
"Kenapa, Bu?" tanya Arkin melihat istrinya yang tampak gelisah.
"Ibu lagi memikirkan Aerin. Bagaimana kalau keberadaan nya diketahui oleh Anne," jawab Bella terlihat tak tenang.
Awalnya Bella memang sedikit kecewa saat tahu Alan menikahi wanita broken home. Apalagi dirinya sudah memiliki istri. Namun, setelah mengenal Aerin Bella mengubah cara berpikir nya.
"Tenang Sayang. Alan sudah dewasa, Ayah yakin dia bisa mengatasi semua masalah ini," sahut Arkin menyandarkan kepala Bella di bahu nya.
Meski Arkin juga memiliki kekhawatiran yang sama seperti Bella. Bukan Arkin dan Bella menyetujui pernikahan Alan dan Anne, mereka di ancam dan sebagai balas budi karena keluarga Anne sudah menolong mereka dalam banyak hal termasuk tentang keselamatan Alan.
Bella melingkarkan tangannya di pinggang Arkin. Wanita paruh baya itu tak tenang sama sekali. Apalagi Aerin adalah menantunya. Wanita itu belum tahu apa-apa tentang Alan.
"Aku takut setelah Aerin tahu siapa Alan, pasti dia akan pergi dari hidup putra kita," ucap Bella terdengar lirih.
Arkin juga memiliki ketakutan yang sama seperti istrinya. Arkin tak bisa bayangkan bagaimana hancurnya hidup Alan jika Aerin benar-benar memilih pergi ketika tahu yang sebenarnya. Terlihat sekali bahwa Alan sangat mencintai wanita yang menghabiskan malam dengannya tersebut.
"Kita berdoa yang terbaik untuk Alan dan Aerin," sahut Arkin mengusap kepala Bella yang bersandar di dada nya.
Bukan mereka tak menyesal karena telah memaksa Alan menikah dengan Anne, mereka sangat menyesal. Namun, bagaimana lagi Arkin dan Bella sudah terlanjur berhutang budi dan nyawa pada keluarga kejam itu.
Keluarga Hathaway terkenal karen kekejaman nya baik dalam dunia bisnis maupun kehidupan nyata. Siapa saja yang berani mencari masalah dan menganggu hidup mereka, akan berakhir dengan keadaan yang tragis.
Arkin tak mau hal itu terjadi pada Aerin. Namun, Arkin percaya bahwa Alan bisa melindungi istrinya tersebut.
"Apa kita kerumah Alan saja? Aku rindu menantu kita, Ayah," ucap Bella.
"Kita tidak bisa kesana tanpa izin dari Alan, Bu. Ibu tahu kan kalau kita terus diawasi oleh keluarga Hathaway. Aku tidak mau mereka menemukan keberadaan menantu kita dan malah menyakiti Aerin dan calon bayi nya," jelas Arkin.
Bella menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa hidup Alan serumit ini? Bahkan di awal pernikahan, Alan seperti tersiksa karena terus di awasi oleh anak buah Hathaway. Dirinya dikurung dalam sangkar kekuasaan keluarga tersebut. Alan tak benar-benar bisa lepas, apalagi jika ketahuan bahwa dirinya menikah secara diam-diam di belakang keluarga tersebut.
"Iya Ayah," sahut Bella memejamkan matanya.
__ADS_1
Sebagai orang tua tentu Arkin dan Bella ingin yang terbaik untuk anak semata wayangnya tersebut. Ingin Alan bahagia bersama cinta sejatinya. Meski selama ini mereka merasa bersalah karena sudah menjadikan Alan sebagai korban dari hutang-hutang yang mereka miliki.
"Ya sudah, Ibu tidur duluan saja. Ayah mau ke ruang kerja dulu," ucap Arkin mengecup kening sang istri.
"Iya Sayang," jawab Bella berdiri dari duduknya.
.
.
"Aerin, maafkan Bunda, Nak," ucap seorang wanita paruh baya terisak seraya memeluk foto anaknya yang cantik.
"Bunda menyesal telah membiarkanmu hidup dengan ayah. Hatinya kau ikut Bunda saja," lirihnya penuh penyesalan.
