
Alan sudah rapi dengan stelan mahal yang melekat ditubuhnya. Lelaki ini memang tampan bak dewa Yunani. Rahang yang tegas. Kulit yang halus berwarna coklat kontras dengan warna jas yang di pakai. Serta hidung mancung dan tatapan yang tajam. Alisnya tebal. Bibir seksi yang begitu menggoda untuk disesap. Siapapun kaum hawa yang melihat nya akan benar-benar merasakan buncahan asmara yang menyeruak masuk kedalam sukma.
Alan keluar dari kamarnya. Dia berjalan tenang sambil memasukkan kedua tangannya disaku celananya.
"Sayang," panggil Anne.
Anne keluar juga keluar dari kamar dengan gaun berwarna hitam yang senada dengan warna jas Alan. Wanita itu terpesona melihat ketampanan sang suami yang menurutnya melewati batas tampan. Wajah yang tegas itu benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga dan bahagia memiliki Alan sebagai suami. Walau tanpa ada cinta dihati lelaki tersebut untuknya.
"Anne, bersikaplah seperti biasa. Aku tidak suka basa-basi," tegas Alan menatap Anne tajam ketika wanita itu memeluk lengannya dengan agresif.
Anne merenggut kesal. Niat hati ingin bermesraan dan menunjukkan pada dunia bahwa Alan adalah miliknya. Namun, lelaki ini malah berlaku dingin padanya. Harusnya Alan bersyukur memiliki istri sempurna yang memiliki body luar biasa seperti Anne.
"Tapi ingat didepan semua orang kita harus mesra," ucap Anne menegaskan.
Kehidupan bahagia yang mereka tunjukkan pada dunia hanyalah untuk menutupi identitas asli dari rasa sakit yang ditutupi lewat pernikahan. Demi kedua orang tua yang sudah mengikat janji sejak mereka kecil, keduanya terpaksa harus hidup dalam sandiwara. Terutama, Alan dia menjadi orang lain demi menyenangkan orang lain. Hatinya tersiksa dengan ketidakjelasan seperti ini. Namun, bagaimana lagi takdir hidup telah membawa nya terjebak dalam kurungan yang mengurung nya untuk tak bisa lepas dari sana.
Keduanya masuk kedalam mobil. Anne mendengus kesal ketika sang suami masuk tanpa membuka pintu untuknya. Benar-benar tidak romantis seperti drama atau novel yang dia baca. Suaminya datar tanpa ekspresi, entah apa yang di tunjukkan pria tersebut.
Didalam mobil hanya ada deru mesin mobil yang terdengar. Sedangkan manusia yang berada didalam nya, masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Sampai kapan aku akan terjebak dalam pernikahan gila ini? Jika bukan karena ayah dan ibu, mungkin aku sudah menyerah,' ucap Alan dalam hati.
'Lihat saja Alan, aku akan membuatmu bertekuk lutut di kaki ku. Kau takkan bisa lepas dariku,' ucap Anne dalam hati.
__ADS_1
Kedua orang itu seperti bertelempati dalam hati. Saling membicarakan dengan ego masing-masing. Kebersamaan mereka seakan tak lekang oleh waktu, seperti pasangan bahagia pada umumnya. Padahal, tidak ada yang tahu jika Alan dan Anne adalah dua orang yang mungkin raganya bersama namun hatinya terpecah belah.
Anne putri dari seorang pengusaha ternama. Putri bungsu yang sangat manja. Hidupnya sekilas kekayaan dan kemewahan. Memiliki fasilitas dan uang yang berlimpah tentu saja membuat dirinya tumbuh menjadi wanita sombong. Menikahi Alan adalah anugerah terindah dalam hidupku. Dia sudah mendamba lelaki itu ketika mereka masih remaja. Saat tahu jika Alan adalah lelaki yang di jodohkan dengan nya, Anne tak menolak sama sekali. Dia justru menjadi semakin gila agar Alan mencintainya. Namun, sayang perasaan nya yang membuncah dalam dada berharap akan mendapatkan rasa yang sama. Justru dibalas dengan sifat dingin suaminya itu. Bahkan selama sepuluh tahun menikah, suaminya teras tak pernah menyentuh tubuhnya walau mereka tidur dalam kamar yang sama.
