
Sangkar ular
Mobil Alan memasuki pekarangan rumah Anne. Rumah mewah yang terlihat mencolok dari bangunan lainnya.
Alan dan Anne turun dari mobil. Tidak seperti pasangan romantis pada umumnya, dimana seorang suami akan membukakan pintu untuk istrinya. Alan justru tak peduli sama sekali pada Anne.
Hal yang paling Alan benci datang kesini adalah selalu ditanya masalah perusahaan. Keluarga Anne benar-benar menganggap dia sebagai bisnis.
"Alan, tunggu," panggil Anne.
Anne memeluk lengan Alan dengan manja tanpa peduli dengan wajah dingin suaminya tersebut. Wanita cantik itu merenggut kesal ketika Alan tak membuka pintu untuk nya.
"Ingat Alan kita harus romantis," bisik Anne sambil mensejajarkan langkah kaki nya dengan Alan.
Namun, sang suami malah tak peduli. Alan melangkah saja tanpa menjawab ucapan Anne.
"Daddy. Mommy," sapa Anne.
"Anne," ucap Emma memeluk putri bungsunya tersebut. "Apa kabarmu? Kau semakin cantik!" puji nya mencium pipi kiri dan kanan wanita tersebut.
"Kabarku baik Mom," jawab Anne.
"Apa kabar Alan?" tanya Emma menyalami menantu nya.
"Baik Mom," sahut Alan.
"Ayo masuk, Daddy dan Kakak sudah menunggu disana," ajak Emma.
Alan dan Anne mengikuti langkah Emma masuk kedalam rumah mewah yang di Pagari oleh para pelayan yang bekerja di rumah mewah tersebut.
"Daddy," panggil Anne pada Christoper, sang ayah.
Lelaki paruh baya itu hanya mengangguk. Sifatnya memasang aroggant dan kasar. Tidak hanya itu dia juga lelaki licik yang selalu mendapatkan apa saja yang dia mau.
Alan duduk dengan tenang. Sebenarnya yang menerima kehadiran nya hanya Emma dan Anne. Sedangkan Christopher dan Alta, sejak awal pernikahan tidak merestui. Namun, demi kebahagiaan Anne mereka terpaksa merestui.
__ADS_1
"Bagaimana perusahaan mu Alan?" tanya Christoper dingin.
"Seperti biasa Dad," jawab Alan.
"Seperti biasa itu, apa?" sambung Alta.
Ini yang paling membuat Alan jenggah jika datang kerumah mertuanya. Tidak ada pembahasan lain, selain perusahaan.
"Hm, bisakah jangan bahas pekerjaan dulu?" ucap Emma malas. "Setidaknya saat di meja makan, kita bahas yang lain saja. Aku bosan mendengar nama perusahaan terus," ketus Emma.
"Kau tidak tahu apa-apa, Emma. Sebaiknya kau diam saja!" sahut Christoper menatap istrinya tajam.
Emma langsung kikuk. Suasana meja makan langsung canggung. Semua diam dan hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan satu sama lain.
Christoper adalah pria kejam yang tak memiliki perasaan. Dia paling tidak suka jika jika ada yang membantah ucapan nya. Dia tidak suka di potong saat bicara. Dia seperti seorang raja yang harus dihormati.
Anne adalah putri bungsu keluarga kaya tersebut yang seharusnya mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Namun, nyatanya tidak begitu. Anne justru kehilangan sosok itu sejak kecil. Entah kenapa, sang ayah begitu membenci dirinya. Dia tak pernah bermanja-manja pada ayah nya.
"Sudah ayo lanjut makan," ucap Anne memecahkan keheningan. "Sayang kau mau yang mana?" tanya Anne pada Alan.
Lelaki itu tak menjawab dia diam saja ketika Anne mengambilkan beberapa makanan diatas piringnya. Dia sudah tak heran dengan suasana canggung seperti ini, bukankah sudah biasa pertengkaran dan perdebatan di meja makan?
"Terima kasih," sahut Alan memaksakan senyum.
