
"Bby," renggek Aerin.
Sejak dinyatakan positif hamil, Aerin semakin manja pada suaminya. Mungkin karena dikehamilan pertama dia tidak pernah merasakan dimanja oleh suami dan sekarang dia malah merasakannya.
"Sayang, aku masih bau. Jangan peluk-peluk dulu. Aku mandi dulu, nanti dedek bayinya ikutan bau," celetuk Alan melepaskan pelukan istrinya apalagi wanita itu memeluknya dari belakang.
"Hubby, tidak mau aku peluk?" Aerin menatap suaminya tajam.
"Sayang, bukan begitu. Aku 'kan belum mandi. Ini masih bau," ucap Alan. Jangan sampai Aerin merajuk lagi dan marah padanya. Bisa tidur diluar dia malam ini.
"Tahu ahh alasan Hubby saja. Aku tidak mau bicara denganmu. Aku ngambek." Wanita itu menghentak-hentakkan kakinya kesal sambil masuk kedalam kamar dan membanting pintu dengan keras.
Alan mengelus dadanya sabar. Kehamilan Aerin kali ini benar-benar rewel. Alan lebih memilih dia saja yang mengidam seperti kehamilan ke-empat anak kembarnya, dari pada menghadapi mood Aerin yang berubah-ubah. Wanita hamil tidak bisa dilawan dan dibantah kemauannya.
"Daddy yang sabar." Zanka mengelus lengan Alan sambil menatap ayahnya itu.
"Iya Daddy, sabar. Orang sabar itu pasti kesal," sambung Chana tersenyum manis sambil menggoda.
"Sabar, Dad." Shaka ikut menimpali. Kasihan juga melihat penderitaan ayahnya tersebut.
"Son, bolehkah Daddy menangis?" Alan benar-benar frustasi dengan sifat istrinya.
"Hem, Daddy ingin menyerah?" Shaka menatap ayahnya tajam. "Bukankah itu juga karena ulah Daddy, Mommy hamil?" sambungnya.
Alan mendelik. Dari mana anaknya itu tahu kalau itu ulah dia?
"Ya sudah Daddy masuk kamar dulu. Kalian lanjut belajar," suruhnya
"Daddy perlu bantuan?" tawar Chana.
"Tidak, Son. Daddy bisa sendiri," jawab Alan tersenyum.
Alan masuk kedalam kamarnya. Tampak Aerin yang duduk diatas ranjang dengan bibir menggerecut kesal. Dia kesal karena tidak bisa memeluk suaminya. Dia suka sekali memeluk suaminya itu. Bau harum tubuh Alan membuat hatinya senang. Entahlah, ada apa dengan kehamilan nya kali ini?
Alan segera mandi. Dia harus siapkan energi untuk membujuk Aerin kembali agar tidak merajuk.
__ADS_1
"Sayang." Alan naik keatas ranjang.
"Tahu ahh aku masih marah. Hubby tidak mau aku peluk. Hubby jahat," ucapnya kesal sambil melipat kedua tangannya didada.
"Sayang, aku minta maaf. Tadi 'kan aku baru pulang dari kantor. Tubuhku bau asam, masa Sayang peluk aku yang badannya bau. Nanti Sayang sakit bagaimana?" ucap Alan masih berusaha membujuk harimau betina yang masih merajuk itu.
"Tapi 'kan aku hanya ingin memelukmu. Begitu saja marah." Aerin masih belum luluh.
"Iya iya aku minta maaf. Sini peluk," sambil merentangkan tangannya agar wanita itu masuk kedalam pelukannya.
Senyum Aerin mengembang. Apakah ini bawaan bayinya atau memang dia pada dasarnya manja?
Aerin bersorak senang dan masuk kedalam pelukan suaminya. Dia mengendus-enduskan hidungnya di dada Alan dan menyesap bau parfum yang dipakai suaminya itu.
"Hubby harum," ucapnya manja.
"Iya. Tidak ngambek lagi 'kan?" Alan terkekeh.
"Tidak. Tapi Hubby harus peluk aku sepanjang malam," pinta Aerin.
"Sebelum tidur jangan lupa minum susu dulu." Alan mencolek hidung istrinya dengan gemes.
"Iya, Bby." anita itu menurut saja.