"Alan, tunggu," renggek Anne menarik tangan lelaki itu.
Alan mengeram kesal. Dia menatap Anne tajam. Sungguh, tak ada rasa cinta sedikitpun untuk wanita yang berstatus sebagai istrinya ini. Justru perasaan jengkel dan juga jijik yang ada.
Bukan Alan tak tahu apa yang dilakukan Anne di belakangnya. Hanya saja dia tidak mau tahu, selama Anne tak merusak nama baiknya, hal itu bukanlah masalah untuknya.
"Kau lupa kalau kita ini pasangan bahagia?" goda Anne memeluk lengan kekar Alan.
Alan tak menanggapi lelaki itu masuk kedalam hotel tempat acara diadakan. Bidikan kamera terpusat pada mereka berdua. Banyak yang mengagung-agungkan pasangan tersebut. Pasangan yang terlihat mengumbar kemesraan pada media, bahkan keduanya diklaim sebagai romantis terkini.
Alan menanggapi dengan anggukan saja. Susah sekali mendengar lelaki ini berbicara, kecuali pada sahabat dan asistennya. Dia memang irit bicara dan hanya mengeluarkan kata seperlu nya jika penting. Dia tidak suka basa-basi. Apalagi sekedar untuk bersikap ramah pada orang lain.
"Hai Anne," sapa teman-temannya.
"Hai Christine, Katty," balas Anne sambil memberikan pelukan hangat pada kedua teman sosialita nya ini.
Acara ulang tahun seorang pengusaha ternama. Tentu tak main-main, para tamu yang berdatangan juga dari kelas-kelas atas dengan pakaian yang glamor seperti sedang fashion show.
"Kau ikut?" tanya Ruan terkekeh. Entah kapan lelaki tampan yang satu itu muncul tiba-tiba saja dia berbisik ditelinga Alan.
__ADS_1
Alan mendelik dan menatap Ruan kesal, "Kau benar-benar jelamaan jalangkung. Datang tak diundang pulang tak diantar," sindir Alan.
Ruan tertawa menggelora. Dia tahu bahwa sahabat nya bernama Alan tersebut tak suka keramaian. Jika dia sudah datang ditempat seperti ini pasti karena ancaman atau ada sesuatu yang dia sendiri tidak bisa menolak nya.
"Kau menikmati pesta aneh seperti ini?" tanya Alan benar-benar tak suka pesta seperti ini.
"Ya dan kau tahu aku datang kesini hanya untuk cuci mata, lumayan bisa menatap gunung kembar para wanita itu dengan gratis tanpa harus bayar," sahut Ruan tertawa lebar sambil melirik wajah kesal Alan. Tak heran lagi, Ruan memang tipe lelaki nakal yang kesehariannya ditemani para wanita cantik untuk menghilangkan penat dari pekerjaan.
Alan memutar bola matanya malas. Lelaki itu duduk dengan tenang sambil menatap istrinya yang tengah asyik bersama teman-teman sosialita nya. Begitu lah selalu, Alan hanya datang dan diam. Kalau tidak ada Ruan dia akan seperti patung hidup yang enggan untuk bergerak.
"Selemat malam, Tuan Alan," sapa salah satu kolega bisnis nya.
"Malam Tuan," balas Alan menyambut uluran tangan pria itu.
"Apa kabar, Tuan? Sudah lama kita tidak bertemu?" tanya nya sekedar basa-basi.
"Seperti yang Anda lihat, Tuan Agam," sahut Alan tersenyum simpul. "Saya pertama kali melihat Anda hadir di acara seperti ini, ada apakah gerangan?" seru Alan sambil terkekeh pelan.
Agam Robson, adalah pengusaha muda yang juga masih single. Lelaki tampan yang satu ini tidak jauh beda dengan Alan yang tidak terlalu suka keramaian, hanya saja demi profesional dalam hal bisnis dia harus menjaga image nya sebagai pengusaha.
"Anda tahu, Tuan. Saya tidak bisa menolak," sahut Agam terkekeh pelan.
Bersambung....
__ADS_1