
"Apa kalian ingin bertemu Daddy?" tanya Agam sambil berjongkok menatap ketiga bocah tampan itu.
Ketiganya mengangguk kompak. Memang tujuan mereka datang ke Indonesia adalah bertemu dengan Alan dan ingin melepaskan lelaki yang menjadi ayah mereka itu dari cengkraman Christoper dan keluarganya.
"Kami sangat ingin bertemu Daddy," sahut Zanka dengan sumringah dan bahagianya. Dia yang paling merindukan sosok sang ayah.
"Kalian ikut Uncle yaa," ajak Agam.
"Iya Uncle," sahut ketiganya kompak.
Agam dan Yoas membawa ketiga bocah itu masuk ke dalam mobil. Sementara Yoel mengurus keperluan yang lain bersama Robson. Ratih pulang duluan ke kediamannya, kondisi wanita paruh baya itu belum benar-benar pulih.
"Kenapa kau diam saja, Son?" tanya Agam melirik Shaka.
"Apa Tuan Christoper bersama Daddy sekarang?" tanya Shaka balik tanpa menjawab pertanyaan paman-nya tersebut.
"Tidak, Son. Sekarang Daddy tinggal bersama Kakek dan Nenek kalian," jawab Agam mengusap kepala Shaka.
Shaka mengangguk paham, lalu dia kembali fokus menatap ke depan. Bayangannya terus tertuju pada sang ayah. Dia membayangkan wajah rapuh ayahnya, apalagi mendengar cerita itu dari Yoas.
"Yoas, apa Aerin dan Shena baik-baik saja di sana?" tanya Agam melirik Yoas yang fokus menyetir.
"Saya sudah mengurus beberapa pengawal untuk menjaga Nona Muda dan Nona Kecil, Tuan," jawab Yoas.
Agam mengangguk. Sebenarnya dia tak sabar ingin bertemu Aerin. Apalagi sudah lama sekali dia tidak mendengar kabar dari adik sambungnya tersebut. Terakhir dia bertemu Aerin, ketika di pesta dan sempat mengakui wanita itu sebagai kekasihnya.
"Ayah, apakah Daddy punya mobil mewah seperti Uncle Agam?" tanya Chana. Lelaki kecil ini sepertinya memiliki bakat di bidang otomotif, dia suka sekali mengoleksi mobil-mobilan lalu dia rakit.
"Tentu saja, Son. Daddy lebih kaya," sahut Yoas terkekeh pelan.
Agam juga tersenyum, lelaki itu masih tak percaya jika sekarang dirinya sedang bertemu dengan anak-anak Aerin. Dia pikir dulu takkan pernah bertemu dengan Aerin ataupun anak-anaknya. Dia sudah putus asa mencari keberadaan wanita itu. Namun, siapa sangka jika sang ayah selama ini mengetahui dan bahkan menemukan keberadaan wanita yang dia cintai dan adiknya tersebut. Agam bernafas lega, tetapi dia takut jika Anne menemukan Aerin lebih dulu, dia tak bisa bayangkan apa yang akan dilakukan wanita itu pada adiknya?
Mobil Yoas memasuki pekarangan rumah besar, dua orang pengawal membuka pintu gerbang agar mobil yang di kendarai oleh Yoas bisa masuk ke dalam sana. Sepertinya Agam sudah memberitahu Alan bahwa dia akan datang ke rumah ini.
__ADS_1
"Uncle, apa ini rumah Daddy?" tanya Chana lagi.
"Iya, Son. Ini rumah Daddy," sahut Agam sambil keluar dari mobil.
"Wah, besar sekali, Uncle!" puji Zanka berdecak kagum melihat rumah mewah berlantai tersebut. Seperti rumah di film-film Hollywood yang dia tonton.
"Selamat datang Tuan Muda," sapa dua orang pengawal.
"Terima kasih Paman, apa Alan ada?" tanya Agam.
"Ada di dalam Tuan, silakan masuk," ucap salah satunya.
Beberapa tahun terakhir Alan memang memutuskan tinggal bersama kedua orang tua nya. Anne yang tak mau jauh dari suaminya pun mengikuti lelaki itu tanpa peduli pada penolakan Alan yang seperti tak menanggapnya ada.
"Ayo, Son," ajak Agam.
