Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Pengusiran


__ADS_3

Plakkkkkk


"Dasar pelacur!" hardik Rollies menampar putrinya dengan kuat.


Aerin terjerembab ke lantai. Wanita cantik itu meringgis kesakitan saat sang ayah memukulnya kian kuat.


Tak sengaja Jasmine menemukan hasil test kehamilan didalam tas wanita itu. Atau memang dia sudah merencanakan dari awal kehancuran Aerin. Sejak dulu dia tak pernah suka pada anak tirinya yang dianggap pembawa sial tersebut. Apalagi Aerin yang selalu menang satu langkah dari anaknya Lisa, lalu tumbuhlah rasa benci pada gadis itu.


"Maafkan aku Ayah," ucap Aerin memeluk kaki Rollies.


"Kau sudah membuat malu nama keluarga. Kau sudah membuat Ayah merasa gagal menjagamu," sentak Rollies meneriaki telinga Aerin.


Ayah mana yang takkan terluka saat mengetahui jika putri nya tersebut hamil tanpa suami. Ayah mana yang takkan murka, termasuk Rollies. Dia benar-benar marah dan kecewa.


Rollies memasukkan baju-baju Aerin kedalam kopernya. Dia tidak mau memiliki anak yang hamil diluar nikah tersebut. Apa kata rekan bisnis nya nanti jika tahu bahwa putrinya hamil tanpa ikatan pernikahan?


Aerin sudah pasrah jika sang ayah mengusirnya. Seperti dugaannya dia akan benar-benar diusir dari rumahnya sendiri.


"Pergi dari rumah ini," usir Rollies melempar koper Aerin yang berisi pakaian wanita tersebut.


"Maafkan aku Ayah," ucap Aerin penuh penyesalan.


Rollies memalingkan wajahnya. Dia tak sanggup melihat wajah kacau putrinya. Sebenarnya dia tidak tega mengusir Aerin, tapi dia ingin memberi pelajaran pada anak perempuan nya itu.


Rollkis masuk dan tak mau menatap wajah anaknya lama. Dia takut hatinya goyah.


Jasmine dan Lisa tersenyum penuh kemenangan. Inilah yang mereka mau, yaitu melihat kehancuran Aerin.


"Selamat menikmati penderitaan mu, adikku sayang," ledek Lisa mengibas bahu Aerin seperti membuang debu


"Kau tidak akan menang melawanku Aerin. Nikmati saja kekalahan mu," sambung Jasmine.


Sementara para pembantu dirumah tersenyum menatap Aerin dengan kasihan. Mereka cukup terkejut ketika mendengar bahwa Aerin hamil diluar nikah. Semuanya tahu bahwa wanita ini adalah wanita yang baik. Bahkan terkesan menjaga diri. Meski memiliki kekasih, namun dia tak mau menyerahkan dirinya begitu saja


Aerin bangun sambil memegang sudut bibirnya. Wanita itu mengambil koper dan tas kecilnya. Sudahlah, dia akan nikmati setiap proses dan rasa sakit yang terasa menyiksa didalam dadanya.

__ADS_1


Aerin menoleh menatap penuh kebencian ibu dan kakak tirinya. Tatapan wanita itu menajam seakan hendak melahap wajah Jasmine dan Lisa.


"Apa lihat-lihat?" tanya Lisa sinis.


"Tunggu pembalasanku," ancam Aerin


"Kami menunggu pembalasan mu," sahut Jasmine lalu tertawa mengejek.


Aerin berjalan dengan tertatih. Dia melindungi perut nya yang terasa berdenyut akibat dorongan dari Rollies. Aerin takut terjadi sesuatu pada kandungannya. Tak apa dia terluka asal anak nya baik-baik saja.


Wanita itu berjalan menyusuri malam. Dia akan mencari kontrakan kecil. Dia memiliki beberapa tabungan yang cukup untuknya bertahan hidup sampai melahirkan anaknya. Aerin, belum menerima tawaran Alan untuk menikah. Entahlah, dia sedang bimbang dengan hidupnya. Masalah seperti nya tak selesai-selesai jua.


Sebuah mobil berhenti tepat disamping Aerin. Langkah wanita itu terhenti.


"Aerin," panggil Alan.


Tampak Alan keluar dari mobil dengan wajah panik ketika melihat Aerin yang berjalan sambil menyeret kopernya.


"Astaga, Aerin," pekik Alan.


