Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Lepaskan Mommy!!


__ADS_3

"MOMMY," teriak Shena sambil mengulurkan tangannya hendak menggapai mata Aerin yang terpejam.


"Bawa dia!" titah Anne menggendong tubuh Shena.


Gadis kecil itu memberontak dan meminta Anne melepaskan dirinya. Dia berulang kali menggoyangkan kaki kecilnya agar terlepas dari gendongan wanita ini. Tetapi tetap saja tubuh sekecil itu tak mampu mengalahkan Anne.


Jo mengangkat tubuh Aerin. Sejenak dia tatap wajah wanita yang dulu begitu dia cintai. Sekarang pun perasaannya masih sama. Hanya saja dia di butakan oleh kenyataan yang dia belum tahu sama sekali sehingga membuat dia gelap mata dan tega menjebak kekasihnya sendiri.


"Ck, kau mau tetap berdiri di situ, Jo?" sindir Anne melihat Jo yang diam saja sambil menatap wajah Aerin.


"Iya."


Jo melangkah menggendong tubuh Aerin, wanita itu terlelap dengan nyaman setelah di pukul bagian belakangnya. Bahkan dia sama sekali tak mendengarkan teriakan dan tangisan putri kecilnya.


"MOMMY," teriak Shena lagi.


"Diam!" hardik Anne. "Atau kau mau tubuhmu ku lempar di jalanan?" ancam Anne.


Namun, tangis Shena tak mereda sama sekali. Dia ketakutan melihat sang ibu yang biasa tersenyum malah terpejam dengan erat. Dia menangis memanggil nama ibunya berharap suara teriakkan dan panggilannya di dengar oleh wanita tersebut.


Anne dan Jo membawa kedua wnaita berbeda usia itu ke dalam mobil. Shena terus memberontak meminta di lepaskan.


Plak!


"Diam anak haram!" bentak Anne.


Pipi gadis kecil itu memerah karena pukulan kuat dari Anne, bahkan bekas jarinya terlihat disana.


"Anne, jangan kasar dia masih kecil," tegur Jo yang tak tega melihat Shena kesakitan.


"Kau membelanya, Jo?" Anne memincingkan matanya curiga.


"Tidak. Aku hanya kasihan," sahut Jo menyalakan mesin mobilnya.


"Hiks hiks hiks, Mommy bangun," panggil Shena memegang pipinya yang terasa panas dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Entah berapa kuat Anne menampar gadis kecil itu.


Jo melirik wajah Aerin yang terbaring di bangku belakang bersama Shena yang menangis. Kenapa hatinya mencelos sakit? Dia menggeleng dan berusaha mengenyahkan segala perasaan yang menganjal di dalam sana. Dia ingin balas dendam dan membuat Aerin merasakan sakit seperti yang dia rasakan.

__ADS_1


"Mommy," panggil Shena memeluk Aerin yang terbaring.


Sementara Anne tersenyum licik seperti iblis, dia takkan biarkan Aerin hidup dan menikmati udara segar. Bila perlu nama Aerin tak perlu ada lagi di dunia ini, dia akan lenyapkan dan hilangkan nama wanita tersebut.


"Akan kau apakan mereka?" tanya Jo.


"Lihat saja nanti," jawab Anne. "Dia harus menerima pembalasanku karena sudah berani merebut Alan dariku," sambungnya sambil melipat kedua tangannya di dada tanpa rasa bersalah.


Jo terdiam, niatnya pun sama seperti Anne. Tetapi kenapa saat melihat wajah Aerin yang pingsan membuat hatinya terenyuh, apalagi mendengar isakkan menyayat dari Shena yang memanggil ibunya.


"Kenapa? Kau berubah pikiran, Jo?" sindir Anne seolah tahu apa yang dipikirkan oleh fatner ranjangnya tersebut. "Aku berharap kau tak berniat menyelamatkan Aerin," sambungnya.


"Tidak, aku sama sekali tdiak berniat menyelematkannya. Aku hanya kasihan pada gadis kecil ini," sahut Jo melirik Shena yang masih menangis.


"Kenapa harus kasihan? Bukankah dia anak haram? Yang kehadirannya menghancurkan kebahagiaan orang lain?" ucap Anne sinis. Dia sama sekali tidak kasihan melihat wajah berantakkan Shena yang menangis dengan pipi yang merah.


