
Alan membawa Aerin ke apartemen miliknya. Ini adalah tempat yang aman untuk Aerin, dia tidak mau ada yang menganggu keamanan yang kenyamanan calon istrinya tersebut.
Terlalu lelah menangis wanita itu terlelap dengan nyaman di bahu Alan. Alan tersenyum simpul tangannya mengelus wajah cantik Aerin. Sejak hamil kecantikan Aerin berlipat-lipat. Hingga membuat Alan tak bisa berpaling dari wanita cantik ini.
"Buka pintu Yoas!" titah Alan.
"Baik, Tuan," sahut Yoas langsung keluar dari mobil.
Alan turun dari mobil dengan menggendong Aerin sangat pelan. Hatinya berdenyut sakit ketika melihat wajah lebam calon istrinya tersebut. Alan berjanji akan membalas semua perbuatan orang-orang yang sudah membuat Aerin menderita seperti ini.
Lelaki itu berjalan pelan seolah takut membangunkan Aerin yang terlelap. Dia tak mau menganggu tidur wanita cantik tersebut.
'Aerin, aku berjanji dengan hidupku. Bahwa aku akan menjagamu dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Aku tak peduli, siapapun lagi. Bagiku, kau adalah segala yang berharga dalam hidupku,' batin Alan.
Alan meletakkan Aerin dengan pelan diatas kasur king size miliknya. Apartemen ini jarang dia kunjungi, kecuali saat dirinya benar-benar lelah jika setelah bertengkar dengan istrinya, Anne.
"Yoas, ambilkan baskom berisi air dan kain!" titah Alan lagi.
"Baik Tuan." Yoas meletakkan koper Aerin di dalam kamar lalu keluar dan melakukan perintah dari lelaki tersebut.
Alan menatap wajah Aerin yang terlelap. Pipi lebam, bekas tamparan berbetuk jari juga menempel di pipi wanita tersebut.
Lagi hati Alan teriris sakit, tanpa permisi air mata lelaki itu menetes. Baru kali ini Alan menangis selama dia dewasa. Rasa sakit yang Aerin rasakan meresap kedalam hati Alan. Dia seperti bisa bayangkan, bagaimana sakitnya berada di posisi wanita ini.
"Ini, Tuan," ucap Yoas memberikan mangkuk berisi air hangat kuku dan handuk kecil.
"Terima kasih, Yoas," sahut Alan.
Yoas hampir tersendak ludah nya sendiri. Selama menjadi asisten Alan baru kali ini lelaki itu mengucapkan kata terima kasih padanya. Biasanya jangankan terima kasih, senyum saja tidak pernah.
Alan mengobati luka Aerin dengan pelan. Lelaki itu tampak hati-hati sekali, takut jika Aerin merasakan sakit nantinya.
Merasa ada yang menyentuh bibirnya. Sontak mata perempuan itu terbuka. Dia langsung disuguhkan dengan wajah tampan Alan yang tersenyum ramah padanya.
"Jangan bergerak," cegah Alan ketika wanita itu hendak terbangun.
Aerin tak menurut, dia menatap wajah Alan yang mengobati lukanya. Sesekali wanita itu meringgis kesakitan.
__ADS_1
Aerin tak menyangka jika lelaki yang sudah mengambil mahkotanya ini ternyata pria yang baik dan peduli padanya. Apakah Aerin harus menerima tawaran Alan untuk menikah? Tapi apakah keputusan nya tepat? Dia tidak bisa menunda lama, karena jujur saja dia membutuhkan seorang suami untuk kehamilan nya kali ini.
"Apakah sudah lebih baik?" tanya Alan lembut.
Aerin mengangguk dan berusaha untuk bangun, segera Alan membantu wanita itu bersanding di dinding ranjang.
"Tuan," panggil Aerin.
"Iya Sayang, ada apa?" tanya Alan lembut.
Aerin mendelik ketika mendengar Alan memanggil nya sayang. Harusnya dia marah tapi kenapa dia malah terlihat senang. Pipi nya bersemu merah.
"Setelah aku merenung dan berpikir sangat keras, aku memutuskan untuk......" ucapan Aerin menggantung sambil menatap wajah tampan Alan.
"Memutuskan untuk apa, Sayang?" tanya Alan tampak tak sabar mendengar kelanjutan dari ucapan Aerin.
"Aku mau menikah dengan mu, Tuan," sahut Aerin.
