
"Anda dengan siapa, Tuan?" tanya Alan ramah. Kalau bersama Agam, dia bisa menyesuaikan diri. Sebab lelaki ini adalah rekan bisnis yang sering berbincang-bincang dengannya di sela pekerjaan yang sibuk
"Bersama staf saya, kebetulan tadi dia sedang berbincang bersama teman-teman nya," sahut Agam.
"Hem, laki-laki atau perempuan?" Alan menatap curiga. Pasalnya, Agam ini lelaki yang jarang berinteraksi dengan dunia luar kecuali masalah pekerjaan.
Agam tertawa lebar, Alan memang orangnya sensitif dan memiliki rasa curiga yang tinggi padanya. Hingga tak heran jika segala pergerakan nya selalu diawasi oleh lelaki tersebut.
"She is girl," sahut Agam tersenyum, saat menyebut wanita tersebut dia seperti tak biasa.
"Girl?" ulang Alan menatap curiga.
Agam mengangguk sembari tertawa pelan. Sedangkan Ruan santai-santai saja sambil menikmati makanan gratis diatas meja VVIP. Para kaum hawa menatap kearah meja mereka. Dimana disana tiga pria tampan yang menggoda iman, terlihat berbincang-bincang sambil tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, terlihat menarik.
"Jangan menatap saya curiga, Tuan," ucap Agam terkekeh pelan.
"Ya. Ya. Baiklah, saya tidak bisa mencurigai Anda. Tapi saya yakin wanita ini spesial," celetuk Alan sambil menyesap anggur di gelasnya.
"Benarkah, Tuan Agam?" sambung Ruan. "Apakah benar wanita itu spesial? Wahh hebat sekali wanita tersebut, sebelum nya tidak ada yang bisa meluluhkan hatimu," tutur Ruan.
Lagi-lagi Agam hanya tersenyum simpul. Ya begitulah, banyak yang kadang tidak percaya dengan dirinya jika dia sebenarnya lelaki normal. Tak sedikit yang mengklaim bahwa dirinya pria impoten yang tidak menyukai wanita, padahal dia pria normal yang membutuhkan sentuhan.
"Maaf apa Anda sudah menunggu lama, Tuan?" tanya seorang wanita yang membuyarkan obrolan mereka bertiga
"Oh tentu tidak, Aerin," sahut Agam sambil tersenyum hangat pada salah satu staf berprestasi tadi perusahaan nya tersebut.
Tubuh Alan langsung menegang ketika melihat wanita itu ada didepan matanya. Sedangkan Ruan langsung terpesona menatap wanita cantik dengan gigi gisul dan senyuman yang memikat tersebut.
"Ohh ya Aerin, perkenalkan ini teman bisnis saya. Tuan Alan dan Tuan Ruan," ucap Agam memperkenalkan keduanya.
Aerin langsung melihat kearah Alan. Dia benar-benar terkejut melihat lelaki yang malam itu ada disini, tampak wajah wanita itu merah menahan marah dan juga malu. Sebab kejadian malam itu sampai membuat nya trauma bertemu dengan lelaki apalagi Jo.
__ADS_1
"Hai Aerin, perkenalkan saya Ruan," ucap Ruan mengulurkan tangannya pada Aerin
"Aerin, Tuan," sahut wanita itu menyambut tangan Ruan
Tatapan Alan dan Aerin bertemu. Namun, secepatnya Aerin membuang pandangan nya. Dia tidak mau terjebak dengan tatapan lelaki didepannya ini. Dia sudah berjuang setengah mati untuk menghilangkan bayangan lelaki itu dari kepalanya. Dia tidak mampu untuk melihat tatapan Alan.
"Alan," lelaki itu ikut mengulurkan tangannya pada Aerin.
Namun, perempuan trauma tersebut malah diam saja. Keringat dingin membasahi dahi nya. Tangannya mengepal kuat.
"Aerin," panggil Agam menyentuh lengan Aerin. "Apa kau sakit? Kenapa berkeringat?" tanya Agam panik sambil berdiri dan menempelkan punggung tangannya dikening Aerin.
Aerin hanya menggeleng saja. Mulutnya bungkam untuk bercerita. Ingin sekali dia memeluk Agam untuk memberikan kekuatan padanya. Sungguh, kini dia tidak bisa bayangkan kenapa takdir mempertemukan nya kembali dengan lelaki yang tak ingin dia temui dalam hidupnya tersebut.