Agam menggandeng tangan Zanka dan Chana. Sedangkan Yoas menggandeng tangan Shaka. Ketiga pria kecil itu tampak gugup saat ingin bertemu ayah kandung mereka. Jujur saja sebagai anak-anak normal yang butuh kasih sayang seorang ayah, mereka benar-benar rindu sosok yang tak pernah mereka lihat sejak kecil. Walau ada ayah lain yang sanggup memberi mereka bahagia tetapi tetap saja berbeda dengan kasih sayang seorang ayah kandung.
Tampak Arkin duduk di kursi roda dan suapi oleh sang istri dengan pelan. Sementara di dekat kolam berenang terlihat Alan berdiri dengan tatapan kosong sambil melihat ke depan dengan kedua tangan yang berdiam nyaman di saku celananya
"Daddy."
Alan yang tadinya sedang melamunkan istrinya sontak menoleh. Begitu juga dengan Arkin dan Bella yang sedang duduk di ruang tamu.
"Daddy," panggil ketiganya sekali lagi.
Alan mematung ditempatnya. Dia menatap ketiga bocah itu dengan penuh selidik. Kenapa dia bisa melihat wajah kecilnya di antara ketiga bocah tersebut.
"Daddy," panggil Shaka.
Ketiganya berjalan kearah Alan yang berada tidak jauh dari kolam berenang. Ruangan tamu dan kolam renang transparan sehingga bisa saling melihat dari jarak jauh.
Alan masih mematung ditempatnya, apalagi ketiga anak itu memanggilnya Daddy, hatinya seketika menghangat dan nyaman.
__ADS_1
"Daddy."
Shaka, Zanka dan Chana berhambur memeluk kaki Alan. Tubuh Alan menjulang tinggi keatas. Lelaki itu tampak kurus tak terurus, apalagi bagian rahangnya di tumbuhi brewok yang terlihat tebal.
"Hiks hiks, Daddy ini kami, putramu," ucap Shaka sambil menangis segugukan.
"Kami merindukanmu, Dad," sambung Zanka dan Chana.
Arkin dan Bella juga terdiam seolah tak percaya. Tanpa di jelaskan pun, mereka sudah tahu jika ketiga bocah itu anak dari putra tunggalnya. Apalagi wajah mereka yang begitu mirip Alan kecil.
Air mata Bella luruh, padahal belum juga di jelaskan siapa ketiga bocah kembar dan tampan itu. Selama ini hidup mereka bertiga di kurung dalam kekuasaan Christoper dan Alta serta Anne.
Arkin yang duduk di kursi roda tanpa bisa berkata apa-apa hanya merespon dengan gerakan matanya. Dia lumpuh total akibat kekejaman Christoper.
Agam dan Yoas mendekat kearah Alan dan si kembar.
"Tuan, mereka adalah anak-anak Anda," jelas Yoas.
Alan melihat Yoas dengan mata berkaca-kaca. Yoas adalah asisten pribadinya, dia sudah menganggap lelaki itu seperti saudaranya sendiri. Saat Yoas pergi bersama Aerin, Alan juga merasa kehilangan sosok tersebut.
"Iya Tuan Alan, mereka datang kesini untuk bertemu Anda," sambung Agam ikut menjelaskan.
Alan langsung tersungkur di lantai, semua tubuhnya terasa lemah. Benarkah? Apakah dia sedang bermimpi? Lima tahun mencari keberadaan anak dan istrinya, dia sempat gila dan depresi berat dan bahan jiwanya di guncang. Apalagi Anne terus mengekangnya dan menuntut lelaki itu untuk mencintainya. Alan tak percaya jika yang sekarang ada di depannya adalah anak-anaknya.
"Mereka kembar empat, Tuan. Nona Kecil masih bersama Nona Aerin di Sidney," jelas Yoas lagi.
Air mata Alan menganak di pelupuk matanya dan tanpa sadar dan permisi menetes dengan deras membasahi pipi tampannya.
"Daddy."
Ketiganya berhambur memeluk Alan yang berjongkok di lantai sambil menangis. Rindu teramat rindu, bohong jika seorang anak mengatakan tidak pernah rindu ayah kandungnya. Walau mungkin kehadiran mereka tak diinginkan, rasa rindu itu akan tetap menyeruak masuk ke dalam dada.
Bersambung....
__ADS_1