Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Fakta


__ADS_3

Pesawat yang membawa Alan dan yang lain mengudara landing di tengah-tengah hutang lapang yang sepertinya yang memang sudah di siapkan untuk hal tersebut. Di dekat lapangan besar itu terlihat sebuah gedung tua yang hampa berumput dan memiliki lumut.


Zanka dan Chana masih menangis. Kedua lelaki kecil itu tak bisa menahan perasaan sedihnya ketika mendengar bahwa ibu dan adik mereka berada di dalam sana.


Shaka menatap tajam kedua adiknya, "Zanka. Chana. Dalam keadaan ini jadi tolong jangan seperti anak kecil. Hapus air mata kalian atau tinggal saja di pesawat ini," omel Shaka yang jenggah mendengar kedua adiknya dari tadi masih menangis hingga mata keduanya membengkak. Dia juga takut, hanya saja dia berusaha tenang dan tidak mau menunjukkan sisi rapuhnya.


Agam dan Yoel mendelik mendengar ucapan lelaki kecil itu. Keduanya saling melihat lalu menggeleng saja. Apa tadi kata Shaka, jangan seperti anak kecil? Bukankah mereka memang masih anak-anak?


"Sudah, Son. Jangan bertengkar," ucap Alan menangani.


Zanka dan Chana kompak mengusap air mata mereka. Shaka memang sering mengomel jika keduanya cenggeng, laki-laki tidak boleh menangis.


"Siapkan semua senjata!" perintah Alan. "Kalian bisa, Son?" Dia menatap ketiga anaknya. "Atau kalian tunggu saja disini bersama Papa?" sambungnya.


"Tidak, Dad. Kami ikut," jawab Shaka cepat.


"Tetapi jangan pegang senjata, kalian tidak paham dan itu bahaya," jelas Alan mengambil beberapa senjata yang sudah di siapkan oleh Yoas. Jiwa iblis lelaki itu sebentar lagi akan terlihat.


"Shaka pegang yang kecil saja, Dad," ucap Shaka.


"Chana juga," sambung Chana.


"Zanka juga," timpal Zanka.


Agam menelan salivanya susah payah. Bagaimana bisa anak berusia lima tahun menggunakan senjata api? Bahkan tangannya saja mungkin tak bisa mengangkat benda itu.


Alan menatap tajam kearah gedung tua tersebut. Rahangnya seketika mengeras ketika membayangkan istri dan putrinya di siksa oleh Anne.


"Son, jangan jauh dari Daddy," ucap Alan.


"Iya Dad," jawab ketiga anak itu kompak.


Ketiga bocah itu memakai baju anti peluru yang di pasang oleh Alan. Dia takut jika anak-anaknya sampai terluka. Sebenarnya dia tidak ingin mengajak ketiga anak kembar itu tetapi anak-anak kecil itu bersikeras ingin ikut.


"Aku akan membunuhmu, Anne. Aku akan menguliti tubuhmu jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku," ucap Alan.


Mereka berjalan masuk dengan hati-hati. Alan bersama Shaka. Yoel dan Zanka. Sedangkan Yoas dan Agam bersama Chana. Masing-masing memegang senjata sebagai jaga-jaga, sementara anak buah yang lain berjaga di sekitar gedung jika ada penyerangan balik.


"Berjalan pelan-pelan dan hati-hati, pegang senjata kalian!" ucap Alan.


Mereka mengangguk kompak. Gedung tersebut tampak lusuh dan tua terbukti dari jalan lengket dan basah saat masuk ke dalam. Sepertinya gedung ini sudah di gunakan sebagai tempat penyiksaan.

__ADS_1


"Sayang, tunggu aku. Sebentar lagi kita akan bertemu, jangan takut. Aku berjanji setelah ini tidak akan ada yang memisahkan kita lagi. Kau, aku dan anak-anak serta kita akan bersama selamanya," gumam Alan.


Jujur saja Alan takut jika Anne sudah menyakiti istri dan anaknya. Dia tidak sanggup melihat Aerin menangis lagi. Sudah cukup lima tahun lalu saat mereka terpisah wanita itu menderita. Alan ingin hidup Aerin bahagia bersamanya kelak.


.


.


