Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Lelaki yang jatuh cinta


__ADS_3

Agam Robson, pria tampan berusia 39 tahun. Usianya sudah tak muda lagi. Namun, hingga kini dia masih betah dalam kesedihan menikmati hari-hari nya sebagai seorang pengusaha ternama. Dia tak butuh wanita dalam hidupnya. Selama kedua orang tua nya sehat dia akan baik-baik saja.


"Permisi Tuan," ucap Aerin masuk kedalam ruangan


"Silahkan masuk, Rin," balas Agam tersenyum manis.


Wajah Aerin kali ini tampak lebih cantik. Wanita itu sama sekali tak memoles make up diwajahnya. Sejak hamil dia memang tidak suka memakai makeup. Dia lebih suka berpenampilan apa adanya.


"Apa kau sudah sembuh?" tanya Agam. Kemarin Aerin izin tidak masuk karena kurang enak badan.


"Sudah lebih baik, Tuan," jawab Aerin.


Belum ada yang tahu tentang kehamilan nya selain Alan. Aerin memang sengaja tak memberitahu siapapun masalah kandungan nya. Semua orang akan syol jika tahu bahwa dia hamil tapi belum memiliki suami.


"Tuan, ini laporan keuangan yang Anda minta kemarin," ucap Aerin meletakkan berkas di meja Agam


"Terima kasih, Rin," sahut Agam sambil mengambil berkas itu diatas meja.


"Sama-sama, Tuan," balas Aerin.


"Makan siang bersama ya," ajak Agam.


Sebenarnya Aerin mulai terganggu dengan perhatian Agam padanya. Tapi dia tak enak untuk menolak permintaan lelaki itu. Apalagi Agam adalah boss nya. Dia tidak bisa bertingkah seenaknya.


"Iya Tuan," sahut Aerin. "Kalau begitu saya permisi Tuan," pamit Aerin.


Agam mengangguk sambil tersenyum simpul. Sungguh hatinya benar-benar terpikat oleh Aerin. Dia menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan nya pada wanita itu. Dia yakin jika Aerin akan menerima dia. Hanya perlu waktu bagi wanita itu membuka hati untuk nya.


Aerin keluar dari ruangan Agam. Wanita itu tampak kelelahan wajah nya pucat. Memang sejak hamil, dia mudah sekali lelah padahal tak melakukan aktifitas berlebihan.


"Hai Rin," sapa Iren, sahabat Aerin


"Iya Ren, kenapa?" tanya Aerin dengan memasakkan senyum di bibirnya.


"Kenapa wajah mu pucat, Rin?" tanya Iren penasaran. Sebab tak biasanya wajah sahabat nya ini pucat seperti tak memiliki darah.


"Tidak, aku hanya kelelahan," jawab Aerin asal. Ya dia lelah, selain memikirkan kehamilan nya dia juga bingung apakah harus menikah dengan Alan.


"Rin, Tuan Agam tampan yaa?" goda Iren mengedipkan matanya jahil.

__ADS_1


"Ya namanya juga laki-laki, masa iya cantik," celetuk Aerin


Iren merenggut kesal. Aerin memang suka membuatnya kesal.


"Iya aku tahu, maksudku apa kau tidak tertarik sama sekali padanya? Seperti nya Tuan Agam menyukai mu?" tanya Iren. Siapa yang tak tahu betapa suka nya Agam pada Aerin? Perhatian lelaki itu terlalu berlebihan.


"Hem," Aerin berdehem.


Andai saja sekarang dia tak mengandung anak dari Alan. Mungkin saja dia akan membuka hati untuk Agam. Lelaki itu memang baik padanya dan memperlakukan nya seperti seorang kekasih. Namun, Aerin harus menerima kenyataan karena kini dia akan menjadi istri seorang pria seperti Alan.


"Sudah sana kembali ke meja mu, aku mau lanjut bekerja," usir Aerin.


"Cie yang kecantol cinta boss nya," ledek Iren sambil menggoda sahabat nya itu.


"Iren," kesal Aerin.


Iren tertawa lebar. Suka sekali dia menggoda Aerin. Apalagi sejak Aerin putus dari Jo, Iren seolah senang membuat sahabat nya itu salah tingkah.


.


.


.


"Tidak apa-apa, Tuan," sahut wanita hamil itu.


