Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Season 2. Part 01.


__ADS_3

Alta Hathaway seorang pria berusia 38 tahun. Di usia matang yang tentunya tak muda lagi, dia belum sama sekali memikirkan tentang pasangan hidup. Terpaku asyik dengan dunia bisnisnya. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali dia dekat dengan seorang wanita. Tak ada trauma di masa lalu, tak ada patah hati sebelumnya. Dia memang menyibukkan diri dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk di atas meja.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Riu, asisten yang bekerja dengan Alta.


"Ada apa?" cetusnya.


"Ini data calon sekretaris yang Anda minta, Tuan. Silakan di periksa," ucap Riu meletakkan berkas tersebut di atas meja Alta.


"Kapan dia masuk?" tanya Alta.


"Besok, Tuan," jawab Riu.


"Baik, kau boleh keluar," usirnya sambil mengibaskan tangannya.


"Saya permisi, Tuan," pamit Riu.


Alta membuka berkas di tangannya. Keningnya mengerut ketika melihat foto dengan ukuran 4*6 berlatar merah tersebut.


"Wait, sepertinya aku pernah melihat gadis ini?" gumamnya. "Tapi di mana ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Alta kembali membuka berkas tersebut dan membaca profil sekretaris barunya. Awalnya dia tidak membutuhkan sekretaris karena ada Riu yang membantu tetapi sebentar lagi Riu akan pindah ke cabang perusahaan baru miliknya.


"Anaya Margaretha," gumamnya. "Lulusan terbaik," sambungnya lagi.


Alta meletakkan berkas tersebut dan kembali fokus pada pekerjaannya. Jika boleh jujur, dia bosan dengan kehidupannya yang sekilas meja kerja dan perusahaan apalagi dia harus mengurus perusahaan milik Christoper karena ayahnya itu sudah tak mampu lagi mengelola perusahaan lantaran usia yang sudah tak muda lagi.


"Hufh, ternyata bekerja cukup membosankan," keluhnya. "Tapi lebih membosankan lagi jika pengangguran," tuturnya.


Lelaki itu menyandarkan punggungnya dengan lelah. Dia hanya terhibur jika berhadapan dengan ke-empat anak kembar Aerin, apalagi kalau berdekatan dengan Zanka dan Chana yang kah bukan main. Sedangkan Shaka yang memiliki darah dingin sangat sulit di dekati, apalagi sikapnya yang seperti tak tersentuh.


"Ahh, aku menikmati hidupku sekarang. Aku bahagia tanpa menikah," gumamnya. "Lagian bukan aku sendiri yang jomblo, ada Agam juga yang masih belum laku," ujarnya sambil tertawa lebar.

__ADS_1


Mereka berdua sering saling mengolok padahal sama-sama jomblo dan belum laku. Kadang juga keduanya menjadi bahan ledekan anak Alan dan Aerin yang suka sekali mengerjai Agam dan Alta karena mereka yang belum menikah di usia yang sudah matang.


"Aku ajak Agam makan siang saja." Lelaki itu mengotak-atik ponselnya dan menghubungi saudara tirinya itu.


.


.


Seorang gadis berdiri di depan sebuah apartemen mewah. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Dia menyeret koper yang berisi beberapa barang berharap miliknya.


"Huh, cukup mewah dari pada tinggal di kontrakan atau kost. Setelah ini aku harus menghemat, tidak boleh jajan terlalu banyak," ucapnya pada diri sendiri.


Gadis itu berjalan masuk ke dalam lift untuk menuju lantai kamarnya. Dia baru saja pulang dari luar negeri setelah liburan beberapa Minggu. Setelah pulang ke Indonesia malah bertengkar dengan ayahnya karena dia menghabiskan uang dengan sia-sia.


"Huh, aku akan buktikan pada Daddy kalau aku juga bisa menghasilkan uang," ucapnya yang jengkel mengingat pertengkarannya dengan sang ayah yang bahkan tega mengusirnya. Untung saja otaknya cerdas, sehingga bisa menyewa apartemen.


"Selamat menikmati kebebasanmu, Anaya," serunya pada diri sendiri.


