Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Melepaskan kerinduan


__ADS_3

Alan menatap ketiga anak kembar tersebut. Jantungnya berdebar-debar, tatapannya dalam. Entah apa yang ada dipikiran pria tampan tetapi hampir depresi dan gila itu?


"K-ka-lian an-anak-an-akku?" tanya Alan dengan suara yang hampir tak tembus dan gagap.


"Iya Daddy, ini kami," sahut Shaka.


"Hiks hiks."


Akhirnya tangis Alan pecah. Segera ketiga anak kembar itu memeluk sang ayah melepaskan semua kerinduan yang menggembang di dalam dadanya.


"Daddy."


Keempat pria itu saling memeluk satu sama lain sambil bertangis-tangsian. Alan masih tak percaya jika sekarang dia dipertemukan dengan anak-anaknya dan tadi Yoas menjelaskan kalau istrinya melahirkan empat anak sekaligus.


Arkin dan Bella juga ikut terharu dengan lelehan bening yang menetes di pelupuk mata mereka. Terharu, karena penantian Alan yang tidak mudah. Bahkan putra mereka itu sempat depresi dan gila karena kehilangan tersebut.


"Maafkan Daddy, Son. Maafkan Daddy."


Alan memeluk ketiga anaknya dengan erat. Perasaan bersalah kian menyeruak masuk ke dalam dada. Dia pikir, takkan ada kesempatan untuk bertemu dengan darah dagingnya sendiri. Apalagi melihat tatapan kecewa sang istri saat mereka terpisah menjadi luka tersendiri bagi Alan.


"Apakah benar ini kalian, Son?" tanya Alan melepaskan pelukan ketiga anaknya lalu menatap anak-anak itu dengan perasaan berkecambuk antara bahagia dan sedih.


"Iya Daddy, ini kami. Kami merindukanmu, Dad. Kami datang kesini untuk mencari dan menemuimu," ucap Shaka menjelaskan.


Alan mengangguk dan tak mampu menahan tangisnya. Dia peluk ketiga anak itu sepuas hatinya. Beginikah rasanya menjadi seorang ayah? Setelah penantian lama dan panjang yang tentunya tidak mudah, apalagi di sertai dengan pengorbanan dan air mata.


"Daddy, merindukan kalian, Nak," ucapnya.


Alan sudah pesimis takkan bertemu dengan anak-anaknya. Namun, siapa yang menyangka jika ketiga anak itu justru datang dan mencarinya.


"Kami juga merindukan, Daddy. Kami sangat menyayangi Daddy," ucap Chana.


Tak ada dendam atau amarah di hati ketiga anak itu saat menyadari jika mereka lahir tanpa seorang ayah. Awalnya anak-anak itu sempat berpikir jika mereka adalah anak terbuang. Tetapi ketika mendengar penjelasan dari sang ibu dan kedua ayah angkatnya membuat ketiganya memahami dan memutuskan menjadi keberadaan sang ayah kandung.

__ADS_1


"Kalian sudah besar, Nak," ucap Alan mengusap kepala ketiganya anaknya secara bergantian.


Hatinya kembali berdenyut sakit ketika belum bisa menyuguhkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia bahkan tak bisa menemani sang istri saat melahirkan. Andai Alan lebih berani saat itu, pasti dia dan Aerin takkan terpisah oleh ruang dan waktu seperti ini.


Alan menyeka pipi basah Shaka, Zanka dan Chana. Duplikat kecilnya benar-benar melekat di wajah ketiga anaknya.


"Kalian benar-benar mirip, Daddy," ucap Alan terkekeh pelan tetapi air mata menetes.


Siapa sangka kejadian satu malam tersebut telah melahirkan benih-benih menggemaskan yang ada di depannya ini. Perjalanan yang tak mudah bagi Alan untuk menyakinkan Aerin agar mau menikah dengannya, dia harus mengerahkan segala jurus agar perempuan itu menerima dirinya. Tak hanya itu dia harus menjadi aktor di dalam rumah tangganya sendiri dan membohongi sang istri tentang di identitasnya yang sudah memiliki istri, semua Alan jalani penuh perjuangan.


