Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Gelisah


__ADS_3

Alta Hathaway, dulu namanya Alfonzo Ferez, tetapi sejak sang ayah dan ibunya di paksa berpisah dia dipanggil Alta.


Lelaki tampan berusia 40 tahun itu menatap kosong kearah jendela ruangan kerjanya. Usianya tak muda lagi, bahkan bisa di katakan dia adalah perjaka tua yang tidak laku-laku. Dia tidak memiliki masa lalu kelam atau patah hati sebelumnya. Dia memang menikmati masa-masa kesendiriannya dan melebarkan karirnya dalam dunia bisnis.


"Mommy," lirihnya.


Kedua orang tua nya di paksa berpisah saat dirinya berusia 10 tahun. Bayangan sang ibu di usir dari rumah masih terngiang jelas di kepalanya. Hanya karena ibunya seorang wanita miskin dan tak memiliki apa-apa. Bahkan sang ibu membawa bayi yang baru berusia beberapa bulan, sang ayah di ancam jika berani menolong atau mencari keberadaan ibunya maka sang ibu dan sang adik akan di celakai atau bahkan di lenyapkan oleh keluarga ayahnya.


"Apa kabar Mommy dan Baby A disana. Aku merindukan kalian?" lirihnya.


Didikan sang ayah yang keras dan kejam menjadikan Alta juga manusia tak berperasaan, baik dalam bidang apapun. Sehingga tak heran jika banyak para lawan bisnis yang menganggap bahwa lelaki ini adalah rajanya iblis.


"Andai kita bisa berkumpul kembali seperti waktu itu, Mommy," ucap Alta. "Pasti Baby A sudah besar sekarang, apalagi sudah lewat dari 30 tahun," gumamnya.


Setelah beranjak dewasa, Alta mencari keberadaan ibu dan adiknya. Tetapi jejak yang dia dapatkan, adalah ibunya pernah menikah dengan seorang pengusaha muda lalu kembali bercerai karena orang ketiga, adiknya ikut sang ayah tiri tetapi dia sudah berusaha mencari dan hingga kini tak ada lagi informasi yang menunjukkan keberadaan adiknya itu.


Sekarang, dia dan sang ayah sudah lepas dari cengkraman keluarga ayahnya karena kakek dan neneknya sudah berpulang ke pangkuan sang ilahi.


Alta mengambil figura yang terletak di atas meja kerjanya. Dia tersenyum melihat senyuman ayah dan ibunya yang terlihat bahagia sambil menggendong bayi kecil dan dirinya yang masih belia kala itu, tetapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat orang tua dari ayahnya menghancurkan keluarganya bahagia tersebut.


"Aku berharap di berikan satu kesempatan untuk bertemu denganmu lagi, Mommy," ucap Alta lirih.


Tok tok tok


Hingga lamunan pria itu terbuyarkan ketika ada yang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk," suruh Alta menyeka air matanya, lalu meletakkan kembali foto tersebut.


"Permisi, Tuan," sapa Jack, asisten Alta.


"Ada apa, Jack?" tanya Alta menatap asistennya heran, ini jam makan siang tentunya tidak ada laporan penting yang harus dia tandatangani.


"Maaf Tuan, saya menerima laporan ini dari anak buah kita," ucap Jack menunjukkan layar iPad.

__ADS_1


"Apa?"


Alta melihat video yang ada di layar iPad tersebut, dia memincingkan matanya.


"Siapa ketiga bocah kembar ini?" tanya Alta heran. "Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Alan?" sambungnya lagi.


"Mereka anak kembar Tuan Alan, Tuan," jawab Jack.


Alta langsung terkejut, pupil matanya seolah ingin keluar saat mendengar penjelasan dari Jack.


"K-kau serius?" tanyanya setengah tak percaya.


"Iya Tuan, saya sudah memastikan sendiri dan melakukan beberapa kali penyelidikan. Menurut hasil laporan dari anak buah kita, TuanYoas dan Tuan Yoel membawa mereka beberapa minggu yang lalu datang kesini untuk menemui Tuan Alan," jelas Jack panjang lebar.


Alta tersandar di kursinya, dia tidak tahu sama sekali tentang hal ini karena terlalu sibuk mengurus dan memikirkan ibu dan adiknya.


