
"Huwek. Huwek,"
Beberapa kali Aerin bolak balik kamar mandi, sudah beberapa hari ini dia memang tidak enak badan. Bahkan pagi ini, tubuhnya saja terasa benar-benar berat untuk di gerakkan.
"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya Bik Inem panik. Bik Inem salah satu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah Aerin.
"Tidak tahu, Bik. Perutku terasa di kocok-kocok," adu Aerin.
"Apa Anda sedang dapat tamu bulanan, Nona?" tanya Bik Inem.
Sontak saja Aerin terdiam. Terlalu banyak masalah dalam hidupnya. Dia sampai lupa bahwa bulan ini sudah telat beberapa hari.
"Kalau begitu Bibi buatkan weddang jahe ya, Non," tawar Bik Inem.
Aerin tak menjawab wanita itu duduk dibibir ranjang dengan wajah lemas dan pucatnya. Pertanyaan Bik Inem tadi membuat tubuhnya seketika membeku.
"Apa aku hamil?" tanyanya pada diri sendiri.
Aerin menyandarkan tubuhnya di dinding ranjang. Wanita itu memejamkan matanya menahan sesak yang menghantam didalam sana. Apa yang harus dia lakukan jika dia benar-benar hamil? Bagaimana nasib nya kelak? Apakah dia akan bertahan atau pergi? Jika dia hamil, anaknya bagaimana? Apakah anaknya akan lahir tanpa seorang ayah? Sedangkan lelaki yang menghamili nya adalah lelaki yang begitu Aerin benci, dan dia tak mengenal siapa lelaki tersebut.
"Ini, Non. Minum dulu," ucap Bik Inem datang dengan membawa nampan berisi segelas weddang jahe.
"Letakkan saja dulu, Bi," ucap Aerin memaksakan senyum.
"Iya Non." Wanita paruh baya itu meletakkan gelas berisi air tersebut di atas nakas.
"Apa perlu Bibi buatkan bubur, Non?" tawar wanita itu lagi. Aerin sudah seperti anaknya sendiri. Dia merasa kasihan melihat nasib hidup Aerin yang memang selalu banyak masalah.
"Boleh Bi," sahut Aerin.
"Ya sudah, Bibi pamit dulu Non," pamit Bik Inem.
Aerin hanya mampu mengangguk. Terlihat sekali wanita cantik itu lemah. Apalagi sejak tadi pagi dia mual-mual. Harusnya pagi ini dia sudah rapi dengan pakaian kantornya. Namun, apalah daya kondisi tubuh nya sudah tak mampu lagi untuk diajak bekerja sama. Dia benar-benar merasa lemah dan tak bertenaga. Entah apa yang terjadi padanya.
Jasmine dan Lisa masuk kedalam kamar Aerin. Kedua wanita ini memang suka sekali berulah dan menganggu kehidupan Aerin.
__ADS_1
"Ternyata Tuan Putri sedang sakit?" sindir Jasmine.
"Apa jangan-jangan dia hamil? Soalnya kan kemarin dia habis diperkosa oleh pria hidung belang?" tebak Lisa menatap wajah pucat Aerin dengan penuh selidik.
Namun, Aerin tak menanggapi. Wanita itu memejamkan matanya tanpa peduli dengan sindiran ibu dan kakak tirinya. Dia hanya ingin istirahat. Jika memang dia hamil, apa boleh buat. Selain menerima janin didalam kandungan nya.
"Kalau sampai dia hamil, usir saja dia dari sini, Bu," sambung Lisa menatap adiknya penuh kebencian.
Lisa sudah lama membenci Aerin. Hidup adik tirinya selalu saja lebih baik dari dirinya. Sedangkan dia tak pernah seberuntung Aerin. Aerin menjalin hubungan dengan Jo, seorang model papan atas. Selain itu Aerin juga bekerja di perusahaan ternama dan diperhatikan oleh boss nya. Bagaimana, Lisa tak iri pada kehidupan adiknya itu? Sedangkan dia hanya seorang pengganguran karena kasus nya sendiri.
"Hei, apa benar kau hamil?" Jasmine menarik tangan Aerin dengan kasar.
"Lepaskan," sentak Aerin menepis tangan Jasmine.
"Awww," Jasmine meringgis kesakitan.