Hingga kekejaman Christoper dan Alta menghancurkan semua impian yang dia tata dengan susah payah. Saat yang bersamaan istrinya sedang hamil besar, Alan tak bisa bayangkan penderitaan Aerin saat itu. Seharusnya sebagai seorang suami dia melindungi dan menjaga istrinya tetapi dia sendiri lengah dan akhirnya tersesat di tengah gelapnya dunia.


"Son," panggil Bella.


Ke-empat orang itu menoleh kearah Bella yang berjalan menghampiri mereka.


"Son, itu adalah Nenek kalian, dia ibu-nya Daddy," jelas Alan.


"Nenek."


"Cucuku," ucap Bella.


"Nenek."


Sementara Arkin yang duduk di kursi roda tanpa bisa bergerak hanya bisa meneteskan air mata hatinya. Andai dia bisa berjalan, sudah pasti dia akan berlari memeluk ketiga cucunya itu. Namun, apalah daya jangankan untuk berjalan, bergerak dan dia tidak bisa dan hanya bisa duduk di kursi roda dengan tatapan hampa dan juga kosong.


Agam dan Yoas ikut terharu sambil menatap si kembar yang memeluk Bella dengan senyuman hangat. Kedua pria dewasa tersebut turut merasakan kebahagiaan seperti yang Alan rasakan.


.


.


"Sayang," panggil Ema masuk ke dalam ruangan kerja Christoper.

__ADS_1


Lelaki paruh baya yang masih tampan itu hanya mengangkat pandangan sekilas lalu fokus dengan sebuah figura yang ada di tangannya.


"Apa kau sudah makan siang?" tanya Ema lembut. Walau suaminya ini tak pernah bersikap lembut padanya tetapi dia tidak menyerah untuk menyakinkan suaminya tersebut bahwa perasaannya benar-benar ada dan tulus.


"Di mana, Anne?" tanya Christoper tanpa basa-basi.


"Tentu saja bersama suaminya," sahut Ema sambil meletakkan rantang nasinya di atas meja lalu mendekati sang suami.


"Kau yakin?" Christoper menatap istrinya penuh selidik. Entah kenapa lelaki paruh baya itu takut jika Anne menyusul Aerin ke Sidney?


"Iya, karena Anne mengatakannya," jawab Ema.


Ema mendekati suaminya. Mata wanita itu langsung memerah ketiga melihat foto yang di pegang oleh Christoper.


"Kau masih memikirkan perempuan itu?!" hardik Ema penuh amarah.


"Kenapa?" Christoper tersenyum mengejek. "Dia perempuan yang aku cintai, sampai kapanpun aku tidak akan berhenti mencarinya," sahut Christoper menatap istrinya tajam.


"Lalu kau anggap aku apa selama ini, Christoper?" tanya Ema berlinang air mata. Hati istri mana yang takkan sakit ketika suaminya masih mengenang perempuan di masa lalu.


"Kau hanya pajangan," jawab Christoper enteng. "Kau tahu? Sejak awal aku dan Alta tidak pernah menerimamu menjadi bagian dari hidup kami. Kau dan Anne yang bersikukuh mengemis agar kami menerima kalian, setelah kalian singkirkan istri dan anakku," ucap lelaki itu lagi dengan tatapan dingin dan juga tajam. Bagaimanapun kejadian perpisahan yang menyakitkan itu takkan pernah bisa dia lupakan.


Ema menyeka air matanya. Niat hati datang kesini untuk memperbaiki hubungan mereka tetapi dia malah di kejutkan dnsgan kenyataan tersebut. Wanita paruh baya itu merampas tasnya lalu melenggang keluar dan pergi dari ruangan Christoper.


Christoper memejamkan matanya menahan sesak yang menghempaskan dadanya.


"Ratih," gumamnya. "Kau di mana? Apa kabarmu?" lirihnya lagi.


Di balik wajah tegas dan kejamnya, dia menyimpan luka yang dalam. Tak ada yang tahu seberapa besar luka yang tertanam di hati Christoper. Semua orang menganggap dia kejam karena selalu tak memiliki perasaan dan perikemanusiaan bagi siapa saja yang bermasalah dengannya.


"Aku ingin bertemu denganmu dan Baby A, berikan aku satu kesempatan untuk menebus kesalahanku."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2