
"Yee, akhilnya Daddy pulang hali ini!" seru Shena dengan wajah sumringahnya.
Alan tersenyum simpul, dia usap kepala Shena yang duduk di sampingnya. Putri kecilnya ini begitu manja dan lengket. Duplikat Aerin kecil melekat sepenuhnya pada Shena.
"Bagaimana perasaanmu, Dad?" tanya Shaka menatap wajah lelaki itu.
"Sudah lebih baik, Son," jawab Alan.
"Daddy jangan capek-capek dulu ya," sambung Chana.
"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan Dad. Katakan saja pada Zanka," timpal Zanka sambil membantu Aerin memasukkan barang-barang sang ayah di dalam koper.
"Terima kasih, Son," sahut Alan.
Kondisi Alan perlahan membaik dan hari ini dia sudah di perbolehkan oleh dokter untuk pulang, walau harus menjalani beberapa perawatan lainnya.
Shena terus berceloteh sambil mengurut tangan Alan yang duduk di atas brangkar. Gadis kecil itu seolah tak kehabisan kata untuk mengajak ayahnya berbicara. Alan saja salut mendengarnya, entah berapa kosa kata yang ada di kepala anaknya itu sehingga berbicara saja seperti mesin jahit sangat lancar walau belum bisa menyebut huruf R.
"Ck, Nana apa kau tidak bosan terus berceloteh seperti itu?" singgung Zanka yang jenggah mendengar adiknya yang cerewet dan berisik.
"Memang kenapa? Nana 'kan sedang belbicala dengan Daddy!" cetusnya.
"Sudah jangan berdebat," ucap Aerin menangahi.
Yoas, Yoel dan Agam masuk ke dalam ruangan rawat inap Alan. Ada Christoper dan juga Alta yang selalu setia menemani Alan dan Aerin selama di rumah sakit. Christoper memberikan fasilitas yang tak main-main untuk menantunya, semuanya dia sediakan untuk Aerin dan Alan.
"Bagaimana keadaanmu, Lan?" tanya Christoper lembut.
"Sudah lebih baik, Dad," jawab Alan yang masih canggung.
Alan setengah tak percaya jika mertuanya adalah ayah kandung dari istrinya sendiri. Dunia begitu sempit dan sulit di tebak. Lelaki yang selama ini menyiksa istrinya ternyata memiliki hubungan darah dengan lelaki itu.
"Iya sudah, istirahat saja. Jangan melakukan aktifitas berat. Setelah kondisimu membaik, Daddy akan bawa kalian pulang ke Indonesia," ucap Christoper.
"Iya Dad," jawab Alan.
Agam melihat betapa bahagianya Alan dan Aerin. Hingga kini Aerin belum tahu jika dirinya adalah saudara tiri dari wanita tersebut. Robson meminta Agam untuk tidak mengatakan hal itu sebelum Alan pulang dari rumah sakit karena takut menganggu pikiran Aerin yang tengah fokus pada suaminya.
"Mari, Tuan," ucap Yoas mempersilakan.
__ADS_1
"Biar aku yang bantu, Kak," sergah Aerin.
"Baik, Nona."
Aerin membantu suaminya duduk di kursi roda. Alan masih belum bisa berjalan normal seperti biasa, terlalu lama koma membuat beberapa sendi dalam tubuhnya seperti tak bisa digerakkan. Shaka, Zanka dan Chana langsung membantu sang ibu agar ayah mereka bisa duduk dengan nyaman di atas kursi roda. Hal tersebut sukses membuat orang lain terharu dan merasa iri dengan perhatian anak-anak berusia 5 tahun tersebut. Padahal mereka masih belia yang tentunya pemikiran mereka hanya sekilas bermain dan bermain.
"Ayo," ajak Christoper.
.
.
Brak!
Jasmine dan Lisa di dorong begitu saja hingga tubuh kedua wanita itu terjerembab di atas tanah.
"Awww," rintih Lisa sambil menjerit kesakitan.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan sehingga mengurung kami di sini?" sentak Lisa dengan wajah marahnya.
"Kami di suruh Tuan Christoper untuk menangkap Anda," jawab salah satunya.
