
Jasmine merenggut kesal karena dari tadi mereka hanya mutar-mutar sekitar kota Sidney.
"Lisa, sebenarnya apartemen Jo di mana?" tanya Jasmine yang mulai jenggah, mereka berada di dalam taksi ini sudah berjam-jam hanya untuk mencari apartemen lelaki tersebut.
"Ck, jangan menggerutu terus, Bu. Aku juga tidak tahu," protes Lisa yang sibuk dengan ponselnya.
"Bagaimana kau bisa tahu? Dari tadi sibuk dengan ponselmu!" sindir Jasmine memutar bola matanya malas.
"Aku sedang menghubungi Jo," sahut Lisa membela diri.
Lisa merasa aneh sejak kemarin Jo dan Anne tidak memberi kabar padahal dua orang itu yang meminta mereka untuk datang ke Sidney.
"Aneh, tidak biasanya Jo dan Nona Anne hilang kabar," desah Lisa sambil menyimpan kembali ponselnya.
"Lalu kita bagaimana, Lisa? Tidak mungkin kita bertahan di negara ini tanpa uang. Uang Ibu sudah habis," ucap Jasmine menghembuskan nafasnya kasar.
"Ck, makanya Ibu jangan boros. Baru juga sampai di sini Ibu sudah belanja yang aneh-aneh," omel Lisa.
"Iya habisnya Ibu 'kan baru pertama kali ke Sidney," sahut Jasmine membela diri sambil mengangkat tas yang baru dia beli tadi. Uangnya di habiskan membeli tas, sepatu dan pakaian-pakaian mahal. Karena dia berpikir bahwa Jo dan Anne akan memberikan uang yang banyak padanya.
Chit......
Tiba-tiba mobil taksi yang mereka tumpangi mendadak berhenti.
"Paman, kenapa?" tanya Lisa.
"Maaf Nona, ada dua mobil hitam di depan," lapor sang supir.
"Siapa?" Lisa menatap kedua mobil itu.
"Tidak tahu, Nona. Saya lihat dulu," ucap sang supir sambil keluar dari mobil.
Sementara Jasmine sibuk menatap barang-barang belanjaannya. Wanita paruh baya itu seperti tak sabar untuk memakainya. Andai saja sudah sampai di apartemen Jo, sudah pasti dia akan mencoba satu persatu baju yang dia beli.
Tok tok tok
__ADS_1
Lisa keluar dari mobil saat ada yang mengetuk kaca mobil.
"Maaf Anda siapa?" tanya Lisa menyelidik.
"Mari ikut kami, Nona." Salah satunya langsung menarik tangan Lisa.
"Heh, jangan pegang-pegang, kalian siapa?" sentak Lisa berusaha memberontak saat salah satunya menarik tangan wanita itu dengan kasar.
Jasmine juga di tarik paksa keluar dari mobil oleh anak buah yang lainnya.
"Lepaskan saya. Kalian siapa?!" Jasmine menepis tangan kedua pria tersebut, tetapi tidak berhasil.
"Ikut saja, Nyonya. Jangan banyak bertanya," sanggah salah satunya.
Sementara supir taksi itu langsung pergi dan membawa mobilnya karena yang di incar bukan dirinya.
"Lisa, Ibu takut," adu Jasmine.
"Memangnya Ibu pikir aku tidak takut?" cetus Lisa.
.
.
Rollies, pria yang kini hanya terduduk di kursi roda dengan tubuh yang tak bisa bergerak, serta mulut yang sudah tak tentu arah.
Lelaki itu menangis dalam kesendirian penyesalannya.
'Aerin, maafkan Ayah. Kau di mana, Nak? Ayah merindukanmu,' batin Rollies.
Aerin bukan anak kandungnya dan bahkan tak memiliki hubungan darah dengan dia. Tetapi dia menyanyangi anak tirinya itu dengan tulus. Hanya saja sayang dirinya mudah terpengaruh oleh Jasmine dan Lisa.
'Seandainya Ayah tak mengusir mu hari itu. Pasti kita masih bisa bersama saat ini,' ucapnya lagi dalam hati dengan air mata yang luruh membasahi pipi tuanya.