Alan mendengar tak percaya. Dia bahkan hampir menangis mendengar jawaban dari Aerin.
"Ka-u ya-kin?" tanya Alan mengulang.
Air mata Alan tak mampu dibendung, lelaki itu memeluk erat Aerin sambil menangis haru. Rasanya jantungnya berdebar-debar. Dia seperti baru pertama kali merasakan jatuh cinta, seperti anak remaja yang cinta nya diterima.
"Terima kasih, Aerin. Aku mencintaimu," ucap Alan sungguh-sungguh. Ya Alan sudah jatuh cinta pada Aerin di pertemuan mereka malam ini. Aerin wanita pertama yang mengetarkan hati nya.
Alan melepaskan pelukan nya. Dia mengusap rambut panjang Aerin. Entahlah, kenapa dia bisa begitu mencintai wanita ini? Padahal Aerin tak pernah tebar-tebar pesona.
"Aku berjanji akan menjaga kalian," ujarnya mengecup kening wanita itu dengan sayang.
Aerin memejamkan matanya meresapi ciuman di keningnya. Semoga ini jalan yang terbaik. Dia berharap bisa hidup bahagia bersama Alan.
"Aku mencintaimu, sangat," ucap Alan lagi.
Aerin tak menjawab. Dia belum memiliki perasaan apapun pada lelaki ini selain rasa nyaman dan terlindungi. Baginya lelaki ini seperti tempatnya berpulang. Sejak beberapa hari ini dia tak lepas dari pesona Alan. Bayangan lelaki itu berlari-lari di kepalanya.
"Kau mau makan bubur?" tawar Alan
__ADS_1
"Boleh, Tuan," sahut Aerin. Jujur saja dia lapar. Sejak hamil memang nafsu makan nya bertambah.
"Jangan panggil aku tuan. Aku adalah calon suami mu," protes Alan. Dia tak suka saat Aerin memanggil nya tuan. Dia seperti merasa majikan Aerin saja.
"Lalu aku harus panggil apa?" tanya Aerin tampak bingung.
"Terserah, asal jangan tuan!" seru Alan.
Aerin tampak berpikir wanita itu mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari, seolah sedang berpikir keras.
"Aha," pekik Aerin.
"Sayang, jangan teriak-teriak," tegur Alan sedikit kesal. Dia sampai mengelus telinganya karena terkejut.
"Heh, maaf apakah aku mengejutkan mu?" seru Aerin menampilkan wajah imutnya, apalagi dengan mata yang mengerjab-ngerjab hal itu membuat Alan salah tingkah.
"Hem." Alan hanya berdehem untuk menetralisir kegugupan nya.
"Setelah aku berpikir sangat keras. Maka aku putuskan untuk memanggil mu Hubby saja. Bagaimana apakah kau setuju?" ujar Aerin.
Alan terkekeh pelan. Ini kah sifat asli Aerin yang selalu dia lihat dingin dan judes selama ini? Wanita ini memiliki sisi imut tersendiri
"Iya Sayang. Iya. Aku suka panggilan itu," sahut Alan menarik pipi Aerin dengan gemes nya.
"Hubby, sakit," rintih Aerin memukul pelan lengan Alan yang mencubit pipinya.
Alan tertawa lebar. Lelaki itu suka melihat wajah merah calon istrinya yang salah tingkah.
"Ya sudah, aku buatkan bubur dulu. Kau istirahatlah. Nanti aku bangunkan kalau buburnya sudah matang!" suruh Alan membantu Aerin kembali berbaring.
"Iya Bby," kata Aerin berbaring dengan nyaman.
Alan gemes sendiri mendengar nama panggilan dari Aerin. Dia benar-benar bahagia dan hatinya berbunga-bunga. Nama panggilan yang manis, apalagi itu keluar dari mulut wanita yang dia cintai.
Aerin menatap punggung Alan yang keluar dari kamarnya. Wanita itu tersenyum. Dia yakin untuk menikah dengan Alan. Semoga saja Alan adalah pelabuhan terakhir nya, walau dia belum mencintai lelaki itu. Tapi Aerin yakin, jika suatu saat nanti hatinya akan bisa mencintai Alan dengan sepenuh hatinya.
"Sayang, kita akan bahagia bersama Daddy. Sehat-sehat didalam sana ya, Nak," ucap Aerin.
__ADS_1
Aerin, wanita itu tak tahu jika setelan ini akan ada badai yang menghadang benteng pertahanan nya.
Bersambung........