Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
4 Ar


__ADS_3

Disebuah ruangan rumah sakit, tampak seorang wanita mengerjap-ngerjapkan matanya. Alat-alat medis lainnya sudah dilepaskan dari tubuh. Sebab kondisinya berangsur membaik, dia hanya belum sadarkan diri entah karena pengaruh obat bius atau dia memang betah tidur seperti itu.


"Nona," panggil seorang laki-laki yang dari tadi menunggu didalam ruangan tersebut.


Matanya perlahan terbuka lebar. Wanita itu menatap langit-langit kamar yang benar-benar teras asing.


"Nona," panggil Yoas sekali lagi dengan mata berkaca-kaca dan tak menyangka jika akhirnya wanita ini terbangun dari tidur panjangnya.


"Nona," panggil Yoel juga.


Kedua lelaki yang berstatus sebagai asisten dari suaminya tersebut tampak terharu karena Nona Muda mereka kini terbangun dari tidur panjangnya.


Aerin menatap kedua asisten nya, seperti nya kesadaran wanita itu belum benar-benar pulih. Segera Yoas bergegas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nona Muda-nya.


"Nona, ini saya Yoas," ucap Yoas.


Aerin masih terdiam, dia menatap Yoas dengan bingung dan penuh selidik. Terlalu lama tidur membuat dirinya seperti lupa ingatan.


"K-kak," lirih Aerin. Suara nya belum tembus.


"Iya Nona, ini saya," sahut Yoas.


"Di-di ma-na anakku?" tanya Aerin terbata.


"Ada Nona," sahut Yoas.


Yoas membantu Aerin bersandar di sandaran ranjang tidurnya. Yoas dan Yoel memilih ruangan VVIP agar kenyamanan Aerin terjaga. Sebab keberadaan mereka belum aman, Yaos takut jika Christoper dan Alta kembali mencari Aerin lalu mencelakai wanita tersebut. Mereka tak mau terjadi sesuatu pada Aerin.


Yoel mendorong empat box tempat anak-anak Aerin. Lalu mengangkat keempat anak itu secara bergantian diatas ranjang.


"Ini bagi-bagi Anda, Nona," ucap Yoel.


Yoas menggendong bayi lelaki Aerin yang paling tua. Tampak bayi munggil nan menggemaskan itu tertidur pulas dan lelap. Anak-anak yang baru berusia sekitar Minggu tersebut, tidak rewel seperti bayi pada umumnya.


"An-anak ku K-kak?" Mata Aerin berkaca-kaca sambil mengambil bayi perempuan nya dari gendongan Yoel.

__ADS_1


"Iya Nona. Bayi Anda kembar empat, tiga laki-laki dan satu perempuan," jelas Yoas.


Tanpa sadar matanya basah dan keluar butiran bening tanpa warna. Aerin terharu dan tak menyangka jika dia di anugerahi empat bayi kembar sekaligus.


"Hai Nak, selamat datang ya. Terima kasih sudah bertahan bersama Mommy. Maafkan Mommy, kalian harus lahir tanpa Daddy," ucap Aerin lirih. Nada suara sendu terdengar menyayat hati.


Aerin memeluk bayi perempuan nya sambil menangis. Dia baru terbangun dari tidur panjang. Perjalanan panjang itu telah membawa nya kembali kedunia nyata.


"Sini Kak, letakkan saja disampingku," pinta Aerin.


Yoas meletakkan bayi sulung Aerin disamping wanita itu. Lagi dan lagi matanya membasah karena bahagia. Tak apa dia hidup sendirian didunia ini, selama keempat bayi itu bersama nya maka dunia Aerin akan baik-baik saja.


"Apakah Anda sudah siapkan nama untuk mereka, Nona?" tanya Yoas sambil duduk dikursi samping ranjang Aerin.


"Aku belum menemukan nama untuk mereka, Kak," jawab Aerin. "Tetapi aku sudah memiliki nama panggilan untuk mereka," sambungnya.


Yoel juga tersenyum simpul. Perjuangan Aerin tidak lah mudah. Hamil tanpa suami, tentu hal tersebut sangat menguras tenaga dan juga emosi.


"Arshaka Arkin."


"Archana Arkin."


"Arshena Nadine."


Aerin membacakan satu persatu nama anak-anak nya. Nama-nama itu tidak dia persiapkan. Tetapi nama itu langsung timbul begitu saja di kepalanya.


