Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Tikus kantor


__ADS_3

Tidak terasa perjalanan jauh tersebut telah membawa mereka sampai di Indonesia.


Yoas dan Yoel mengajak ketiga anak kembar itu untuk turun dari pesawat. Tangan keduanya masing-masing menggandeng ketiga putra Aerin, sebab perlu berhati-hati apalagi sudah sampai ke kandang buaya.


"Nanti kita tinggal di mana, Ayah?" tanya Chana sambil menggoyangkan tangan Yoas dengan senyum menggembang. Pria kecil yang satu ini memang, selalu ceria tanpa ada beban.


"Dirumah Opa kalian," sahut Yoas terkekeh.


"Hah? Kami punya Opa, Ayah?!" tanya Chana dan Zanka lalu saling melihat satu sama lain.


"Iya, nanti kalian akan bertemu dengannya," sahut Yoas seraya mengusap kepala dua anak kembar itu.


Sementara Shaka diam saja tanpa berniat bertanya atau sekedar ingin tahu. Dia tak mau repot untuk menanyakan hal-hal yang bukan menjadi tujuannya datang ke Indonesia. Jika memang dia memiliki kakek, nanti juga dia pasti akan bertemu dengan kakeknya tersebut


Mereka di sambut oleh beberapa anak buah Yoas yang memang bertugas berjaga-jaga di Indonesia. Kelima pria tampan itu masuk kedalam mobil.


Sejak tadi Shaka hanya diam saja dengan tatapan kosong ke depan. Lelaki kecil berusia belia tersebut seperti sedang memikirkan sesuatu. Ya, Shaka sedang membayangkan ayah dan ibu-nya bersatu seperti keluarga lain. Dia ingin bahagia dan tertawa-tawa bersama, jujur saja dia iri melihat teman-temannya yang hidup bahagia dengan orang tua lengkap. Walau Yoas dan Yoel memberikan kasih sayang utuh pada mereka, tetapi tetap saja ikatan batin tak bisa mengikat mereka seperti seorang ayah dan anak.


Sampai disebuah rumah mewah dengan dua lantai. Mobil yang mereka tumpangi memasuki pekarangan rumah.


"Wah, ini rumah Ayah?!" seru Zanka


"Tentu. Rumah kalian juga," sahut Yoas sambil turun dari mobil.


"Kak kau sedang apa?" Gerald duduk disamping Kakak nya.


"Ini hampir sama dengan rumah kita di Sidney, Ayah," sahut Zanka.


"Ayo masuk," ajak Yoel.


Mereka masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Para pelayan yang bekerja di sana sudah menyambut dengan senyuman manis.


"Kalian sudah datang?" sambut seorang pria.


"Kami baru sampai, Tuan Besar," sahut Yoas dan Yoel membungkuk hormat.


Lelaki paruh baya itu tersenyum. Kacamata tebal yang bertengger di hidung mancungnya menambah kesan tampan di usianya yang tentu tidak muda lagi. Dia menatap kearah ketiga anak kembar yang di gandeng oleh Yoas dan Yoel.


'Wajah mereka benar-benar mirip, Alan,' batinnya.


.


.


"Kau sedang apa, Kak?" tanya Zanka yang duduk di samping Shaka.


"Chana, kunci pintunya!" suruh Shaka tanpa melirik sang adik.


"Baik Kak," sahut Chana dengan segera melakukan perintah sang kakak.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lakukan, Kak?" tanya Chaba ikut menimpali.


Setelah makan malam, ketiganya langsung meminta masuk kamar. Rumah ini mewah dan elit, semua fasilitas lengkap ada. Ketiga anak kembar itu masih tak menyangka, jika ada yang namanya kakek tiri.


"Sedang menguji kemampuan pria itu," jawab Shaka sambil memangku laptop dipahanya.


"Menguji kemampuan pria itu?" ulang Zanka dengan kening berkerut. "Siapa, Kak?" sambungnya lagi.