Di dalam ruangan penyiksaan tampak Anne menatap Aerin yang kedua tangannya di gantung pada tali penyangga yang langsung di ikat pada dua balik diatasnya. Kakinya juga di ikat, persis seperti burung yang masuk dalam perangkap.


"Mommy."


"Mommy."


"Mommy."


Teriakan gadis kecil itu terus menggema memenuhi ruangan. Dia berusaha memberontak tetapi pria yang memegangi nya berbadan besar yang tentunya takkan sebanding dengan kekuatan tubuh kecilnya.


"Nana," lirih Aerin.


Wanita itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Jujur dia belum siap meninggalkan anak-anaknya. Bagaimana nanti nasib ke-empat anak kembarnya jika dia pergi dan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Aerin pernah merasakan betapa sakitnya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, berjalan sendirian di tengah kegelapan.


"Tidak. Mommy tidak boleh pelgi, Mommy tidak boleh meninggalkan Nana. Nana tidak mau pisah dali Mommy," ucap gadis kecil tersebut memberontak.


Anne malah seperti menulikan telinganya. Dia berjalan melihat Aerin yang tergantung dengan licik.


"Apa yang ingin kau ucapkan sebelum pergi dan menghilang dari dunia ini?" tanya Anne.


Aerin membalas tatapan Anne. Wajahnya tampak biru dan lebam karena pukulan dari anak buah Anne. Rambutnya berantakan tampak tak terurus, penampilannya lusuh seperti wanita jalanan.


"Kau bukan Tuhan, Nona Anne. Sekalipun kau menyiksaku berulang kali. Kau takkan bisa membunuhmu," sahut Aerin membalas dengan senyuman mengejek juga. Wanita itu tak lagi merasa takut, lebih tepatnya sudah kebal.


"Kau pikir, aku takut?"


Anne berjalan mendekat di tatapnya wajah Aerin yang sudah tampak mengenaskan tersebut.


DOR


.


.

__ADS_1


"Dad, ini." Alta memberikan iPadnya Christoper.


"Apa ini, Son?" tanya Christoper.


Alta terduduk lemas dengan air mata mengucur deras di pipinya.


"Son, kau baik-baik saja?" tanya Christoper panik melihat putranya menangis.


"Baca informasi itu, Dad!" titah Alta.


Christoper mengambil iPad dari tangan anaknya. Lalu matanya membaca dengan detail kata-kata yang tertulis di sana.


Seketika tubuh Christoper membeku dan tanpa sadar benda di tangannya terjatuh ke bawah.


"Aerin adalah Baby A, Dad. Selama ini Mommy yang menyembunyikan semua identitas ini, dia bekerjasama dengan mantan kekasihnya," jelas Alta sambil menangis segugukan dan penuh penyesalan. Betapa dia merasa bersalah karena pernah menampar wajah Aerin hingga membuat pipi adiknya mengeluarkan darah.


"Aerin."


Christoper tersungkur di lantai dengan lelehan bening di pipinya.


"Aerin."


Lelaki tua itu menutup wajahnya penuh penyesalan. Pantas saja ketika pertama kali melihat wajah wanita itu dia merasa memiliki ikatan batin yang kuat.


"AERIN," teriak Christoper menggema sambil memukul kepalanya berulang kali.


Begitu juga dengan Alta yang berulang kali memukul tembok hingga tangannya mengeluarkan darah segar.


"Maafkan, Daddy. Maafkan Daddy hiks hiks hiks hiks."


Kedua lelaki itu menangis dalam penyesalan. Andai saja mereka lebih teliti dalam mencari dan menguak informasi tentang kedua wanita yang selama ini mereka cari.


"Ratih, maafkan aku. Maafkan aku."


Berulang kali kata maaf dalam penyesalan itu terucap dari bibirnya. Terapi semua percuma karena hal itu takkan mengembalikan semua kembali seperti sediakala.


"Aerin," lirih Alta. "Maafkan Kakak," ucapnya juga.


Alta sudah lama curiga pada ibu tirinya ini karena gerak-geriknya yang tak biasa. Sehingga dia meminta seseorang untuk mengawasi pergerakan sang ibu dan betapa dia terkejut ketika mengetahui kebenarannya bahwa selama ini dia dan ayahnya telah di kelabui oleh wanita iblis tersebut.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2