
Jo dan Anne masuk ke dalam mobil. Tampak Anne tak sabar bertemu dengan wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya tersebut.
"Apa anak buah kita sudah melenyapkan pengawal dari Tuan Robson?" tanya Anne dengan senyuman liciknya.
"Kau tenang saja. Tidak perlu meragukan kemampuanku," sahut Jo sambil menyetir.
"Bagus." Anne menyesap rokok yang terselip di antara kedua jarinya.
"Kau benar-benar ingin menyingkirkan Aerin?" Jo melirik wanita yang duduk di sampingnya.
"Tentu, selama dia masih hidup. Aku tidak akan bisa hidup tenang. Aku tak hanya akan membunuh Aerin tetapi juga melenyapkan keempat anak kembar itu," ucap Anne dengan santainya seraya mengembuskan asap rokok ke atas hingga membentuk gumpalan.
Jo terdiam sejenak, entahlah kenapa dia sedikit terganggu saat Anne mengatakan ingin membunuh Aerin. Bagaimanapun wanita itu adalah mantan kekasihnya. Dulu dia sangat mencintai wanita tersebut dan berharap Aerin adalah pelabuhan cinta terakhirnya.
Mobil mereka terparkir di depan sebuah rumah mewah. Tampak rumah tersebut sepi, Anne turun dari mobil. Dia tersenyum licik saat melihat beberapa pria berbaju hitam tergelatak tak bernyawa diatas tanah.
"Kau benar-benar bekerja dengan baik, Jo," puji Anne.
"Tentu," sahut Jo dengan nada sombongnya.
Kedua orang itu berjalan masuk ke dalam. Bau amis darah tersiur kemana-mana. Para pelayan dan pengawal berserakan di bagian sudut pekerjaan rumah mewah tersebut.
"Hiks hiks Mommy." Tangis seorang anak kecil.
Anne dan Jo melihat Aerin dan seorang gadis kecil saling memeluk diatas lantai dengan wajah ketakutan luar biasa. Bahkan beberapa kali gadis kecil itu berteriak ketika melihat darah yang berserakan di lantai.
"Aerin."
Aerin yang tengah memeluk Shena sontak melihat kearah pintu masuk. Tampak Anne dan Jo tengah menatap kearah mereka dengan penuh kebencian.
"Nona Anne. Jo," gumam Aerin.
Kedua orang itu berjalan mendekati Aerin dan putih kecilnya.
"Mommy," teriak Shena ketakutan dengan memeluk Aerin kian erat.
"Tenang ya, Sayang. Semua akan baik-baik saja," ucap Aerin menenangkan putri kecilnya itu.
Tiba-tiba mereka diserang oleh beberapa pria bertopeng, sehingga para pelayan dan pengawal yang bertugas menjaga rumah tersebut di serang habis-habisan. Anehnya para pria bertopeng itu tidak menyerang atau menyakiti mereka berdua.
"Apa mau kalian?" tanya Aerin sambil berdiri. Dia menggeser posisi Shena di belakangnya agar anaknya itu terlindungi.
"Kau masih bertanya mau ku apa, Aerin?" Anne berjalan mendekat.
Aerin semakin erat memeluk anaknya yang berdiri di belakang. Tak apa jika Anne menyakitinya tetapi dia tidak mau jika putri kecilnya sampai di sakiti oleh wanita iblis seperti Anne.
"Aku ingin melenyapkanmu," sahut Anne.
Badan Aerin bergetar takut, tangannya semakin erat memeluk sang anak.
Anne melirik kearah Shena yang membenamkan kepalanya di belakang Aerin.
__ADS_1
"Dia putrimu?" Anne tersenyum licik. "Lebih tepatnya anak tiriku," ucap Anne.
Anne berjongkok menatap wajah gadis kecil yang masih menangis memeluk sang ibu.
"Jangan sakiti anakku!" hardik Aerin.
Lalu senyuman Anne berubah seperti iblis, wajahnya terlihat penuh amarah dan kebencian. Dia harus lenyapkan Aerin dan anak-anaknya.
Anne menarik tangan Shena dengan kasar.
"Awww," rintih Shena. "Mommy," teriak gadis kecil itu.
"Nana."
Bugh!!