Wanita paruh baya itu menangis dalam penyesalan nya. Akibat perceraian yang terjadi dan memilih kehidupan masing-masing. Dia kehilangan sosok putri semata wayangnya. Dia hanya memikirkan bahagia nya tanpa peduli bahwa anak adalah korban dari rasa sakit yang diciptakan oleh kedua orang tua nya.
"Bunda," panggil seorang pria tampan
"Bunda kenapa menangis?" tanya lelaki itu panik.
Wanita itu menunjukkan foto balita berusia lima tahun di tangannya.
"Bunda rindu anak Bunda ini," jawabnya lirih sambil mengusap foto tersebut.
"Kenapa tidak Bunda temui? Aku tidak keberatan jika Bunda ingin bertemu dengannya," ucap lelaki itu.
Sang wanita malah menggeleng, "Tidak bisa, Nak. Dia tidak mau bertemu Bunda. Setelah perpisahan itu, dia membenci Bunda dan seumur hidupnya tidak akan pernah memaafkan Bunda," jelas wanita tersebut dengan suara lirihnya.
Pria itu mengenggam tangan ibu tirinya. Wanita ini memang ibu tirinya. Tetapi wanita ini menyanyangi nya seperti ibu kandung dan merawatnya sejak dia kehilangan sosok seorang ibu.
"Bunda yang sabar ya. Aku yakin, suatu saat Bunda pasti ketemu dia. Aku juga ingin bertemu dengannya Bunda. Aku penasaran seperti apa cantiknya putri Bunda itu," ucapnya terkekeh sambil mengusap pipi basah sang ibu.
__ADS_1
"Kau pasti akan menyukainya, Nak. Dia gadis yang baik. Hanya saja Bunda yang belum bisa menjadi ibu yang baik untuknya," ucapnya merasa bersalah. Teringat perpisahan mereka sepuluh tahun yang lalu. Dia meninggalkan putri kecil nya karena tidak bisa bersama dengan sang mantan suami.
"Jangan bicara begitu Bunda. Bunda adalah ibu terbaik buat aku. Bunda juga ibu yang baik untuk putri Bunda," ucap nya
"Terima kasih ya, Nak. Kau dan Ayah menerima masa lalu Bunda," ucap nya.
"Sama-sama Bunda. Aku yang harus berterima kasih. Bunda adalah seorang ibu tiri yang tidak pernah memarahi ku. Bunda merawat ku dengan penuh kasih sayang," ucap pria tampan itu.
"Itu tugas Bunda, Nak. Siapapun dirimu, kau lah putra kesayangan Bunda. Bunda berharap suatu saat nanti, kau bisa bertemu dengan adik tirimu," ucap nya.
Pria tersebut mengangguk. Wanita di depannya ini bukan ibu kandungnya. Tetapi dari wanita ini dia merasakan kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya. Wanita itu menyanyangi nya dengan tulus serta merawat nya disaat-saat terendah dalam hidupnya.
"Ya sudah ayo kita makan. Ayah pasti sudah menunggu," ajak sang wanita berdiri dari duduknya.
Keduanya berjalan menuju meja makan. Kehadiran mereka selalu rukun karena hanya mereka bertiga di rumah ini serta beberapa pelayan yang bekerja disini.
"Sayang, kau kenapa? Kenapa matamu merah? Kau menangis?" tanya sang suami meneliti wajah istrinya. Dia berdiri sambil mengusap pipi sang istri.
"Aku tidak apa-apa, Kak," jawab wanita paruh baya itu.
"Merindukan Baby A?" tebak sang suami yang selalu tahu kebiasaan istri nya.
"Sedikit," jawab perempuan itu memaksakan senyum.
Mana ada seorang ibu yang merindukan anaknya dengan kata sedikit. Seorang ibu yang sudah terpisah sang lama pasti akan merindukan sang anak, apalagi sudah sepuluh tahun tidak pernah bertemu.
"Sudah ayo makan," ajak sang anak.
Wanita paruh baya itu duduk disamping suaminya. Betapa dia bersyukur dipertemukan dengan laki-laki yang tepat. Dipernikahan pertama nya dia harus merasakan kehancuran dalam rumah tangganya. Menikah dengan laki-laki yang salah serta menjadikan dia alat pemuas nafsu dan diperlakukan tak berperikemanusiaan. Serta sang mantan suami yang memasukkan orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
**Bersambung... **
__ADS_1