Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Kita harus menikah


__ADS_3

"Tuan, lepaskan," seru Aerin memberontak.


Alan sontak melepaskan pelukan nya. Lelaki itu tampak bahagia ketika mengetahui wanita yang telah tidur bersama nya sedang menggandung bayi nya.


"Kita akan menikah," ucap Alan yakin.


Mata Aerin membulat sempurna ketika mendengar ucapan Alan. Wanita itu mendengar tak percaya, apakah semudah itu lelaki ini mengatakan kata menikah? Apa lelaki ini tidak tahu kalau menikah itu butuh resiko.


"Tidak mau," tolak Aerin.


Walau dalam hati dia sebenarnya setuju dengan permintaan lelaki ini karena anak dalam kandungan nya. Namun, rasa trauma dia hati Aerin jauh lebih besar dari pada egonya sendiri.


"Kita harus menikah," tegas Alan. "Aku akan melamar mu. Minggu depan, aku akan menikahi mu," jelas nya yakin. Alan yakin dengan keputusan nya kali ini. Masalah Anne dan keluarga nya dia sudah tak peduli lagi.


Aerin terdiam sejenak, sambil memikirkan ucapan Alan. Dia ingin menikah tapi bersama lelaki yang dia cintai, sedangkan Alan bahkan dia tak kenal siapa lelaki ini.


"Aku belum mengenalmu. Aku tidak tahu siapa keluarga mu. Bagaimana bisa kita menikah?" ucap Aerin.


Menikah ini perkara sekali seumur hidup. Salah pilih pasangan menyesal seumur hidup. Aerin menikah sekali dalam hidupnya. Dia tak ingin gagal seperti kedua orang tuanya. Dia manusia biasa yang ingin bahagia walau dalam bentuk yang sederhana. Semoga Tuhan mengabulkan semua doa-doa nya.


Alan terdiam sejenak. Apa dia mengaku saja bahwa dia sudah memiliki istri? Tapi bagaimana jika Aerin malah menolak menikah dengannya? Bagaimana jika Aerin meninggalkan dia? Dia tidak bisa. Dia tak hanya menginginkan bayi dalam kandungan nya. Tapi dia juga menginginkan Aerin ada dalam hidupnya.


"Itu bisa diatur yang terpenting, kau harus menikah dengan ku," ujar Alan.


Lagi, Aerin hanya bisa terdiam sejenak. Dia menghela nafas panjang. Dia belum mengiyakan.


"Beri aku waktu," ucapnya


"Sampai kapan? Tidak bisa lama Aerin, dia akan membesar. Kalau kau menunda nanti orang-orang akan mengira kau hamil diluar nikah dan menganggapmu perempuan tak benar," jelas Alan.


"Bukankah aku memang hamil diluar nikah?" tanya Aerin tak habis pikir. Entah kemana lelaki ini membuang pikiran nya. Dia memang hamil diluar nikah.


"Bukan itu maksudku," Alan mendengus kesal.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Aerin menatap Alan penuh selidik.


Alan sengaja melepaskan cincin pernikahan nya. Bahkan sejak keluar dari altar pernikahan sepuluh tahun lalu, dia tak memakai cincin tersebut. Dia tak bisa karena dia tidak Mencintai Anne, jadi untuk apa dia memakai cincin yang sama sekali tak berharga di mata nya tersebut.


"Ya tidak apa-apa," Alan jadi salah tingkah sendiri.


Aerin tentu wanita berkelas yang selalu teliti pada orang-orang baru. Namun, dia memang tidak tahu siapa Alan. Jika saja dia tahu siapa lelaki yang menjadi ayah dan anak nya tersebut sudah pasti dia akan memilih melahirkan anaknya seorang diri.


"Jadi sampai kapan aku harus memberimu. Aku harap kau segera mengambil keputusan demi anak kita," ucap Alan.


Sebenarnya Alan pun dilema. Dia sudah menikah dan memiliki istri, jika dia menikahi Aerin pasti akan berakibat fatal. Tak hanya bagi perusahaan tapi juga reputasi keluarga. Sebab keluarga Anne pasti takkan tinggal diam.