Sebenarnya hidup Anne tak sebahagia yang orang-orang kira. Dia memang lahir dari keluarga terpandang yang terlihat harmonis. Namun, nyatanya sang ayah malah menatapnya sebelah mata. Entah apa salahnya sehingga pria yang berstatus ayah nya itu tak pernah menganggap nya ada.
Mereka melanjutkan makan. Tak ada lagi obrolan. Emma dan Anne yang biasanya akan heboh membahas tas-tas branded atau berlian mahal di pameran, kini hanya diam seribu bahasa.
Ayah adalah cinta pertama anak perempuan nya. Begitulah yang seharusnya di rasakan oleh Anne. Namun, hal tersebut justru tidak pernah dia rasakan. Sosok sang ayah memang ada. Tetapi dia kehilangan figure itu sejak kecil.
Hal itulah yang membuat karakter Anne menjadi manja dan keras kepala. Dia akan melakukan apa saja untuk mewujudkan semua keinginan nya. Tak peduli siapa yang harus berkorban dan di korbankan termasuk memaksa alan menikahi nya.
.
.
__ADS_1
.
"Alan." Anne memeluk manja lengan lelaki itu.
"Ada apa?" tanya Alan dingin. Dia selalu tak bisa menjaga sikap baik nya terhadap Anne.
"Besok aku ada pemotretan di Bali. Apa kau mau ikut menemaniku? Selama menikah kau tidak pernah menemani ku," ucap Anne sendu.
Anne selalu yakin bahwa dia bisa menaklukkan Alan yang dingin. Namun, dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya dengan memasukkan orang ketiga dikehidupan rumah tangga wanita tersebut.
"Aku tidak bisa. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," tolak Alan. Sebenarnya dia tak tahan berlama-lama dengan Anne.
"Ayolah Alan. Sekali saja," bujuk Anne.
"Tidak," tolak Alan tegas. Setelah ini Alan ingin menemui Aerin, dia sudah sangat merindukan istri nya tersebut. Alan puas menahan diri untuk tak menghubungi Aerin. Walau beberapa kali istrinya itu menelepon nya.
"Jangan lupa Alan, hidupmu ada dalam genggaman ku. Jika kau tidak mengikuti apa yang ku mau. Ya tidak apa-apa, bersiaplah menerima kehancuran kedua orang tua mu," ancam Anne tersebut licik.
Alan mencengkram kuat stir mobil. Dia tahu, jika Anne tak pernah bermain-main dengan ucapannya. Apa yang dikatakan gadis itu, selalu saja dia lakukan.
"Bagaimana Alan? Ya tidak apa jika kau menolakku, tapi aku tidak menjamin keselamatan kedua orang tua mu," ucap Anne mengelus dada Alan.
Alan menahan amarah didalam dadanya. Namun dia tak bisa gegabah. Sebab kedua orang tua nya bisa saja jadi ancaman dari Anne.
"Baiklah," ucap Alan mengalah.
"Terima kasih, Sayang," Anne hendak mencium pipi Alan.
"Jangan sembarangan Anne!" hardik Alan. "Aku tidak sudi di sentuh oleh tubuh menjijikan mu," ucap Alan.
Anne mendengus kesal. Mungkin dia bisa mengancam Alan dengan nama kedua orang tua nya. Namun, untuk menyentuh bagaimana tubuh Alan yang lain wanita itu tak bisa. Sebab Alan begitu alergi jika Anne menyentuhnya secara berlebihan.
Alan kembali menyetir. Pikirannya terbang melayang. Rasanya Alan ingin menangis karena rindunya pada Aerin. Namun, dia belum bisa menghubungi wanita itu karena ada Anne. Alan takut Anne tahu tentang Aerin dan hal tersebut malah membuat istrinya dalam bahaya.
'Sayang, apa kau baik-baik saja? Maaf aku belum bisa pulang. Jaga kesehatan ya Sayang, tunggu aku pulang. Aku akan memeluk mu dengan erat. Aku merindukan mu, Sayang,' ucap Alan dalam hati.
__ADS_1
Alan tahu jika hidup Aerin takkan aman selama bersama nya. Tetapi dia akan menjaga dan melindungi wanita tersebut. Dia takkan biarkan siapapun menyakiti Aerin dan calon anaknya.
Bersambung....