
Aerin masuk kedalam mobil, entah apa mimpi suaminya hari ini dia diminta untuk menemui lelaki itu di sejuah restourant karena ada yang ingin dibicarakan oleh Alan.
Wajah wanita itu tampak tersenyum sumringah. Dia tak sabar bertemu suaminya karena memang sudah beberapa hari Alan tidak pulang. Seperti biasa, dia akan mengatakan ada kesibukan yang tidak bisa dia tinggalkan terutama dalam hal pekerjaan nya. Aerin tak mempermasalahkan hal tersebut, selagi Alan nyaman dan aman dalam pekerjaan Aerin memaklumi kesibukan suaminya.
"Paman, apa suamiku sudah sampai disana?" tanya Aerin.
"Tuan sudah menunggu Anda, Nona," jawab sang supir sambil tersenyum pada Aerin.
Aerin menatap kearah luar jendela kaca mobil, sudah lama dia tak menikmati suasana di keramain kota Jakarta. Sejak menikah dengan Alan dia hanya mengurung diri di mansion mewah sang suami. Entah kenapa hati ini suami nya itu tiba-tiba meminta nya datang ke kota untuk mengajak makan siang.
"Hubby," gumam wanita itu tersenyum seperti orang gila. "Sebentar lagi kita akan bertemu Daddy, Nak," ucapnya sambil mengusap perut nya yang setengah membuncit.
Kehamilan Aerin memang membuat nya sedikit repot karena selalu ingin bertemu dengan suaminya yang sedang sibuk bekerja mencari uang dan nafkah untuk kehidupan mereka.
Sang supir yang duduk didepan menampilkan wajah datarnya ketika mendengar celotehan Aerin yang berbicara dengan anak yang ada didalam perutnya, entah apa yang di pikirkan oleh supir paruh baya tersebut. Ada tatapan kasihan tetapi ada juga tatapan tak tega.
__ADS_1
Mobil yang di tumpangi Aerin memasuki perkotaan. Wanita itu tersenyum sumringah dengan wajah bahagia nya. Dia seperti orang kampung yang baru pertama kali melihat kota. Suara deru mobil serta sepeda motor yang berdebu kencang membuat hati wanita itu tergelitik untuk tertawa. Setiap detik dalam hidup Aerin, dia hanya ingin bersama dengan suami dan anak dalam perut nya. Bagi Aerin tak ada yang lebih penting didunia ini selain kedua orang itu. Sudah cukup, setiap rasa sakit dan lelah yang menghantam dada nya.
"Bby, aku tidak sabar ingin bertemu dengan mu. Aku ingin memeluk mu sampai puas!" seru Aerin.
Hingga mobil tersebut berhenti tepat didepan sebuah restauran mewah. Aerin turun dari restaurant tersebut dan menatap kagum bangunan mewah itu. Restaurant favorite tempat biasa dia dan Jo dinner saat akhir pekan.
Semua memori tentang Jo masih melekat di bayangan Aerin. Bagaimanapun dia cukup lama menjalin hubungan dengan lelaki tersebut bahkan Aerin sudah menyiapkan masa depan mereka berdua. Namun, sayang lelaki yang dia sayangi sepenuh hati. Ternyata hanya seorang pecundang yang memanfaatkan dirinya.
"Ayo Nona, silahkan masuk," ucap salah satu bodyguard yang diutus untuk menjemput Aerin.
"Hub_"
Aerin mematung ditempat nya ketika melihat satu permandangan yang benar-benar menyayat hati dan meruntuhkan seluruh jiwanya. Air mata wanita hamil itu luruh begitu saja. Tangannya dia letakan pada perut nya yang setengah membuncit, sembari memberi kekuatan pada dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Selama ada anak dalam kandungan nya, takkan ada yang bisa menghancurkan hidupnya walau sekarang dia sudah hancur.
.
__ADS_1
.
"Agam, kopi nya, Son," ucap Ratih meletakkan segelas kopi hitam tanpa gula kesukaan anak lelaki nya itu.
"Terima kasih Bunda," sahut Agam
Ratih duduk disamping Agam sambil tersenyum melihat anaknya yang tampak asyik dengan laptop dipangkuan nya.
Agam menutup laptop nya. Dia tidak bisa bekerja jika ada sang bunda disampingnya.
"Masih memikirkan wanita itu?" tebak Ratih.
Agam menghela nafas panjang. "Aku merindu nya Bunda," jawab Agam. "Tetapi disisi lain aku membencinya, kenapa dia bisa sampai hamil padahal belum menikah?" jelas Agam dengan nafas beratnya
"Jangan terlalu membenci nya, nanti kau bisa malah merindukan nya," goda Ratih terkekeh. "Apa kau sudah mencari tahu keberadaan sekarang?"
__ADS_1
Bersambung....