Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Season 2. Part 06.


__ADS_3

"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Agam melirik saudara tirinya itu.


"Ada penyusup masuk ke dalam perusahaan dan aku rugi banyak," sahut Alta lemas.


"Kenapa bisa?" tanya Agam tampak terkejut. "Apa kau sudah memasang sistem keamanan?" sambungnya lagi.


"Sudah. Tetapi aku tetap rugi." Alta mendesah pelan.


Kedua lelaki itu menikmati makan siang mereka sambil di selingi dengan obrolan hangat. Tak jarang Alta datang ke rumah Agam bertemu dengan sang ibu walau hanya makan siang. Sang ayah tak pernah melarang anak-anaknya bertemu dengan ibu kandung mereka dan malah dia mendukung terjalinnya hubungan hangat tersebut.


"Apa kau pernah berpikir untuk menikah?" tanya Alta di tengah-tengah makan mereka berdua.


Agam mendelik ketiga mendengar pertanyaan adik tirinya itu. Usia mereka hanya berbeda 1 tahun saja. Jadi Agam dan Alta sama-sama pria dewasa yang belum mengakhiri masa lajangnya.


"Ayah dan Bunda memintaku menikah tetapi aku belum menemukan wanita yang tepat," jawab Agam dengan nafas beratnya. Mereka berdua sama-sama di tanya dengan pertanyaan yang sama.


"Kenapa kau tidak mencari saja?" tanya Alta lagi.


Agam menggeleng. Nama kekasihnya yang telah pergi untuk selamanya itu masih mendiami relung hatinya dengan nyaman. Bagaimana bisa dia menemukan orang baru yang sama sekali tidak akan bisa menggantikan posisi orang di masa lalunya.


"Belum dapat yang tepat."


.


.


Di meja yang tidak jauh dari Alta dan Agam tampak Anaya dan Amora sedang makan dengan lahap. Ternyata kedua gadis itu saling mengenal sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


"Jadi kau kabur?" tanya Amora.


"Iya dan aku bertengkar dengan Daddy. Dia memintaku keluar dari rumah mencari uang sendiri," jelas Anaya dengan wajah kesalnya.


Amora tergelak, "Makanya jangan boros, An. Sekarang kau sudah merasakan bagaimana rasanya mencari uang?" celetuk gadis itu sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Ehh, apa bossmu baik? Aku rasa bossmu jauh lebih baik dari bossku." Amora memasukan makanan itu ke dalam mulutnya dengan wajah kesal sambil melirik kearah Agam dan Alta yang tengah asyik berbicara. Entah apa yang di bahas oleh kedua lelaki tampan tersebut.


"Dih, baik dari mana. Kau tahu pertama aku masuk dia memintaku mengerjakan setumpukkan berkas. Untuk aku pintar, coba kalau bebal seperti mu pasti aku di hukum," sindir Anaya.


"Huh, jangan lupa An. Aku ini sainganmu di olimpiade matematika dan bahkan nilai ku berada di atasmu," protes Amora tidak terima.


Sambil makan kedua gadis itu saling bercerita dan berceloteh satu sama lain. Gelak tawa mereka bahkan sampai terdengar di meja Agam dan Alta.


Kedua lelaki tersebut mendelik melihat sekretaris mereka yang tampak akrab dan sepertinya sudah saling mengenal sejak lama.


"Apa mereka saling kenal?" tanya Agam.


"Sepertinya," sahut Alta singkat.


.


.


"Aku menginap di apartemenmu saja," pinta Amora.


"Tenang saja. Sekarang aku sudah naik jabatan dan jadi sekretaris. Pasti gajiku sangat besar!" seru Amora sambil melempar tubuhnya di ranjang.


"Cih, paling gajiku lebih besar." Anaya ikut berbaring.


Kedua gadis itu menatap langit-langit kamar mereka. Anaya di usir karena suka menghamburkan uang. Sedangkan Amora menghindari pria tua bangka yang menggilai dirinya seperti anjing mengejar tulang yang tidak aku menyerah walau gadis itu sudah menghindar.