Aerin menatap Jasmine dan Lisa tajam. Jika kemarin dia wanita lemah, maka tidak dengan sekarang. Dia adalah wanita yang tak membiarkan siapapun menginjak harga dirinya.
"Kau....." Jasmine hendak melayangkan pukulan di wajah Aerin.
"Jangan pernah berani menyentuh ku," sentak Aerin.
"Aerin," teriak Rollies dari pintu.
Sontak Aerin melepaskan tangan Jasmine. Kalau sudah berurusan dengan ayahnya, dia takkan menang. Hidup mereka penuh dengan pertengkaran.
Plakkkkkk
Satu tamparan mendarat di pipi Aerin. Wanita itu meringgis dan merasakan sudut bibirnya berdarah akibat pukulan sang ayah yang begitu keras di pipi nya.
"Hiks hiks, Sayang. Aerin kasar sama aku," adu Jasmine sambil menyeka air matanya yang tak jatuh sama sekali.
"Aerin, Ayah tidak pernah mendidikmu menjadi orang kasar seperti ini!" hardik Rollies.
Aerin menyeka darah yang keluar disudut bibirnya. Sudah biasa dia diperlakukan seperti ini. Bahkan hampir setiap hari diadu domba oleh ibu dan kakak tirinya itu.
__ADS_1
"Astaga, Nona," ucap Bik Inem terkejut sambil membawa bubur ditangannya.
"Apakah sudah matang Bik. Aku sangat lapar?" tanya Aerin tanpa peduli pada ayah serta ibu dan kakak tirinya.
Wanita itu mengambil mangkuk berisi bubur dari tangan Bik Inem.
"Aerin, apa kau mendengar Ayah?" tanya Rollies marah. Dia paling tidak suka jika Aerin mengabaikan dirinya seperti ini.
Aerin tak menjawab wanita cantik itu malah makan sambil meniup bubur yang masih panas didalam mangkuk.
Rollies merampas dengan kasar mangkuk tersebut.
Pranggggggggg
Lelaki paruh baya tersebut melempar bubur yang ingin di makan oleh anak perempuan nya. Jasmine, Lisa dan Bik Inem menatap tak percaya perlakuan kasar Rollies pada Aerin. Sekasar-kasar nya seorang ayah takkan mungkin tega merampas makanan putrinya lalu melempar begitu saja.
Aerin tetap santai. Wanita cantik itu seperti nya tak terpengaruh sama sekali dengan kekerasan sang ayah. Pertengkaran seperti ini bukan pertama kali sudah sering. Bahkan sebelum kedua orang tua nya bercerai, selalu saja dia yang menjadi korban keegoisan mereka.
"Harusnya Ayah bertanya, yang duluan kasar aku atau dia?" ujar Aerin sambil melipat kedua tangannya didada.
"Dia Ibu mu, Aerin," bentak Rollies.
"Dia istrimu bukan Ibu ku," ralat Aerin.
Faktanya seperti itu. Sebenarnya dia wanita yang sopan santun apalagi pada yang lebih tua. Namun, Jasmine yang lebih dulu memperlakukan nya kasar dan selalu memfitnah dirinya. Tentu, Aerin tak terima karena diperlakukan tak berperikemanusiaan seperti itu. Dia manusia biasa. Dia bukan malaikat baik hati yang akan selalu bersikap lembut pada orang yang sudah menyakiti dirinya.
"Jaga ucapanmu, Aerin," bentak Rollies. Ingin sekali dia menampar Aerin lagi. Namun, ketika melihat sudut bibir anaknya yang berdarah, membuat dia tak tega. Ada perasaan bersalah yang dia rasakan ketika melihat bibir anak perempuan nya.
Perpisahan sang ayah dan sang ibu, menciptakan luka mendalam di hati Aerin. Kedua orang tua nya terpisah sejak dia menginjak usia remaja. Sejak kecil dia tak pernah mendapatkan kasih sayang penuh dari ayah dan ibu nya. Lantaran, keduanya yang sibuk pada pekerjaan dan kehidupan sosialita mereka.
"Ayo, Sayang," ajak Rollies menggandeng tangan Jasmine.
"Sayang, sakit," adu Jasmine manja sambil menunjukkan tangannya yang tadi di tarik oleh Jasmine.
"Aku obati ya, Sayang," sahut Rollies sambil meniup-niup pergelangan tangan wanita tersebut.
__ADS_1
Bersambung....