Jo memukul leher Aerin hingga wanita itu tergelatak dan jatuh di lantai.
"MOMMY."
"MOMMY."
"MOMMY."
.
.
"Tuan sebaiknya kita berangkat pagi, saya mendapat informasi bahwa Tuan Christoper dan Tuan Alta akan mencegat kita di bandara," lapor Yoas.
"Kak, semua bandara sudah di tutup!" lapor Yoel yang sibuk dengan laptop di pangkuannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita harus segera pulang ke Sidney," ucap Agam juga panik.
Robson menghampiri mereka yang berada di ruang tamu. Dia baru saja menemani istrinya minum obat dan wanita itu kini istirahat.
"Ada apa ini?" tanya Robson.
"Semua bandara di tutup oleh Tuan Christoper agar kami tidak bisa berangkat ke Sidney, Ayah," jelas Agam.
Lelaki paruh baya itu duduk dengan tenang di sofa. Dia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Ada jalur lain," ucap Robson.
"Apa Ayah?" tanya Alan dan Agam kompak.
.
.
"Kau takkan bisa lepas, Alan," ucap Alta. "Kau harus merasakan apa yang Anne rasakan. Aku akan lenyapkan Aerin dan anak-anak kalian," ungkapnya dengan senyuman licik sambil menyetir.
__ADS_1
Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara untuk mencegah kepergian Alan serta anak-anaknya.
Sampai di bandara, Alta turun dengan langkah lebar. Lalu berjalan menghampiri para anak buah yang sudah menunggu di sana.
"Bagaimana?" tanya Alta.
"Mereka belum sampai, Tuan," jawab salah satunya.
"Baik, tunggu saja," sahut lelaki itu sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Suasana bandara tampak sepi, sepertinya memang sudah di sewa oleh Christoper agar bisa menangkap Alan dan anak-anaknya. Pria paruh baya itu takkan melepaskan menantunya begitu saja. Jika Anne tak bisa bahagia, maka Alan pun tak bisa bahagia. Bila perlu, Christoper akan singkirkan semua makhluk yang mencoba menghalangi kebahagiaan anak perempuannya.
"Apakah sudah ada ciri-ciri mereka datang?" tanya Alta.
"Belum Tuan," sahut salah satu anak buahnya.
Tampak seorang gadis berjalan terseok-seok sambil menyeret koper ditangannya.
Brak
"Aww." Tidak sengaja dia menabrak punggung Alta.
"Heh, kalau jalan itu pakai mata," omel Alta tanpa mau membantu gadis itu berdiri.
Gadis itu berdiri dengan wajah kesalnya, "Hallo, Tuan. Di mana-mana orang jalan pakai kaki kalau mata fungsinya melihat," cetus gadis itu mengambil tasnya.
Sejenak dia melihat sekelilingnya, "Lho kok sepi?" ujarnya heran. "Perasaan ini pas jadwal aku berangkat," ucapnya sambil melihat tiket yang ada di tangannya.
"Bandara di tutup," cetus Alta.
"Siapa yang tutup?" tanya gadis itu heran.
"Siapapun boleh," sahut Alta asal.
"Heh, Tuan apa kau juga ikut penerbangan pagi ini?" tanya gadis tersebut.
"Tidak,"sahut Alta berjalan mendekati mobilnya. Sudah hampir satu jam dia menunggu tetapi tidak tampak kemunculan Alan dan anak-anaknya.
"Tuan, tunggu," panggil gadis itu menyusul Alta sambil menyeret kopernya.
"Ada apa?" cetus Alta.
"Hehehe menumpang tidak, antar aku ke rumah. Sepertinya hari ini tidak jadi berangkat ke Sidney," ucap gadis itu cenggesan.
"Kau pikir aku supir taksi?" Alta memincingkan matanya kesal.
"Aku bahkan belum sempat berpikir tapi kau sudah mengatakannya," sahut gadis itu santai sambil memasukkan kopernya ke dalam mobil Alta.
"Ck, apa yang kau lakukan?" protes Alta.
"Sudah aku bilang, Tuan. Aku menumpang sebentar sampai rumah saja."
__ADS_1
Gadis itu masuk saja tanpa menunggu jawaban Alta.
Bersambung...