Namun, dia tak bisa melepaskan Aerin begitu saja. Dia sudah jatuh cinta pada wanita yang sudah melewatkan malam-malam panjang dengan nya tersebut. Oleh sebab itu dia takkan membiarkan wanita ini terlepas dari dekapannya. Dia berjanji akan menjaga Aerin. Apalagi dia tahu bagaimana kehidupan wanita yang sudah menggandung anaknya tersebut, maka Alan takkan biarkan Aerin hidup dalam kesusahan lagi.


"Aku akan memberitahumu jika aku sudah siap," jawab Aerin keluar dari dalam lift.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Alan mencengkram tangan Aerin.


"Aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja," ujar Alan. Entah kenapa dia sakit melihat tatapan dingin Aerin padanya. Dia tak suka di diamkan seperti ini. Dirinya terlalu biasa dirajakan dan dilayani layaknya seorang pemimpin.


"Aku baik-baik saja," jawab Aerin sambil berjalan menelusuri koridor rumah sakit.


"Ada hubungan apa kau dan Agam?" tanya Alan lagi. Meski dia sudah tahu jika Aerin dan Agam tak ada hubungan apapun, namun lelaki itu ingin memastikan apakah informasi yang diberikan oleh asisten nya benar.


"Kenapa?" kening Aerin berkerut.


"Aku calon suami mu, aku tidak suka kau dekat dengan lelaki lain," ucap Alan menegaskan.


"Hanya calon suami. Bukan suami," sahut Aerin masuk kedalam taksi.


Enak saja Alan mengaturnya. Kemarin saja ada seorang wanita yang menempel pada lelaki itu. Dan Inis seenaknya lelaki itu malah mengatur hidupnya.


Aerin duduk melamun sambil menatap kosong kedepan. Apakah hidupnya akan baik-baik saja setelah ini? Dipastikan dia akan diusir dari rumah setelah tahu bahwa dirinya hamil. Tapi tak apa dia akan baik-baik saja menjalani hidupnya seorang diri. Tak ada tempat mengadu bagi perempuan itu.

__ADS_1


Aerin bersandar di pintu mobil. Tatapannya kosong, dia tidak bisa memikirkan apa kehidupan selanjutnya. Dia hanya ingin bernafas seperti biasa.


"Kita akan berjuang bersama, Sayang. Jangan khawatir," gumam nya sambil memejamkan matanya.


.


.


.


Alan menatap mobil taksi yang menawan Aerin menjauh dari nya. Bukannya sedih atau takut. Lelaki itu malah tersenyum bahagia. Membayangkan anaknya lahir saja sudah membuat jantungnya berdebar-debar. Dia semakin tak sabar menyambut kehadiran buah hati nya itu.


"Aerin, kau akan jadi milikku, Sayang. Kita akan hidup bahagia. Selamanya," ucap Alan.


Sejak pertemuan pertama mereka kemarin, dia sudah jatuh cinta pada sosok Aerin. Wanita keras kepala yang membuatnya tak bisa berpaling. Apalagi wajah polos dan cantik Aerin saat marah dan kesal, sungguh membuat lelaki itu tak bisa berpaling.


Senyum Alan memudar ketika mengingat istrinya. Anne adalah wanita yang sekarang masih berstatus istrinya. Namun, tak pernah dia sentuh selama sepuluh tahun pernikahan mereka. Dia takkan menyentuh wanita yang tidak dia cintai. Tapi kenapa malam itu dia bisa begitu terlena menatap wajah Aerin yang penuh gairah saat melihatnya.


"Aku tak sabar menjadikan mu istriku, Sayang. Aku berjanji akan menjaga kalian berdua sepenuh hatiku. Aku akan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja," ucap Alan.


Lelaki itu masuk kedalam mobil. Didalam sana sudah ada Yoas yang menunggu dengan setia.


"Yoas, persiapkan pernikahan ku dan Aerin!" titah Alan.


Yoas mendelik mendengar perintah dari Alan. Apakah benar lelaki ini ingin menikahi wanita lain disaat dia sudah memiliki istri?


"Tuan, apa Anda yakin? Bagaimana dengan Nona Anne?" tanya Yoas menyetir.


"Ck, Yoas. Aku memerintahmu, jadi turuti saja. Aku bisa urus sendiri masalah wanita iblis itu," ketus Alan kesal.


"Baik Tuan," sahut Yoas langsung tersenyum kikuk.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2