"Ehem, Tuan Christoper," sahut Shaka masih asyik dengan laptop dipangkuan nya. "Kakak ingin meretas data perusahaan nya. Biar dia merasakan kehilangan sesuatu yang dia jaga," jelas Shaka lagi.


Zanka dan Chana manggut-manggut. "Apa Kakak akan membuat perusahaan Tuan Christoper bangkrut?" Chana ikut menatap layar ponsel Kakaknya. "Kau hebat sekali, Kak," pujinya mengacungkan jempolnya memuji kemampuan sang kakak.


"Ehem, tidak. Kakak hanya ingin melihat kemampuan nya saja. Membuatnya bangkrut tidak ada keuntungan nya untuk Kakak," jelas Shaka sibuk dengan laptop di pangkuannya.


Anak didik Yoel, tak heran jika Shaka ahli IT di usia belia. Karena Yoel telah memberikan ilmu secara gratis untuk anak itu.


Lagi-lagi Zanka dan Chana manggut-manggut paham. Kakak nya ini kecil-kecil cabe rawit baik dalam pemikiran mau pun tindakan dan kecerdasan nya, cara berpikir nya luas dan terbuka sehingga banyak pengetahuan yang dia miliki. Shaka juga memiliki hobby baca buku, karena sudah ada dasar kemampuan yang dia miliki ketika dia asah kemampuan itu semakin tajam dan teruji.


"Ehem, ternyata dia benar-benar kaya. Lebih kaya dari Ayah," ujar Shaka.


"Pantas saja Daddy hidup dalam kurungannya. Tapi Opa juga kaya," timpal Chana.


"Tetapi dia menjerat Daddy dengan kekayaannya. Lihat saja nanti, Kakak akan buat dia menyesal karena sudah mengurung Daddy," ucap Shaka dengan menggebu-gebu.


"Aku penasaran wajahnya seperti apa, Kak?" sambung Zanka yang masih menatap layar laptop sang kakak. Laptop milik Yoel yang sengaja dipinjam dengan alasan ingin main game.


"Ehem, dia hebat juga didunia IT," ucap Shaka.


Shaka menatap adiknya tajam. Lelaki kecil itu seperti tak suka saat mendengar sang adik memuji lelaki yang sudah menyiksa ayahnya.


"Dari pada kau berbicara terus lebih baik ambilkan Kakak air minum," cetus Shaka jenggah melihat adiknya.


"Iya Kak." Chana menurut dari pada terkena amukkan Kakak nya yang sedang mode tidak mood itu.


Sementara Zanka menatap serius layar laptop tersebut sambil memperhatikan apa yang kakaknya lakukan. Dia tidak ahli dalam bidang retas meretas data. Tetapi dia ahli dibagian program.


Chana keluar dari kamar mengambilkan minuman Kakaknya. Aerin menanamkan kebiasaan pada anak-anak nya agar tidak bergantung pada pelayan. Selama hal yang dibutuhkan bisa dilakukan sendiri kenapa harus menyuruh orang lain? Anak-anak Aerin yang terdidik dan dewasa sebelum waktunya itu mengikuti dan patuh pada perintah dan pesan sang ibu.


Sedangkan Shaka kembali melanjutkan aksinya. Wajahnya tampak serius seperti orang dewasa. Meski tubuhnya kecil tetapi aura nya terlihat seperti orang-orang yang memiliki kecerdasan sangat tinggi.


"Cih, ternyata dia memiliki anti virus juga. Hem, lihat saja aku akan mengirim virus baru padanya," gumam Shaka.


Tak


"Beres." Dia tersenyum smirk setelah menekan tombol enter. "Kakak ingin melihat reaksi nya, bagaimana saat dia tahu jika perusahaan nya telah Kakak retas. Lihatlah besok dia pasti heboh," ujar Shaka tertawa mengelagar. "Dia harus tahu bahwa sedang berhadapan dengan siapa." setelahnya pria kecil itu menutup laptopnya karena sudah merasa puas dengan sesuatu yang tengah dia kerjakan.