"Lalu?" Alta memijit-mijit pelipisnya yang berdenyut sakit.


"Mereka sekarang menuju Sidney untuk menemui Nona Aerin, Tuan," sahut Jack melaporkan.


"Aku harus memberitahu, Daddy," ucap Alta berdiri dari duduknya. "Jack, kirim anak buah sebanyak mungkin. Cegat mereka di bandara!" titah Alta.


"Baik Tuan Muda," sahut Jack membungkuk hormat dan segeralah melaksanakan perintah Alta.


Alta keluar dari ruangannya dan bergegas keluar. Dia tidak akan biarkan Alan kabur dari Anne. Alta tak mau adiknya itu terluka lagi, walau mereka tak memiliki hubungan darah sama sekali tetapi dia sungguh menyayangi adiknya tersebut.


"Kau tidak akan bisa lepas, Alan. Aku akan habisi anak-anak itu," gerundel Alta mencengkram dengan kuat stir mobilnya.


.


.


"Kau yakin jika Aerin ada di sana?" tanya Jo pada Anne.

__ADS_1


Saat ini mereka sudah berada di Sidney dan menginap disebuah apartemen tanpa sepengetahuan siapapun. Anne beralasan bahwa dirinya ada perjalanan bisnis keluar negeri, karena dia takut bahwa tujuannya adalah untuk menyingkirkan Aerin.


"Tentu, jangan meremehkan kemampuanku, Sayang," ucap Anne duduk di pangkuan Jo. "Bukankah misi kita sama, yaitu membunuh pelakor itu dan membalaskan dendam dan rasa sakit," jelas Anne mengusap rahang Jo.


Jo sejenak terdiam, dia memang membenci Aerin karena kebenaran yang dia tidak tahu, apakah kenyataannya seperti itu.


"Bagaimana kalau Alan tahu?" tanya Jo memeluk pinggang Anne dengan agresif.


"Tidak akan. Alan sudah hidup dalam kurunganku. Dia tidak akan bisa bertindak selama aku masih hidup," ucap Anne dengan penuh percaya diri.


"Kau benar-benar licik, Anne," ucap Jo terkekeh pelan sambil mengecup bibir Anne secepat kilat.


"Iya dan kau benar," jawab Anne tersenyum licik.


"Jadi apa rencana kita selanjutnya?" tanya Jo.


"Aku sedang menunggu laporan dari anak buahku. Setelah mereka berhasil memusnahkan pelindung Aerin dan anaknya, maka aku akan maju untuk menyingkirkan pelakor tersebut," jawab Anne.


"Aku penasaran, apa yang akan kau lakukan padanya?" Jo tertawa pelan.


"Kau ingin tahu?" Anne berdiri dari duduknya. "Aku akan menguluti tubuhnya. Aku juga akan menggantung ke-empat anak kembar itu, agar mereka menyaksikan penyiksaan yang tidak akan bisa mereka lupakan," ucap Anne lagi dengan senyuman liciknya.


Anne menatap kearah jendela apartemennya. Rasa sakit karena penolakan alan masih membekas di hati wanita itu. 15 tahun menjalani hiruk-pikuk dan menggarungi kehidupan rumah tangga bersama Alan, hingga kini lelaki itu masih tidak aku menyentuhnya. Bahkan dengan tak memiliki perasaannya menghamili wanita lain sehingga mereka memiliki anak.


Jo memeluk Anne dari belakang, lalu menyesap bau harum yang keluar dari leher wanita cantik tersebut.


"Lalu bagaimana dengan dua wanita bodoh itu?" tanya Anne.


"Mereka akan menyusul kesini. Mereka juga memiliki ambisi yang sama yaitu menghancurkan Aerin," jelas Jo masih sibuk menyesap bagian leher Anne dengan agresif dan gairah kabut yang terlihat di mata merahnya.


"Pastikan mereka tidak ceroboh. Jangan sampai mereka mengetahui kalau kita hanya memanfaatkan saja," tukas Anne setengah mendesah ketika merasakan sentuhan Jo di bagian tubuh lainnya.


"Pasti. Jangan meragukanku, aku tak pernah gagal," sahut Jo membalikkan tubuh Anne agar menghadap kearahnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2