"Hem, not bad." Gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa. "Pantas saja sewanya mahal," gerutunya.


Dirinya yang tak biasa hidup susah tentu saja tak mau memilih apartemen biasa untuk tempat tinggalnya. Mau nya harus apartemen luar biasa sesuai dengan gaya hidupnya.


"Besok aku sudah harus mulai bekerja. Hem, apa uang tabunganku untuk beli mobil saja ya?" gumamnya tampak berpikir keras.


"Eh, kalau aku beli mobil aku makan apa nanti? Belum tentu kerja langsung di bayar, pasti menunggu sebulan." Dia menghela nafas panjang.


"Ini yang tidak adil, kerja setiap hari gajian sekali," protesnya sambil seloyoran di sofa.


"Sudahlah, aku tidur saja." Gadis itu menguap beberapa kali sebelum akhirnya terlelap di sofa. Tidak lama kemudian dia terlelap dengan baju yang belum dia ganti.


Anaya Margaretha gadis berusia 22 tahun yang baru saja menyelematkannya pendidikannya di salah satu universitas ternama. Anak orang kaya yang hobby-nya shopping dan liburan. Karena ancaman dari sang papa membuatnya memilih kabur dari rumah dan hidup tanpa fasilitas kedua orang tua nya. Dia gadis yang cantik dia pintar serta cerdas bahkan mendapat predikat lulusan terbaik. Namun, sayang sikap manjanya membuat kedua otak tua nya jengkel sehingga memberinya hukuman untuk mencari uang sendiri.

__ADS_1


.


.


"Pagi, Dad," sapa Alta duduk di kursi meja makan.


Begitulah kehidupan mereka berdua. Sarapan bersama dan bercerita bersama. Tidak ada pasangan hidup yang menemani keduanya. Jujur saja terkadang ada rasa bosan yang menyelimuti hati kedua pria itu.


"Ta, apa kau tak ingin mencari pasangan hidup?" tanya Christoper melirik putranya. "Daddy tidak bisa selamanya menemanimu," ucapnya lagi yang kasihan melihat Alta.


"Dad, jangan bicara begitu," sarkas Alta.


"Apa yang Daddy katakan memang benar, Alta. Kita tidak mungkin selamanya bersama. Menikahlah dan bahagia seperti Baby A," ucapnya menasihati putranya tersebut.


"Aku belum menemukan pasangan yang cocok, Dad," kilah Alta mengigit roti di tangannya dengan kesal. Dia belum memikirkan memiliki pasangan hidup, baginya bersama sang ayah saja sudah lebih dari cukup dan dia bahagia walau tak memiliki orang yang memperhatikannya setiap waktu.


"Apa perlu Daddy yang carikan?" goda Christoper tersenyum jahil pada anak lelakinya itu.


"No, no. Aku bisa mencari sendiri," tolak Alta. Dia sudah membayangkan jika ayahnya itu menjodohkannya cnshan wanita sembarangan.


Christoper terkekeh dan menepuk pundak anaknya.


"Daddy bercanda," tukasnya. "Tapi kalau kau memang mau, Daddy tidak keberatan mencarikanmu. Banyak anak teman Daddy yang cantik-cantik dan sedang mencari pasangan hidup," ucap Christoper.


"Tidak, Dad. Aku menolak," sahut Alta cepat. Dia tidak suka yang namanya di kenalkan dengan wanita jenis apapun.


Lagi-lagi Christoper terkekeh gemes mendengar penolakan anak lelakinya. Masalah pasangan hidup dia tidak mau ikut turun tangan dan membiarkan anak-anaknya memilih pasangan sendiri. Sebab kehidupan Christoper hancur hanya karena istri pilihan orang tua nya.


"Aku berangkat dulu, Dad," pamit Alta.


Christoper mengangguk sembari melambaikan tangannya pada Alta yang berlalu menuju pintu. Lelaki paruh baya itu bernafas panjang. Di masa tua nya dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama anak dan cucu-cucunya.

__ADS_1


"Semoga kau menemukan pasangan yang tepat, Son. Daddy selalu berharap yang terbaik untukmu."


__ADS_2