Aerin adalah putri satu-satunya Rollies. Dia di nyatakan mandul dan tak bisa memiliki keturunan, oleh sebab itulah dia sangat menyayangi Aerin. Namun, semua berubah ketika Ratih mendua dan dia mengusir istrinya itu dari rumah serta menggugat cerai tanpa sebab dan alasan.
__ADS_1
'Ratih, maafkan aku. Seharusnya aku mendengar penjelasanmu. Bukan malah mengusir mu,' ucapnya lagi dalam hati.
Rollies baru mengetahui kebenarannya setelah mendengar pengakuan Jasmine dan Lisa. Namun, ketika dia hendak membawa kedua wanita itu ke dalam penjara, dia terjatuh di lantai hingga mengalami stroke. Entah, obat apa yang sudah di masukkan Jasmine ke dalam makanan dan minumannya sehingga membuat beberapa partikel dalam tubuhnya mengalami kelumpuhan.
'Kau di mana, Ratih? Maaf, aku telah kehilanganmu dan Baby A. Aku ingin bertemu kalian dan meminta maaf.'
Lelaki itu hanya bisa bertelempati dalam hati karena mulut kaku untuk berbicara dan mengeluarkan kata. Air mata yang luruh bebas hingga berjatuhan di bagian tubuhnya adalah tanda bahwa dia terluka. Penyesalan telah membawa Rollies pada kenyataan hidup yang pahit. Sekarang, istri dan anak tirinya entah kemana? Sejak penandatanganan surat warisan tersebut, Jasmine dan Lisa tak pernah lagi mengurusnya. Bahkan dia sempat ingin di bawa ke panti jompo.
"Selamat siang, Tuan. Waktunya Anda makan siang," ucap seorang wanita paruh baya yang merawat Rollies dengan sabar.
Rollies merespon lewat gerakkan mata. Sebab tubuhnya yang lain benar-benar takut termasuk mulut dan tangan serta kaki.
Wanita paruh baya itu menatap Rollies dengan perasaan yang turut prihatin atas apa yang di alami oleh tuan-nya tersebut. Dia bekerja di rumah besar itu sejak sebelum Rollies menikah dengan Ratih dan dia juga yang merawat Aerin dari kecil hingga dewasa.
"Tuan, Anda yang sabar ya! Saya yakin suatu saat nanti Anda akan sembuh dan menemukan kebahagiaan," jelas wanita itu.
Rollies tersenyum miris, apa yang bisa membuatnya sembuh? Bahkan dia tidak melakukan pengobatan apapun selain obat penahan rasa sakit. Dia tidak berharap sembuh, diakhir hidupnya Rollies hanya ingin bertemu Ratih dan Aerin untuk mengucapkan kata maaf.
'Aku tak berharap banyak. Aku hanya ingin bertemu Ratih dan Aerin. Aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku. Aku menyesal.'
Bik Inem mengusap bahu Rollies. Wanita bersanggul tersebut merasakan kesedihan yang menyelimuti hati tuan-nya. Apalagi dia bekerja sudah lebih dari 30 tahun di rumah tersebut, baginya Rollies tak hanya sebatas majikan tetapi juga saudara dan keluarga.
.
.
Di bangku taman, tampak dua orang lelaki tengah duduk menatap empat orang anak dan satu wanita paruh baya yang tengah bermain kejar-kejaran.
"Ayah baik-baik saja?" Agam melirik sang ayah yang tampak melamun.
"Ayah takut Bunda kembali pada Chris," jawab Robson. Bagaimanapun perasaan cemas itu masih ada walau dia tahu jika sang istri sangat mencintainya.
"Ayah, jangan takut. Aku yakin Bunda akan tetap bersama Ayah. Bunda sangat mencintai Ayah jadi dia tidak mungkin memilih laki-laki yang sudah berpisah dengannya sekian lama," jelas Agam menenangkan hati sang ayah. Walau dia tahu berada di posisi ayahnya adalah hal yang berat. Ketakutan dan kekhawatiran kehilangan itu pasti ada.
Robson menatap putranya dan mengangguk. Dia hanya tidak mau kehilangan kedua kali. Kehadiran Ratih dalam hidupnya cukup mampu mengobati luka yang selama ini tergores di hatinya. Jiwa wanita itu pergi, Robson tidak akan bisa hidup normal seperti sekarang.
__ADS_1
Bersambung......