Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Bertemu Ayah


__ADS_3

Aerin menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam mobil.


"Jangan takut, Sayang. Aku yakin Ayah juga merindukanmu," ucap Alan menenangkan istrinya itu.


"Iya Mommy, ada kami," sambung Shaka.


"Ayo, Mommy," ajak Shena.


Ke-lima orang tersebut masuk ke dalam mobil. Tampak si kembar seperti tak sabar, mereka penasaran karena memiliki empat kakek sekaligus.


"Bby, aku gugup," ungkap Aerin.


Alan mengenggam tangan istrinya lalu menyatukan tangan mereka berdua. Dia tersenyum hangat seraya menyelipkan anak rambut wanita ini. Istrinya memang cantik dan sangat cantik. Wajah bulat bak Barbie, bola matanya indah seperti boneka, rambut panjang yang tergerai sampai di punggung, alis tebal, hidung mancung, mulut mata lentik dan jangan lupakan kumis tipis yang membuat wajah Aerin sangat manis.


"Kenapa harus gugup Mommy? Kan mau bertemu kakek?" tanya Zanka penasaran.


"Mommy sudah lama tidak bertemu dengannya, Son!" jawab Aerin.


"Semua akan baik-baik saja," jawab Alan.


Aerin mengangguk lalu menatap wajah keempat anaknya yang duduk bersama mereka di bangku belakang. Sementara Yoas menyetir di depan seorang diri. Dia tetap setia bersama Alan meski sudah lama tak bekerja dengan tuan-nya itu.


Aerin tak menyangka jika di berikan kesempatan luar biasa untuk memiliki anak kembar empat sekaligus. Walau perjuangan dan penderitaan yang dia alamis selama menggandung si kembar begitu banyak dan bahkan bermandikan air mata setiap hari. Kandungannya juga yang membuat wanita itu di usir dari rumah tetapi siapa sangka jika Tuhan mendatangkan bahagia dengan cara tak terduga sama sekali.


Mobil Yoas memasuki pekarangan rumah mewah Rollies. Mereka turun dari mobil bersamaan.


Lama Aerin menatap rumah tersebut. Rumah ini adalah saksi dia tumbuh dewasa sebelum akhirnya di usir. Sejak remaja hidup bersama ibu tiri yang menyiksanya setiap hari dan selalu memfitnahnya pada sang ayah sehingga dirinya dia omeli dan kadang di hukum karena kesalahanpahaman.


Dada Aerin kembali terasa sesak saat mengingat kejadian menyakitkan tersebut apalagi saat dirinya di nyatakan positif hamil. Dia mengenggam tangan suaminya dengan erat untuk meminta kekuatan pada lelaki itu.


"Ayo, Sayang."


Mereka berlima masuk ke dalam rumah mewah itu. Dada Aerin naik turun menahan sesuatu yang seperti ingin meledak di dalam sana. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan ayahnya tersebut. Walau bukan ayah kandung tetapi Aerin sangat menyanyangi Rollies seperti ayah kandungnya sendiri.


Tampak seorang pria duduk dengan tatapan kosong sambil menatap ke depan. Dia berada di dekat kolam berenang rumah mewah mereka.


"Ayah."


Sejenak lelaki itu terdiam sebelum akhirnya menoleh. Matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang datang. Sontak lelaki paruh baya itu berdiri dari duduknya, setelah melalui perawatan mahal dan rutin, akhirnya dia bisa berjalan kembali seperti sediakala.


"Ayah."


"Aerin."

__ADS_1


Aerin berjalan mendekat kearah ayahnya tersebut. Dia menatap Rollies dengan mata berkaca-kaca dan penuh kerinduan. Dulu waktu kecil, lelaki ini yang sering mengajaknya bermain di taman dan mengajarinya naik sepeda hingga bisa. Saat ada ulangan fisika dan kimia, pria paruh baya ini yang selalu setia menjelaskan rumus-rumus hingga dirinya paham.


Aerin tak pernah tahu jika lelaki ini bukan ayah kandungnya.


"Ayah."


"Aerin."


Aerin berhambur memeluk tubuh sang ayah. Pria paruh baya yang sekarang hidup sebatang kara karena istri dan anak tirinya entah kemana?


"Ayah, hiks hiks hiks hiks."