Alan tak keberatan karena kehamilan Aerin yang membuat istrinya itu manja. Malah lelaki itu tampak senang karena direpotkan oleh sang istri. Dia merasakan bagaimana nikmatnya menjadi suami.
Untung ke-empat anak kembarnya yang masih berusia lima tahun itu sudah mengerti dan tidak manja seperti anak-anak pada umumnya jadi Alan tidak perlu ekstra selalu mengurus mereka, hanya cukup memandikan lalu menemani makan. Jika ada waktu senggang disaat Aerin tidak rewel, Alan biasanya menemani ke-empat anaknya belajar. Pokoknya Alan sangat menikmati perannya sebagai seorang suami dan ayah.
Sementara Arkin dan Bella tetap tinggal di rumah mereka. Keduanya memilih menikmati masa muda berdua, apalagi Arkin masih dalam proses pemulihan. Begitu juga dengan Christoper yang memilih memulihkan hatinya dan tinggal bersama putranya, Alta.
"Ayo Sayang kita tidur." Alan mematikan lampu kamar mereka. Lalu berbaring.
"Bby." Aerin memeluk suaminya seperti bantal guling.
Alan terkekeh geli. Beginilah setiap malam aktifitas nya yang menidurkan istrinya yang tengah hamil itu. Untung nya juga mengidam Aerin tidak aneh-aneh seperti di kehamilan pertama. Aerin tidak minta yang ekstrim-ekstrim paling hanya ingin makan yang asam-asam dan yang asin-asin tetapi selebihnya tidak. Hanya saja wanita itu mau nya menempel terus pada suaminya, dan minta dipeluk. Tidak masalah, Alan menikmati pernananya sebagai suami yang baik dan sayang istri.
__ADS_1
Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Aerin. Wanita itu memeluk suaminya dengan erat dan nyaman. Dia tampak terlelap dipelukan Alan.
Alan tersenyum gemes. Dalam hidupnya tak pernah terbayang dia akan berada diposisi ini. Dulu dia pikir akan terjebak selamanya dalam kurungan Anne dan takkan bisa melepaskan diri. Tidak pernah terbayang dia akan menjadi suami siaga yang bisa segalanya serta menjadi ayah yang mengurus ke-empat anaknya. Anehnya, Alan justru begitu bahagia sekarang. Sangat malah, karena ternyata menjalani peran ini sangat menyenangkan.
"Aku tak menyangka akan sebahagia ini hidup denganmu. Ahh betapa bodohnya dulu aku tidak bisa membelamu saat mereka memisahkan kita. Tetapi sekarang, aku takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakanmu dan anak-anak. Kalian adalah harta paling berharga dalam hidup ku. Selamat tidur istriku." Alan mengecup kening wanita itu. Lalu menaikkan selimut mereka.
.
.
"Kenapa, Son?" tanya Christoper melirik anaknya yang duduk melamun menatap kedepan.
"Tidak apa-apa, Dad," jawab Alta.
Kedua pria jomblo itu sama-sama merenungi nasib. Kini keduanya memang hidup bersama.
Christoper berusaha kuat menahan sesak di dalam dadanya ketika mengikhlaskan Ratih bahagia bersama lelaki yang menjadi teman hidupnya.
"Masih memikirkan, Mommy?" tebak Alta.
Christoper menarik nafas dalam, "Mustahil tidak memikirkannya. Kau tahu 'kan betapa dulu Daddy mengobati, Mommy. Tetapi apa boleh buat jika takdir berkata lain," jawab Christoper tersenyum kecut. Nyatanya melepaskan apa yang pernah dia miliki.
"Apa perlu aku mencarikan jodoh untukmu, Dad?" goda Alta mengedipkan matanya jahil.
Christoper mendelik kearah putranya, "Kau ini. Kau itu yang seharusnya mencari jodoh bukan Daddy," protesnya seraya menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan.
Alta tersenyum lalu menghela nafas panjang.
"Kenapa ya, Dad? Sejak dulu kita selalu berdua! Sekarang kita berdua lagi," ucap Alta.
Sejak dulu mereka memang selalu hidup berdua. Walau ada Ema dan Anne keduanya jarang sekali berkumpul dengan perempuan itu.
"Oh ya Dad, bagaimana dengan Simon? Apakah dia masih hidup?" tanya Alta.
"Masih. Biarkan saja, sampai dia menemukan ajalnya," jawab Christoper santai.
__ADS_1
Bersambung....