"Tidak panas," ucap Agam menurunkan tangannya.
"Saya baik-baik saja, Tuan," jawab Aerin sedikit gugup.
"Tuan, saya permisi ke toilet sebentar," pamit Aerin
"Apa perlu saya temani?" tawar Agam. Lelaki itu sedikit panik ketika melihat wajah pucat Aerin
"Tidak, Tuan. Saya bisa sendiri," ucap Aerin menolak pelan.
"Ya sudah hati-hati. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya. Bawa ponsel nya," pesan Agam mengingatkan. Entahlah dia tidak tahu, kenapa dia bisa begitu perhatian pada Aerin? Mungkin karena Aerin berbeda dari wanita lain yang terkesan tak terpesona dengan ketampanan dan kekayaan lelaki tersebut.
"Iya, Tuan," sahut Aerin mengangguk sambil membungkuk hormat.
Aerin berjalan dengan langkah lebar menuju toilet. Entah kenapa perutnya terasa di kocok- kocok ketika melihat waja Alan?
"Huwek. Huwek." Wanita tersebut mengeluarkan isi perut nya di wastafel toilet.
__ADS_1
"Huh, ada apa dengan perutku? Kenapa melihat wajah lelaki itu, aku jadi mual-mual?" keluh Aerin sambil mengusap perut ratanya.
Aerin mengeluarkan apa saja didalam mulutnya. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Memang beberapa hari ini, dia mudah kelelahan padahal tidak melakukan aktifitas berat. Dia juga sensitif dan ingin makan hal yang aneh-aneh. Aerin tak bisa mencium bau bawang atau nasi, jika kedua benda itu sampai terhirup oleh hidungnya. Maka dia akan muntah-muntah seperti ini.
"Ada apa dengan ku?" gumam nya bersandar di dinding toilet dengan wajah pucat fasih dan keringat dingin.
Aerin terkejut ketika merasakan tangannya ditarik oleh seseorang. Matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang menarik tangannya.
"T-tua-n," ujar Aerin ketika wajahnya membentur dada Alan.
Ya lelaki itu adalah Alan, dia langsung menyusul Aerin saat wanita itu izin ke toilet. Dia panik ketika melihat wajah pucat Aerin. Entah kenapa dia panik? Dia tidak tahu, yang jelas Alan tidak mau terjadi sesuatu pada Aerin.
"Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Alan yang terlihat khawatir. Dia menyeka keringat di kening Aerin.
"Tuan, lepaskan," Aerin memberontak.
"Aku sudah katakan, aku tidak akan melepaskan mu. Sejak malam itu kau sudah menjadi milikku," ucap Alan penuh penekanan.
Aerin menggeleng, "Lupakan malam itu, Tuan. Anda sudah menghancurkan masa depan saya," sahut Aerin menatap Alan penuh kebencian. Ya dia begitu membenci lelaki ini, sebab lelaki ini adalah salah satu penyebab kenapa dia bisa sampai kehilangan sesuatu yang dia jaga dengan susah payah.
Alan malah tersenyum mengejek. Tangannya terulur mengelus wajah cantik Aerin. Baru pertama kali ini, dia bertemu wanita yang tidak terpikat pada pesonanya. Baru pertama kali ini juga dia bertemu wanita keras kepala seperti Aerin. Wanita yang seperti nya begitu sulit untuk ditaklukan. Namun, Alan menang satu langkah karena dia lelaki pertama bagi wanita tersebut.
Aerin menutup hidungnya, lalu mendorong tubuh Alan sehingga tubuh lelaki itu tersandar di dinding.
"Huwek. Huwek. Huwek." Aerin kembali memuntahkan cairan didalam mulutnya. Sejak tadi dia belum makan malam karena terburu-buru saat Agam mengajaknya.
"Kau baik-baik saja?" cecar Alan mengurut tengkuk Aerin.
"Jangan dekat-dekat, Tuan. Kau sangat bau." Aerin menepis tangan Alan di tengkuknya.
Alan mendelik, apa kata wanita ini? Dia bau? Bahkan semua wanita menempel padanya. Kenapa wanita ini malah mengatakan jika dirinya bau? Jelas Alan tidak terima. Dia tidak bau, dia pria wangi yang menyukai kebersihan.
__ADS_1
Bersambung.....