"Nama yang bagus Nona," sahut Yoel.


"Kak Yoas, Kak Yoel. Terima kasih ya sudah menemani ku. Kalau tidak ada kalian, aku tidak tahu akan seperti apa hidupku," ucap Aerin dengan mata berkaca-kaca menatap kedua pria tersebut.


"Sama-sama Nona. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami. Jadi Nona tidak perlu berterima kasih," jawab Yoas.


Yoas tulus menyanyangi Aerin dan menganggap wanita muda itu sebagai adik kandung nya sendiri.


"Iya Nona, Anda sudah seperti saudara kami sendiri," sambung Yoel.

__ADS_1


Aerin mengangguk. Luka yang tertanam didalam dirinya seperti mendarah daging. Sejak kecil orang tua berpisah, di masa remaja dia harus hidup bersama ibu tiri. Lalu dia dijebak oleh mantan kekasihnya. Kenyataannya dia tidur bersama pria yang sudah memiliki istri. Mereka menikah, Aerin pikir inilah puncak kebahagiaan nya. Namun, siapa sangka jalan itu justru membawanya pada petaka. Tetapi Aerin tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi karena dengan itu dia menemukan permata berharga dalam hidupnya.


"Nona, kata dokter kondisi Nona sudah membaik. Mungkin besok sudah boleh pulang," ucap Yoas.


"Iya Kak, Kak tolong jangan panggil aku Nona lagi. Aku sekarang adik kalian, panggil nama saja. Anak-anak juga akan memanggil kalian Papa dan Ayah," ucap Aerin tersenyum hangat.


Yoas dan Yoel saling melihat, sejujurnya canggung. Bagaimanapun, Aerin adalah wanita cantik dan kedua nya pria normal. Yoas dan Yoel takut terbawa perasaan dan malah menyiksa diri sendiri.


"Tapi Non_"


"Ayolah Kak, aku ini adik kalian. Aku tidak suka dipanggil Nona," potong Aerin.


Yoas menghela nafas panjang. Aerin memang keras kepala dan keinginan nya harus dituruti. Jadi Yoas memilih mengalah. Memang tidak ada salah nya, apalagi dia tidak memiliki saudara perempuan.


"Baiklah," ucap Yoas.


"Ya sudah, berikan ASI pada anak-anak mu. Kami akan menunggu diluar," ucap Yoel berdiri.


Aerin mengangguk, dia tersenyum senang karena kedua pria ini sangat menghargai dirinya sebagai seorang wanita.


Aerin menyusui keempat anaknya secara bergantian. Lagi-lagi matanya basah dan terharu karena melahirkan bayi kembar empat. Jika setelah perpisahan nya dengan Alan, Aerin merasa tak ingin hidup. Tetapi sekarang, dia merasa beruntung karena satu kesempatan luar biasa Tuhan berikan padanya.


"Sayang, Mommy bahagia kalian hadir didalam kehidupan Mommy. Semoga kelak, kalian tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa. Anak-anak yang mengangkat derajat Mommy," ucap Aerin dengan lelehan bening yang menetes di matanya.


"Hai, Shena. Satu-satunya perempuan dan anak Mommy. Kau akan jadi cahaya untuk ketiga Kakak mu, Nak. Mommy berharap nasib mu takkan sama seperti Mommy. Maaf Mommy tidak bisa menceritakan siapa Daddy kalian. Mommy tidak mau kalian terluka ketika tahu bahwa Mommy adalah pelakor," ungkap Aerin.


Aerin kembali terpukul ketika mengingat kenyataan yang sebenarnya. Dia tidak pernah tahu siapa Alan sebenarnya? Dia tidak tahu jika pria itu telah memiliki istri. Andai saja Aerin tahu, siapa Alan dia pasti lebih memilih membesarkan kandungan nya seorang diri tanpa menerima tawaran lelaki itu untuk menikah.


Jika boleh jujur, perasaan Aerin pada Alan tak main-main. Dia benar-benar mencintai lelaki tersebut sepenuh jiwa dan raganya. Aerin berharap kebahagiaan menjadi miliknya. Lagi dan lagi, kenyataan itu mematahkan hati nya. Meremukkan seluruh raganya dan menghancurkan semua impian yang dia bangun dengan susah payah.


Bersambung...


Mampir ke karya baru author.....


Menikahi brondong

__ADS_1


Love is Hurt (Poligami Pernikahan).


__ADS_2