"Kami tidak punya urusan dengannya," sergah Lisa.
Namun, para pria berbadan kekar itu tidak peduli. Mereka menulikan telinga dan tak mau mendengar celotehan dan protes dari Jasmine dan Lisa.
"Masukkan mereka ke dalam sel!" titah salah satunya.
"Baik Boss."
Jasmine dan Lisa kembali di seret paksa apalagi ketika dua wanita itu memberontak. Keduanya di bawa ke dalam salah satu ruangan yang memiliki sel seperti penjara. Masing-masing sel berukuran kecil dan cukup untuk satu orang.
Jasmine dan Lisa terkejut ketika melihat ada Jo dan Anne di sana. Kedua orang itu terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Anne duduk meringguk di bagian pojok area sel tersebut seraya menyebut nama Alan berulang kali. Penampilannya berantakkan dengan rambut acak-acakan dan bagian wajah yang lebam. Mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra tetapi suara yang keluar terdengar seperti menyebut nama Alan.
Jo berbaring meringguk seperti orang yang sedang mengigil dan dia memangil nama Aerin. Nama wanita yang pernah dia cintai dan hingga sekarang masih melekat di dalam hatinya. Tetapi sayang hanya karena kebodohannya yang mempercayai ucapan Jasmine dan Lisa membuat lelaki itu kehilangan wanita yang tulus mencintainya.
"Jo," panggil Lisa.
__ADS_1
Namun, lelaki itu sama sekali tak menanggapi. Bibirnya terus memanggil nama Aerin dan meminta maaf sepenuh jiwa dan raganya.
"Nona Anne," panggil Jasmine yang tak percaya melihat kondisi wanita yang bekerja sama dengannya tersebut.
Anne adalah wanita kelas atas yang berprofesi sebagai model papan atas. Tak hanya karena dia model dan cantik tetapi juga statusnya sebagai istri seorang Alan yang membuat orang-orang kagum akan sosok wanita cantik tersebut. Selain itu dia terlahir dari keluarga paling kaya yang memiliki banyak perusahaan di berbagai negara. Namun, siapa yang menyangka jika di balik kehidupan bahagia yang lain lihat, dia adala seseorang yang kekurangan kasih sayang. Seseorang yang berambisi untuk mendapatkan semua keinginannya walau menyakiti dirinya sendiri.
"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Jasmine menutup mulut tak percaya melihat kondisi Jo dan Anne yang menggenaskan.
"Bawa mereka masuk!" suruh sang boss.
"Baik, Boss."
Jasmine dan Lisa di paksa masuk ke dalam sel yang berbeda tetapi berdampingan.
Brak!
"Awww," rintih.
Pintu sel di kunci dengan gembok agar kedua wanita itu tidak bisa kabur.
"Lepaskan aku," teriak Jasmine menguncang pintu sel.
Sementara Lisa sudah pasrah dan tak bisa melawan. Wanita itu terus menatap kearah Jo yang berbaring. Wajahnya tampak sendu, jujur saja Lisa memiliki perasaan dalam pada lelaki tersebut. Itulah tujuan dia memfitnah Aerin agar bisa mendapatkan hati lelaki itu. Tetapi sayang, apapun yang dia lakukan sama sekali tidak menarik perhatian Jo. Jo lebih memilih Anne yang bisa memberikan segalanya.
"Jo," panggil Lisa.
Wanita itu mengulurkan tangannya untuk mencapai kepala Jo lalu mengelus kepala lelaki tersebut.
"A-aerin," lirih Jo.
"A-aerin," panggilnya lagi.
Air mata Lisa luruh, kenapa di saat seperti ini lelaki itu masih memikirkan Aerin yang jelas tidak akan mungkin kembali lagi padanya?
"Ma-maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan sambil menangis.
Christoper memerintahkan para anak buahnya untuk memberikan sesuatu pada Anne dan Jo sehingga kedua itu tak berdaya. Ramuan yang masuk ke dalam tubuh mereka, seperti mengajak ke-duanya kembali ke masa lalu dan mengingat semua kesalahan yang telah mereka lakukan pada orang-orang sebelumnya.
Bersambung.....
__ADS_1