
"Kalian sedang apa, Son?" tanya Aerin pada ketiga anaknya yang tampak sibuk berdiskusi.
Sementara si kecil Shena sedang bermain bersama ayahnya, Yoas. Gadis kecil itu belum mengerti apa-apa, selain bermain dan belajar.
"Kami sedang kerja kelompok, Mommy," kilah Shaka.
Aerin tersenyum lalu duduk di bibir ranjang ketiga anaknya.
"Anak-anak Mommy memang pintar," puji Aerin terkekeh.
"Iya dong, siapa dulu Mommy-nya?!" seru Chana dengan bangga sambil membusungkan dadanya.
"Dih," cibir Zanka memutar bola matanya malas.
Sementara Shaka hanya tersenyum saja, lelaki yang satu ini memang tak banyak bicara. Dia terkesan tak peduli pada lingkungan sekitarnya. Seolah orang-orang yang berada didekatnya hanyalah butiran debu.
"Mom," panggil Shaka menatap Aerin.
"Iya Son, kenapa?" tanya Aerin dengan nada lembutnya. Wanita ini seperti tak pernah marah.
"Apa Shaka boleh bertanya sesuatu?" tanya balik lelaki kecil itu.
Zanka dan Chana hanya diam saja. Dia menunggu sang kakak berkata.
"Tanyakanlah, Son. Mommy akan jawab jika Mommy tahu," sahut Aerin.
Shaka mengangguk, lelaki kecil itu terdiam sejenak. Lalu menatap ibu-nya serius. Dia benar-benar ingin tahu siapa ayah-nya dan di mana keberadaannya.
"Di mana Daddy, Mom?"
Deg
__ADS_1
Aerin langsung terdiam, pertanyaan anaknya seperti bom yang meledak didalam hatinya, lalu menghancurkan partikel-partikel hati yang sudah dia bentuk dengan sedemikian rupa. Wanita itu menatap anak sulungnya dengan dalam. Entah apa yang harus dia jawab? Anak-anak ini masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi di masa lalu sebelum ada mereka.
"Mommy," panggil Shaka sekali lagi sambil mengusap lengan Aerin.
Aerin mencoba tersenyum menutupi luka yang membelit didalam hatinya. Bagaimanapun tak ada orang yang baik-baik saja jika membahas masa lalu. Apalagi masa lalu tersebut begitu menyakitkan, seperti yang pernah dilalui dan dirasakan oleh Aerin.
"Kenapa kau menanyakan itu, Son? Bukankah sudah ada Ayah dan Papa yang menjadi ayah untukmu?" tanya Aerin
Shaka menggeleng, "Shaka tidak merasakan kehangatan. Rasanya berbeda," jawab lelaki itu jujur, matanya kembali berkaca-kaca. Disekolah mereka selalu di olok karena memiliki dua ayah. Ada yang mengatakan jika sang ibu memiliki dua suami.
Tangan Aerin mengusap kepala anaknya. Dia bingung harus menjawab apa, apakah dia harus ceritakan masa lalunya? Tetapi anak-anak itu belum paham arti rasa sakit dan perpisahan. Aerin takut malah melukai hati ketiga anaknya.
"Mommy, katakan saja. Kami akan memahami apa yang pernah Mommy alami," sambung Zanka.
"Iya Mommy. Jangan khawatir," Chana ikut menimpali.
Aerin tak percaya jika bahasa itu keluar dari mulut kecil anak-anaknya. Bagaimana bisa, anak berusia 5 tahun tetapi sudah bisa mengatakan hal-hal seperti ini? Selama ini memang didikan Aerin sangat keras pada mereka. Sebab Aerin tak mau anak-anaknya mengalami nasib buruk seperti yang pernah dia lewati.
"Baiklah, Mommy akan katakan. Apapun yang Mommy katakan, Mommy harap tidak membuat hati kalian terluka," ucap Aerin menatap ketiga anaknya.
"Kami berjanji Mom," sahut ketiganya kompak.
Aerin menarik nafas dalam sangat dalam, lalu dia menghembuskannya perlahan untuk menyiapkan hati dan mentalnya. Aerin harus kembali menguak rasa di masa lalunya. Dia tak baik-baik saja. Dia benar-benar terluka, dia pikir Alan adalah pria yang Tuhan kirim untuk menyelematkan dirinya dari cengkraman kekejaman ibu dan kakak tirinya. Tetapi ternyata lelaki itulah yang membawa kehancuran hingga hidupnya tak berbentuk.
