pria itu.


"Terima kasih, Sayang." Alan bersyukur karena Aerin memaklumi dirinya yang begitu sensitif dan mudah sekali cemburuan ini. Dia juga tidak tahu kenapa, bahkan pada ketiga anak lelakinya saja dia sering cemburu jika Aerin lebih perhatian pada anaknya dari pada dirinya.


Alan merasakan keretakan dalam rumah tangga setelah pernikahan paksanya dengan wanita bernama Anne. Terjebak dalam pernikahan dengan wanita yang sama sekali tdiak dia cintai. Tidak hanya itu, dia juga di kurung tidak bisa kemana-mana dan hanya mengabdi sepenuhnya pada Anne dan keluarganya. Alan merasa bahwa hidupnya takkan pernah bahagia. Tetapi siapa sangka pertemuannya di malam itu bersama wanita bernama Aerin mengubah hidupnya. Dirinya jatuh dalam pesona senyuman mewah wanita tersebut.


Aerin wanita muda yang merasa kesialan selalu menimpanya. Kekurangan figure orang tua sejak usia remaja, menjadikan dirinya sosok yang keras kepala dan sulit di atur. Dia berpikir bahwa Jo adalah pria sejati yang akan menemaninya hingga nanti tetapi siapa sangka bahwa lelaki itu yang tega menjebaknya tidur bersama laki-laki asing. Namun, di sanalah kisah perjalanan hidup Aerin di mulai sampai akhirnya menemukan kebahagiaannya ketika si kembar lahir.


.


.


Aerin beberapa kali mengucek matanya saat melihat hasil test kehamilan di tangannya. Wanita itu tak menyangka jika dia garis merah positif disana. Memang dia sudah telat haid dari biasanya.


"Ya, Tuhan. Aku hamil." Wanita itu tersenyum kesenangan.


"Aku hamil." Dia mengusap perut ratanya. "Selamat datang Nak. Selamat datang di kehidupan Daddy dan Mommy, selamat datang dikehidupan ke-empat kakak kembarmu. Semoga Tuhan menyertai perjalanan mu datang ke dunia." Air mata bahagianya menetes.


Kebahagiaan Aerin akan semakin bertambah jika anaknya lahir nanti. Dia tak sabar. Dia ingin waktu segera berlalu dan dia juga tak sabar untuk memberitahu suami dan anak-anaknya tentang kabar bahagia ini.


"Hubby, Hubby, Hubby," teriak Aerin memanggil suaminya.


Alan sontak berhambur kearah kamar mandi dengan wajah panik nya. Padahal dia tengah nyaman memasang pakaian kerjanya.


"Sayang, ada apa?" Wajah lelaki itu tak hanya panik tapi juga pucat bukan main, dia takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Sayang, katakan padaku, kenapa kau menangis?" Bagaimana tak panik, Aerin terduduk dilantai kamar mandi dengan posisi terduduk dan sambil menangis?

__ADS_1


"Bby, hiks hiks aku." Aerin tak mampu melanjutkan kata-katanya saking bahagia.


Alan mengangkat bahu wanita itu. Badannya sampai bergetar ketakutan. Takut jika istri nya jatuh dan terpeleset dan membuat tubuh Aerin sakit.


"Sayang, kenapa? ayo katakan padaku!" desak Alan menyeka pipi istrinya yang basah karena air mata.


Aerin tak menjawab dia hanya menunjukkan benda ditangannya.


Mata Alan membulat sempurna sambil mengambil benda itu dari tangan Aerin.


"S-sayang k-kau hamil?" tanya Alan tak percaya.


"Iya Bby, aku hamil.. hiks hiks." saking bahagianya Aerin tak bisa berhenti menangis.


Alan dan Aerin memang tak berencana memiliki beberapa anak tetapi jika Tuhan kasih maka mereka akan dengan senang hati menyambut anggota baru di keluarga kecil mereka.


"Hiks hiks hiks, Bby."


"Sayang, terima kasih." Alan memeluk Aerin dengan erat.


"Terima kasih. Terima kasih. Aku mencintaimu," ucapnya dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.


Ala tak bisa ungkapkan betapa bahagianya dia saat ini. Keluarga kecilnya akan kedatangan anggota baru yang akan membuat suasana rumah semakin ramai dengan suara riuh dan kenakalan mereka nantinya.


Alan melepaskan pelukannya, dia menyeka air mata Aerin.


"Bby, aku bahagia sekali. Akhirnya si kembar punya teman," ucap Aerin yang masih terisak.


"Aku juga bahagia, Sayang. Kalian berdua sehat-sehat ya. Aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik." Alan mengusap perut rata Aerin.


"Sayang, mulai sekarang. Kau tidak boleh lelah. Kau tidak boleh melakukan aktifitas berlebihan, biar aku yang handle semuanya," jelas Alan kembali memeluk istrinya.


Dalam hidup Alan tak pernah bayangkan jika dia akan sebahagia ini dalam hidupnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2