"Aerin katakan padaku, siapa yang melakukan ini?" murka Alan. Wajah lelaki itu tampak merah menahan amarah.


"Tuan." Mata Aerin berkaca-kaca.


"Aerin, katakan padaku! Siapa yang melakukan ini?" tanya Alan sekali lagi


Tanpa sadar lelaki itu meneteskan air matanya melihat penampilan wanita yang tengah menggandung anaknya tersebut. Rambut acak-acakan dengan wajah lebam seperti dikeroyok orang.


"Hiks hiks hiks." Aerin tak mampu menjawab, hanya tangis yang menandakan bahwa dia terluka.


Alan memeluk Aerin dengan erat. Sebegitu sulitkah hidup wanita ini? Aerin terlihat menderita.


Kali ini Aerin tak lagi membantah. Dia melingkarkan tangannya dipinggang Alan dan memeluk lelaki ini dengan tangisnya. Aerin adalah wanita terluka yang hidupnya tak pernah bahagia. Sejak kecil dia sudah kekurangan kasih sayang, menginjak usia remaja ayah dan ibu nya memilih berpisah. Setelah nya sang kekasih malah mengkhianati dirinya. Lagi, satu kenyataan pahit dia menghabiskan malam dengan seorang pria tak di kenal hingga menumbuhkan benih didalam rahimnya.


Sekarang, dia diusir dari rumah karena anak dalam kandungan nya.

__ADS_1


"Menangislah. Aku akan menjadi tempat ternyaman untuk mu pulang," ucap Alan tulus sambil mengusap kepala Aerin yang memeluknya.


Aerin semakin menangis. Belum pernah ada yang mengatakan hal ini padanya. Dan kenapa, pelukkan Alan terasa benar-benar nyaman hingga membuatnya terlarut dalam kehangatan tubuh lelaki ini. Dia tak lagi mual seperti kemarin. Bahkan dia ingin menempel dua puluh empat jam di pelukan Alan.


Yoas yang berdiri didepan mobil ikut merasakan kesedihan Aerin. Ketika menyelidiki kehidupan Aerin, dia kasihan melihat betapa menderitanya wanita ini. Seperti nya keputusan Alan untuk menikahi Aerin sudah tepat.


Alan melepaskan pelukan nya. Dia menyeka air mata Aerin. Lalu menyatukan kening mereka berdua.


"Kau aman bersama ku, jangan takut. Aku berjanji akan menjagamu," ucap Alan tulus dengan tangannya yang menempel dikedua pipi Aerin.


Aerin hanya mengangguk. Tidak salahnya dia memberikan Alan satu kesempatan. Apalagi bayi dalam kandungan nya butuh sentuhan. Aerin akan mengesampingkan ego nya demi calon anaknya.


"Ya sudah ayo," ajak Alan menggandeng tangan Aerin


Wanita itu hanya menurut. Dia benar-benar lelah dan tak tahu harus bagaimana? Jika bisa dia ingin tidur saja dan terlelap dengan nyaman. Barangkali rasa sakit di tubuh dan hatinya bisa hilang dan terlupakan begitu saja.


"Yoas, bawa koper nya!" titah Alan.


"Baik Tuan," sahut Yoas segera mengambil koper Aerin dan memasukkan nya kedalam bagasi mobil.


Kali ini Aerin tak lagi membantah. Wanita itu menurut saja ketika Alan membawanya masuk kedalam mobil.


"Bersandarlah, aku tahu kau lelah," ucap Alan.


"Apa boleh aku bersandar?" tanya Aerin sedikit ragu.


"Tentu," sahut Alan.


Jujur Aerin butuh sandaran ternyaman dia lelah. Dia tak menemukan jalan untuk semua masalah yang dia lewati.


'Nak, kehadiranmu benar-benar menjadi boomerang untuk Mommy. Tapi Mommy tak pernah menyalahkanmu. Mommy menyanyangimu. Kau harus berjanji harus bertahan apapun kondisinya. Kita akan berjuang bersama Nak,' ucap Aerin dalam hati sambil mengusap perut perut ratanya.


Perutnya terasa berdenyut ketika Rollies mendorong tubuhnya dengan kasar.


Alan mengusap kepala Aerin dengan lembut. Dia berjanji dalam hidupnya akan menjaga Aerin dengan sepenuh hati. Apapun yang terjadi, dia akan memperjuangkan Aerin, walau kemungkinan besar setelah ini akan ada peperangan yang terjadi antara keluarga nya dan keluarga istrinya

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2