"Kakak, apakah tidak keterlaluan? Bagaimana kalau Ayah dan Papa tahu mereka bisa melaporkan pada Mommy?" ucap Zanka was-was. Kalau Aerin tahu jika anak-anaknya berulah lagi, bisa di hukum mereka.


"Mereka tidak akan tahu, selama kau dan Chana bisa tutup mulut," cetus Shaka membaringkan tubuh kecilnya diatas ranjang king size.

__ADS_1


"Son."


Shaka dan Zanka terkejut saat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Dia menoleh kearah pintu masuk kamarnya dan melihat Yoas masuk bersama Chana. Untung dia sudah menyelesaikan pekerjaan nya kalau tidak dia bisa ketahuan oleh Ibunya itu.


"Ayah." Dia menyambut Yoas dengan senyuman "Ada apa?" tanyanya dengan wajah ramah


"Kenapa kalian berdua belum tidur, ini sudah tengah malam. Ayo minum susu dulu." Yoas memberikan tiga gelas susu pada ketiga putra angkatnya.


"Iya Ayah." Tiga anak kecil itu mengambil susu yang dipegang Yoas lalu menunggak isinya dengan tandas.


"Ayo tidur." Ajak Yoas mengulurkan tangannya agar kedua lelaki kecil itu menyambut nya.


"Ayo Ayah."


Sudah tugas dan tanggung jawab Yoas jika ketiga anak itu berjauhan dengan Aerin, maka dialah yang ambil alih untuk mengurus semua keperluan si kembar.


.


.


"Brengsek," umpat seorang pria ketika melihat data-data nya berubah, "Siapa yang berani macam-macam denganku?" Tangan nya terkepal saat kuat.


"Bagaimana bisa data yang kuberi sistem keamanan ini diretas oleh orang lain? Jurus apa yang dia lakukan?" geramnya dengan suara menggelagar. Lelaki paruh baya itu melepaskan kacamata tebalnya, wajahnya penuh amarah.


Dia kembali mengotak-atik komputer nya. Wajahnya tampak marah dan penuh emosi terlihat jelas dari sorot mata dan tatapan elangnya.


"Awas saja, kalau aku menemukanmu aku akan mencincang tubuhmu dan ku makan hingga habis," ancamnya dengan emosi.


"Dia pikir dia siapa? Dia pikir bisa melawanku? Cih, dia tidak tahu saja siapa aku berani nya bermain-main api denganku?" Dia masih mengoceh sendirian sambil serius dengan komputer yang ada didepannya.


"Hem, lihatlah tikus kecil aku akan mengambil dataku kembali dan mengirim virus untuk menghancurkan komputer mu." Dia tersenyum devil. "Kau takkan mampu mengalahkan kemampuan ku. Kau pikir semudah itu mengambilkan sesuatu yang kujaga dengan susah payah. Ohh takkan kubiarkan hal itu terjadi."


Takkkkkkkk


Dia menekan tombol enter dan seketika datanya yang hilang muncul kembali dengan lengkap dilayar komputer nya.


"Siapa dia? Aku harus lacak keberadaan nya." Dia masih mengotak-atik komputer nya.


"Jakarta?" gumamnya.


Lelaki itu mencari identitas seseorang yang baru saja meretas data miliknya.


"Sial. Dia begitu pandai bersembunyi. Aku penasaran siapa dia sebenarnya nya? Kenapa dia bisa meretas data-data ku?" gumamnya.


Cukup lama lelaki itu berkutat dengan komputer didepannya mencari identitas orang yang berani bermain-main dengannya. Namun hasil tak memuaskan dia sama sekali tak bisa mencari siapa yang sudah membuatnya semarah ini. Hingga akhirnya dia lelah sendiri dan mematikan komputer nya.


"Huffhhhhhhh." Dia menyenderkan tubuhnya dikursi kebesarannya,


Meski usia tak muda lagi, tetapi keahlian di masa mudanya hingga kini masih dia kembangkan. Sehingga tak heran jika dia dijuluki sebagai raja bisnis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2