Aerin mulai menceritakan semua kejadian di masa lalunya. Dia adalah anak broken home, kedua orangnya memilih jalan hidup sendiri meninggalkan dirinya ditengah kegelapan kejamnya dunia. Tak hanya itu dirinya dijebak oleh sang kekasih hingga tidur bersama pria asing. Hasil cinta satu malam itu menumbuhkan benih didalam rahimnya. Saat hal tersebut diketahui oleh ayah-nya, dia malah di usir dari rumah. Lalu di nikahi oleh pria yang menidurinya.
Aerin bahagia, dia mengukir segala cinta dan impian bersama suaminya, membangun istana cinta yang sudah lama dia rancang. Bahagia, Aerin benar-benar bahagia kala itu. Apalagi Alan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya manusia. Menyanyanginya dan tak pernah menyakiti hatinya baik lewat perkataan ataupun tindakan.
Namun, lagi kebahagiaan yang dia pikir telah menjadi takdirnya. Harus direbut paksa oleh orang yang lebih dulu hadir dikehidupan suaminya. Saat itu Aerin baru tahu jika dirinya istri kedua dan pelakor dalam rumah tangga sang suami. Tidak sampai di situ mereka langsung dipisahkan oleh kekejaman Christoper dan Alta yang sama sekali tak memiliki belas kasihan.
Aerin sempat ingin di bunuh, tetapi Tuhan masih memiliki rencana dalam hidupnya. Sehingga Yoas dan Yoel yang seharusnya melenyapkan wanita itu malah menyelamatkan dan membawa Aerin keluar negeri. Semua benar-benar tak mudah, di usia kehamilan Aerin yang semakin membesar dia harus berjuang setengah mati menahan segala sakit membawa perut besarnya itu. Lagi-lagi, Yoas dan Yoel datang sebagai penyelamat dalam hidupnya. Kedua saudara itu, seperti malaikat yang Tuhan kirim untuk menyalamatkan hidup Aerin.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks hiks."
Tangis Aerin pecah setelah menceritakan betapa pahit hidupnya yang dulu. Dia selalu tak kuat jika membahas tentang Alan, luka lama itu akan kembali mengangga didalam sana.
"Mommy."
Ketiganya memeluk Aerin sambil saling bertangsian. Mereka turut merasakan luka yang dirasakan oleh sang ibu. Pantas saja selama ini sang ibu tak pernah menceritakan tentang siapa ayah kandung mereka. Ternyata, sesakit itu kejadian yang pernah ibunya alami.
"Maafkan Shaka, Mom," ucap Shaka merasa bersalah.
"Chana juga minta maaf, Mom. Hiks hiks," sambung Chana yang menangis memeluk Aerin.
"Hiks hiks Zanka juga, Mom," timpal Zanka sambil menangis.
Jika kedua adiknya menangis maka tidak dengan Shaka yang tampak diam saja sambil memeluk Aerin. Dia membayangkan penderitaan kedua orang tua nya.
Aerin masih menangis hebat hingga badannya bergetar karena menangis. Dia berusaha tak menangis didepan anak-anaknya. Namun, dia hanya wanita biasa dan seorang istri serta ibu yang terluka.
"Mom," panggil Shaka melepaskan pelukan Aerin yang diikuti oleh kedua adiknya.
Aerin menatap putranya, mata dan pipinya sudah basah karena air mata yang meleleh sesuka hati.
Jari-jari mungil itu mengusap pipi basah sang ibu. Aerin memejamkan matanya merasakan hangat dan lembutnya usapan jari Shaka di wajahnya.
"Maafkan Mommy, Son," ucap Aerin merasa bersalah. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu, karena jika dia berhasil mengemban peran tersebut tentu ketiga anaknya tidak akan bertanya di mana ayah mereka?
"Mommy tidak salah. Jangan minta maaf Mom. Justru Shaka yang harus minta maaf karena sudah membuat Mommy menangis," sahut Shaka.
Lagi-lagi Aerin tercengang mendengar ucapan putranya. Dia tak percaya jika ucapan tersebut keluar dari mulut mungil anak sulungnya.
Bersambung...
__ADS_1