Sebenarnya Aerin benar-benar lelah. Dia ingin rebahan saja. Kehamilan nya membuatnya terlihat lemah sekali. Apalagi rewel dan ingin makan hal-hal yang aneh.


Sampai direstourant kedua orang itu turun dari mobil. Jika bersama Aerin, Agam selalu menyetir sendiri. Dia tidak mau waktu nya terganggu oleh orang lain. Seakan waktunya dengan Aerin adalah waktu paling berharga dalam hidupnya.


Entah bagaimana reaksi lelaki itu saat tahu jika Aerin hamil anak dari pria beristri seperti Alan.


Aerin berjalan pelan. Benar-benar lelah, rasanya dia ingin di gendong. Seandainya saja dia memiliki suami dia pasti bisa bermanja-manja.


"Aerin," Agam menangkap tubuh Aerin saat wanita itu hendak terjatuh. "Kau baik-baik saja?" tanya Agam tampak panik.


Aerin bukan wanita lemah. Namun, beberapa hari ini wanita tersebut terlihat tak bersemangat.


"Saya baik-baik saja, Tuan," kilah Aerin.

__ADS_1


"Ya sudah ayo masuk," ajak Agam.


Agam memapah Aerin masuk kedalam. Tangan Aerin tampak dingin. Tapi wanita ini malah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal terlihat diwajah nya bahwa wanita ini kesakitan.


"Tuan Agam," sapa Alan yang kebetulan sudah menunggu Agam dari tadi.


"Ehh Tuan Alan, apakah sudah lama menunggu?" tanya Agam tak enak.


Namun Alan malah tak menjawab. Tatapannya tertuju pada wajah pucat Aerin. Sejak pertemuan mereka kemarin, dia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita yang sedang menggandung anak nya tersebut.


"Kenapa dengan Nona Aerin?" tanya Alan menahan emosi didadanya. Bukan emosi marah, tapi emosi takut terjadi sesuatu pada Aerin dan anak dalam kandungan wanita itu.


"Tidak. Dia hanya kelelahan," jawab Agam. "Duduk, Rin," ajak pria tampan itu.


"Terima kasih Tuan," sahut Aerin tanpa melihat Alan.


Aerin tak peduli sama sekali dengan Alan yang melihat nya seperti itu. Untung saja sudah tidak seperti awal kehamilan nya yang setiap kali melihat wajah Alan bisa mual-mual.


"Rin, kau pesan apa?" tanya Agam lembut sambil membuka buku menu ditangannya.


"Sama kan saja dengan Anda, Tuan," jawab Aerin.


"Kau mau ini," tunjuk nya.


"Boleh, Tuan," sahut Aerin.


Alan mendengus kesal. Dadanya naik turun menahan cemburu. Harus berapa kali dia memberi peringatan pada Aerin agar tidak dekat pria lain selain dirinya.


"Lan, kenapa kau terlihat marah?" bisik Ruan curiga.


"Tidak," kilah Alan.


Seperti biasa Alan, Ruan dan Agam akan makan siang bersama sekalian membahas bisnis dan beberapa proyek yang sedang berjalan. Para pengusaha muda itu, selalu menebarkan pesona yang membuat kaum hawa terhawa-hawa.


"Apa kabar Nona Aerin?" tanya Ruan tersenyum jahil. Benar-benar cantik wanita ini, bahkan tanpa make up pikir Ruan dalam hati.


"Seperti yang Anda lihat, Tuan," sahut Aerin tersenyum.


Tahukah Aerin senyum semanis itu membuat Ruan salah tingkah. Andai saja Ruan yang terlebih dulu bertemu Aerin, sudah pasti dia yang akan mendapatkan Aerin. Begitu juga dengan Agam yang diam-diam memerhatikan wajah cantik Aerin. Sedangkan Alan mengepalkan tangannya kuat. Ingin sekali dia membawa wanita itu kabur dari sini. Dia tak sudi wajah cantik Aerin di nikmati oleh banyak pria. Cukup saja yang menatak wanita ini dengan kagum, tak boleh ada orang lain.

__ADS_1


Pesanan mereka datang. Keempatnya tampak makan dengan lahap terutama Aerin. Alan dan Ruan benar-benar terkejut melihat porsi makan Aerin yang tak seperti biasa. Berbeda dengan Alan yang memang sudah tahu kandungan Aerin.


Bersambung.......


__ADS_2