Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Penjelasan Yoas


__ADS_3

"Bagaimana kabar Mommy, Son? Apa dia juga datang ke Indonesia?" tanya Alan penuh harap. Dari tadi dia tak melihat gerak-gerik istrinya.


Shaka menggeleng, "Mommy dan Nana tidak ikut, mereka ada di Sidney," jelas lelaki kecil itu.


Alan menunduk lemah, padahal dia berharap sekali bisa dipertemukan kembali dengan sang istri. Dia benar-benar rindu sosok Aerin dan ingin sekali memeluk wanita itu serta melepaskan semua kerinduan yang menggembang di dalam dada.


"Daddy, tenang saja. Mommy baik-baik saja," jelas Chana yang seolah tahu apa yang di pikirkan oleh ayahnya.


"Iya Dad, Mommy baik-baik saja. Mommy juga merindukanmu, Dad. Setelah ini kita pulang ke Sidney dan tinggal di sana!" sambung Zanka dengan senyuman sumringahnha. Dia sudah membayangkan betapa bahagianya memiliki orang tua lengkap seperti teman-temannya.


Alan terdiam, dia tidak yakin bisa lolos dari cengkraman Anne dan keluarganya. Bukan Alan takut karena dirinya, tetapi dia takut Anne nekad dan malah menyakiti anak-anaknya. Alan tak mau, bocah yang belum tahu apa-apa itu justru jadi korban kekejaman Anne.


"Daddy, kenapa diam saja?" tanya Chana.


"Daddy_"


"Apa Daddy takut pada Tuan Christoper?" tebak Shaka.


Mereka semua menatap kearah Shaka. Sementara lelaki kecil itu santai saja sambil duduk di sofa.


"Darimana kau tahu, Son?" tanya Agam.


"Tanya Ayah," sahut Shaka.


Alan dan Agam sontak melihat kearah Yoas yang sudah kiuk melihat tatapan kedua tuan-nya yang terlihat tajam.


"Shaka mencari tahu sendiri, Tuan. Saya hanya menjelaskan," ucap Yoas membela diri.


Shaka mengangguk dan membenarkan ucapan ayahnya, "Apa Tuan Christoper sekejam itu, Dad?" tanya Shaka penasaran.


Alan menarik nafas dalam, dia mengangkat anaknya itu agar duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Dia sangat kejam. Jangan berani mendekatinya, Son. Kita akan pulang ke Sidney tanpa sepengetahuan mereka," jelas Alan mengusap kepala Shaka dengan lembut. Tak bisa dia pungkiri bahwa kini dia merasakan ketakutan yang luar biasa di dalam hatinya.


Shaka mengangguk paham. Tetapi dia masih penasaran, siapa sebenarnya Christoper kenapa semua orang terlihat takut padanya?


"Yoas, apa sebenarnya yang sudah terjadi?" tanya Alan, dia masih belum puas sebelum mendengar penjelasan dari sang asisten.


Yoas menarik nafasnya dalam, "Saya dan Yoel di tugaskan oleh Tuan Christoper untuk membunuh Nona, Tuan," jelas Yoas.


"Kalau kami tidak melakukannya maka nyawa kami akan menjadi taruhannya," sambung Yoas lagi mengingat kejadian enam tahun yang lalu.


"Tetapi saya dan Yoel tidak mungkin melakukan hal tersebut. Bagaimana bisa kami tega membunuh wanita hamil yang tidak tahu apa-apa seperti Nona," tukas Yoas.


"Akhirnya kami memutuskan membawa Nona ke Sidney. Berbekal tabungan dan kepandaian Yoel, kami memulai hidup yang baru di sana. Membeli rumah yang tidak besar untuk bertahan hidup sampai saya dan Yoel mendapatkan pekerjaan. Nona, tidak pernah mengeluh walau kehidupan kami pas-pasan. Kami juga harus siaga menjaga Nona yang hamil besar, kami sempat terkejut ketika dokter menjelaskan bahwa Nona mengandung empat bayi kembar."


"Saat melahirkan, Nona mengalami pendarahan hebat dan sempat koma selama sebulan. Setiap hari si kembar menangis mencari ibu-nya, saat itu mereka belum memiliki nama," jelas Yoas lagi.


Alan tak mampu mendengar penderitaan sang istri, air mata luruh di pipinya lagi. Begitu juga dengan Agam yang selama ini menganggap bahwa Aerin baik-baik saja. Ternyata adiknya itu sangat menderita.