"An, kenapa terasa aneh ya? Kita bisa sama-sama jadi sekretaris dua tuan yang memiliki ikatan persaudaraan," ucap Amora.


"Iya, Tuan Alta dan Tuan Agam itu akan saudara tiri yang artinya punya hubungan erat," sambung Anaya.


"Jodoh kali," sahut Amora terkekeh.


"Dih, ya kali aku berjodoh dengan kulkas itu. Lebih baik jomblo seumur hidup," sarkas Anaya.

__ADS_1


Amora tertawa lebar. Mereka berdua sepertinya sama-sama tidak suka dengan boss masing-masing. Apalagi sifat Alta dan Agam yang sama-sama membosankan dan suka mengomel.


"An, aku tinggal disini saja ya. Nanti gajian aku akan bantu bayar sewa." Amora mengedipkan matanya.


"Baiklah. Jangan lupa beres-beres, ingat menumpang harus tahu diri." Anaya melempar bantal kearah sahabatnya itu.


"Dih, ingat tamu adalah raja dan bukan pelayan," sarkas Amora.


"Semua orang bilang seperti itu tetapi mana ada raja menumpang." Anaya tertawa lebar.


Sementara Amora mendengus kesal. Sahabat unik dan aneh itu sebenarnya sudah lama tak bertemu. Anaya yang kuliah di luar negeri. Sedangkan Amora kuliah di tanah air. Jadi ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama berpisah. Dan kesomplakan mereka tak lekang oleh waktu. Sifat mereka juga masih seperti anak SMA.


Setelah lama bercerita kedua gadis itu akhirnya tertidur tanpa mati dan tanpa ganti baju. Kedua gadis yang sama-sama menciptakan mandi satu hari itu seperti anti air, walau mandi dengan air panas saja mereka masih banyak alasan apalagi kalau mandi tiga kali sehari.


Amora Lemos, gadis berusia 22 tahun. Dia sedikit tomboy dan cepat tanggap. Memilih kabur dari rumah adalah jalan ninjanya menghindari kegilaan tua bangka yang menggilai dirinya. Walau akhirnya di pertemukan dengan boss yang super duper killer dan suka sekali mengerjai dirinya. Satu-satunya cara untuk menghindari lelaki gila tersebut adalah menemukan pacar tetapi hingga sekarang dia masih jomblo abadi.


Sementara Anaya di usir dari rumah karena menghamburkan uang. Dia baru saja putus dari kekasihnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Uang habis, pulang langsung di semprot dan akhirnya di usir dari rumah. Namun, Anaya tak tahu jika dirinya di pantau oleh orang-orang suruhan sang ayah. Tentu saja ayahnya tak membiarkan putrinya tinggal sendirian di luar yang berbahaya.


.


.


Agam membaringkan tubuhnya di tangan lelaki itu memeluk sebuah figura yang menemani hari-hari sulit dan malam kelamnya.


"Yona," lirihnya.


"Aku rindu, Yon. Kenapa kau tega meninggalkan aku sendirian hidup di dunia ini? Tanpamu aku tak memiliki arah dan tujuan hidup," ucapnya dengan lelehan bening yang membahasi pipinya.


Dibalik wajah tegas dan dingin itu terselip sebuah kesedihan yang mungkin saja tidak banyak orang yang tahu tetapi dia berusaha menutupinya. Sebab kehilangan yang dia alami tak pernah benar-benar bercanda.


Beberapa belas tahun yang lalu tepatnya saat dia masih duduk di bangku kuliah, dia harus kehilangan sosok wanita yang menemaninya di semester pertama hingga semester akhir. Namun, sayang kematian tega memisahkan kedua insan biasa yang saling mencinta tersebut. Hingga kini Agam tak bisa membuka hati karena dia tidak menemukan wanita yang tepat seperti gadis yang dia cintai itu.


"Aku tidak bisa melupakanmu meski waktu berlaku kian cepat. Izinkan aku menikmati setiap detik rindu yang menyiksa dadaku. Walau takkan pernah menemukan titik temu."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2