Mobil yang di kendarai oleh Jo sampai di sebuah gedung tua, terlihat dari rumput-rumput liar yang tumbuh di pekarangannya.


"Bawa dia!" suruh Anne.


"Lepaskan Mommy. Lepaskan Mommy," teriaknya berulang kali berharap kedua orang itu melepaskan sang ibu.


Jo dan Anne membawa Aerin dan Shena masuk ke dalam gedung tua tersebut. Di sana mereka sudah di tunggu oleh beberapa pria berbadan kekar serta memakai baju hitam. Hal itu membuat Shena semakin menangis ketakutan, pikiran polosnya mengingatkan dia pada film-film yang pernah dia tonton, pria berbadan seperti itu biasanya suka menculik anak kecil sepertinya.


"Kurung mereka!" titah Anne memberikan Shena pada salah satu pria berbadan besar tersebut.


"Baik, Nona."


Shena dan Aerin di masukkan ke dalam sebuah ruangan gelap berlantaikan tanah, hanya ada jendela kecil di atas yang menghubungkan langsung dengan alam.


"Gadis kecil, kau jaga Ibu-mu baik-baik ya. Maaf, aku tidak akan memberikanmu makan!"


Brak!


Anne mendorong tubuh Shena dengan kasar sehingga gadis kecil itu tersungkur di tanah tepat berada disamping Aerin yang terbangun.


"Tinggalkan mereka," ucap Anne.

__ADS_1


Sekilas Jo melihat Shena yang tampak ketakutan. Dia berusaha memalingkan wajahnya agar tak merasa kasihan pada gadis tersebut. Dia tak mau perasaannya terganggu hanya karena kebodohannya sendiri.


Pintu di tutup, ruangan hanya remang-remang terlihat dengan lampu kecil berwarna merah yang tak mampu menerangi ruangan tersebut.


"Mommy, hiks hiks bangun," panggil Shena berulang kali sambil menggoyangkan tangan Aerin. "Nana takut, disini gelap, Mom," adunya melirik sekilasnya.


Gadis itu takut pada kegelapan, dia bahkan tak bisa tidur jika lampu tidak di nyalakan.


"Mommy, hiks hiks. Nana takut, Mom. Nana takut," renggeknya memeluk tubuh Aerin yang mulai dingin karena suhu yang keluar dari tanah tersebut.


"Kakak. Ayah. Papa," panggilnya pada para lelaki yang selalu menemaninya tersebut. "Tolong Nana dan Mommy. Nana takut, Kak," ucapnya lagi menangis tersedu-sedu.


Lama gadis kecil itu menangis di atas tanah yang dingin serta ruangan gelap. Hingga dia terlelah dan tertidur berbantalkan perut sang ibu. Bahkan saat tertidur air matanya menetes keluar.


.


.


"Hem, apa sebaiknya beri saja mereka makan," saran Jo.


Jo tampak gelisah. Sejak memasukkan Aerin dan Shena ke dalam ruangan tersebut, hatinya gelisah tak menentu dan bahkan duduknya pun tak tenang.


"Untuk apa? Sama saja menyelamatkan mereka dari kematian," cetus Anne jenggah.


Anne menatap Jo curiga dari tadi pria itu tampak gelisah tak menentu.


"Kau masih memikirkan pelakor itu, Jo?" Dia menatap Jo dengan selidik. "Apa kau masih mencintainya?" tanya Anne lagi.


"Tidak. Aku hanya kasihan," ucap Jo beralasan dan jawabannya masih sama hanya karena kasihan.


Anne duduk dipangkuan Jo, lalu melingkarkan lengannya di leher Jo, entah kenapa dia tidak suka ketika Jo memuji mantan kekasihnya itu. Apakah Anne cemburu? Apakah rasa itu kian tumbuh setelah sekian lama menjadi fatner ranjang satu sama lain.


"Jo, aku ingin kau membantuku membalaskan semua dendamku pada Aerin. Tolong jangan berubah!" pintanya sambil mengelus bagian rahang Jo. Terasa bahwa bagian bawah lelaki itu sudah berdiri saat Anne mendudukinya.


Jo lagi-lagi terdiam. Tangannya memeluk pinggang Anne dengan posesif, entah kenapa perasaannya kacau seperti ini.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2