"Saya dan Yoel juga harus memperketat penjagaan karena ternyata anak buah Tuan Christoper dan Tuan Alta memantau pergerakan kami. Mereka mengirim orang-orang kepercayaan mereka dengan jumlah yang cukup banyak, hingga kami di temukan oleh Tuan Robson. Disanalah kami berlindung dan bernaung. Saya tidak bisa bayangkan, seperti apa hidup kami jika tidak ada Tuan Robson," jelas Yoas menceritakan betapa pahit perjalanan hidup Aerin dan si kembar saat selalu di kejar oleh kekuasaan Christoper.


"Sudah, jangan dilanjutkan, Yoas," sergah Agam. "Persiapkan semuanya, kita akan berangkat ke Sidney menemui Aerin dan Nana. Aku takut jika Christoper dan Alta menemukan mereka, mereka bisa melakukan hal-hal yang lebih kejam lagi," jelas Agam. Aerin adalah adiknya, dia tidak mau terjadi sesuatu pada wanita tersebut.


"Biarkan Ayah dan Ibu ikut, Son," pinta Bella. Wanita itu tak mau terpisah dari cucunya.


"Iya Bu," sahut Alan.


"Lalu bagaimana dengan Nona Anne? Dia tidak akan tinggal diam saja saat tahu kita ke Sidney!" jelas Yoas.


"Kita pikirkan nanti. Kita harus segera ke Sidney," ucap Agam.


Alan mengangguk setuju. Dia melirik sang ayah yang masih terduduk lemah di kursi roda. Dia harus membawa kedua orang tua nya untuk ikut bersama dengan dirinya. Sebab dia takut, jika Christoper malah mencelakai orang tua nya lagi seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


.


.


"Sudah ku duga jika perempuan itu masih hidup," ucap Jasmine dengan menggebu-gebu.


"Biarkan sajalah, Bu. Lagian semua harta Ayah sudah jatuh ke tangan Ibu. Kalaupun perempuan itu kembali dia sudah tak memiliki hak lagi," ucap Lisa.


"Ck, jangan bodoh Lisa," cetus Jasmine pada anak perempuannya seraya mendorong kening Lisa yang sibuk makan cemilan di dalam toples.


"Ibu, kasar," protes Lisa.


"50% saham perusahaan atas nama Aerin. Saham itu akan jatuh ke tangan kita, kalau berhasil menyingkirkan dia," jelas Jasmine dengan geramnya, anaknya ini tidak mengerti walau sudah di jelaskan beberapa kali.


"Kalau begitu, benar kata Ibu. Kita harus singkirkan dia," sahut Lisa menutup toplesnya.


Seorang wanita paru baya berjalan tergesa-gesa menghampiri Jasmine dan Lisa.


"Maaf Nyonya, Tuan Besar jatuh dari kursi rodanya saat ingin mengambil air," lapor wanita tersebut.


"Ck, urus saja, kenapa harus lapor?" omel Jasmine. "Aku tidak peduli, mau dia jatuh atau mati sekalian bukan urusanku," ucap wanita itu kesal.


Sebenarnya dia ingin membawa Rollies ke panti jompo agar ada yang mengurus. Tetapi suaminya itu bukan orang sembarangan, bisa-bisa viral dan dirinya akan di tuduh sebagai istri yang tidak berbakti pada suami. Walau semua kenyataan itu adalah kebenarannya.


Wanita paruh baya itu langsung kikuk, "Baik, Nyonya," sahut wanita tersebut melenggang masuk ke dalam kamar Rollies.


"Bu, kenapa tidak kita bunuh saja sih pria tua itu?" tanya Lisa dengan wajah kesalnya. "Menyusahkan saja," cetusnya.


"Jangan lupa, hartanya belum sepenuhnya menjadi milik kita. Kalau dia mati duluan, kita bisa tidak dapat apa-apa," sergah Jasmine.


Jasmine wanita berambisi akan harta dan uang, dia rela melakukan apa saja agar kehidupannya glamor termasuk menyingkirkan sang suami yang selalu suka menghalanginya. Keinginan hidup dalam kemewahan itu telah membuatnya gelap mata, sehingga tega mencelakai suaminya sendiri dan menyebabkan kelumpuhan di tubuh Rollies.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2