Tangis Aerin pecah begitu juga dengan Rollies. Ayah dan anak itu saling bertangisan satu sama lain serta melepaskan semua rindu yang menggambang di dalam dada. Perpisahan yang terjadi telah mengajari Rollies arti rindu sesungguhnya.


"Maafkan, Ayah. Maafkan, Ayah," ucapnya berulang kali penuh penyesalan.


"Aku yang harus minta maaf, Ayah. Aku tak bisa merawatmu saat kau sakit. Maafkan aku."


Rollies melepaskan pelukan anaknya. Dia usap wajah Aerin dengan lembut. Tangisnya masih pecah, seakan tak percaya bahwa kini anak yang dia rindukan berada di depan matanya. Tuhan mengabulkan banyak doa Rollies, dia tak hanya bertemu Aerin tetapi juga di nyatakan sembuh total setelah menjalani pengobatan rutin.


"Aerin." Rollies merasa sedang bermimpi bisa bertemu anaknya lagi. "Apa kabarmu, Nak? Apa kau baik-baik saja?" cecarnya.


Setiap kali mengingat dirinya yang mengusir Aerin, dada Rollies bagai di hantam ribuan balok hingga menimpanya dan menjadikannya tak berbentuk. Dia mengusir Aerin saat tahu anaknya hamil tanpa suami, apalagi di pengaruhi oleh Jasmine dan Lisa.


Rollies melirik kearah Alan dan ke-empat bocah kembar yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Mereka?"


Aerin mengangguk, "Ayah, itu adalah suamiku dan itu anak-anakku. Mereka kembar empat," jelas Aerin tersenyum haru dengan air mata yang masih leleh di pipinya.


"Tuan Alan adalah suamimu?" ulang Rollies sekali lagi. Tentu saja dia mengenal siapa Alan, pengusaha kaya yang sering di incar oleh para investor untuk menjalin kerja sama.


"Iya, Ayah. Dia suamiku," jawab Aerin.


Rollies menatap ke-empat anak kembar itu dengan mata berkaca-kaca, hatinya seketika menghangat ketika melihat wajah polos yang begitu lucu dan menggemaskan tersebut.


"Sayang, ayo sini peluk Kakek," pinta Aerin.


"Kakek."


Ke-empatnya berhambur kearah Rollies. Lelaki paruh baya itu berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan ke-empat cucu kembarnya.


"Cucu-ku."

__ADS_1


Rollies lagi-lagi menangis terharu karena di berikan satu kesempatan untuk bertemu dengan cucu-nya. Dia tak menyangka di berikan kesempatan luar biasa seperti ini.


Rollies melepaskan pelukannya dan menatap wajah ke-empat cucunya.


"Aku Shaka, Kakek."


"Zanka, Kek."


"Chana, Kek."


"Nana, Kakek."


Masing-masing menyebut namanya dan memperkenalkan diri pada sang kakek.


"Kalian lucu sekali, Nak," ucap Rollies dengan senyuman harunya.


"Kami 'kan anaknya Daddy Alan dan Mommy Aerin, pasti lucu!" seru Chana.


Alan dan Aerin terkekeh mendengar celotehan anaknya. Begitu juga dengan Rollies yang gemes dengan ke-empat anak kembar tersebut.


.


.


Robson menatap istrinya yang tengah menata makanan di atas meja. Perasaannya menggebu dan terharu. Robson sempat berpikir bahwa dia akan kehilangan Ratih dalam hidupnya. Tetapi tak di sangka jika wanita ini memilih dirinya.


"Kenapa, Ayah?" tanya Ratih.


"Terima kasih, Bunda. Sudah memilih Ayah," ucap Robson.


Ratih duduk di samping suaminya dengan senyum.


"Ayah, Bunda sangat mencintaimu. Tidak mungkin Bunda meninggalkan Ayah," jawab Ratih.


Robson menganggukkan kepalanya. Lalu dia tatap wajah wanita tersebut. Dia bahagia di masa tuanya di temani oleh perempuan hebat yang telah mengubah hidupnya.


"Makan, Ayah. Jangan melihat Bunda seperti itu," celetuk Ratih terkekeh.


"Melihat wajah dan senyum Bunda rasa lapar, Ayah langsung hilang," goda Robson mengedipkan matanya jahil.


"Dasar gombal," cibir Ratih.


Mereka bukan pasangan muda dan bahkan sudah sebentar lagi memasuki kepala enam tetapi seperti penggantin baru.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2