Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Rencana mencari Daddy.


__ADS_3

"Mom, bagaimana kalau kita cari Daddy saja?" saran Zanka.


Zanka langsung mendapat tatapan dari ketiga orang tersebut.


"Mencari Daddy, Kak?" ulang Chana.


"Iya kita cari Daddy. Aku yakin Daddy tidak baik-baik saja disana. Dia pasti di tekan oleh istri pertamanya," jelas Zanka, seperti orang dewasa.


Shaka dan Chana saling melihat dan tampak berpikir keras.


Sementara Aerin diam saja, dia tidak tahu apakah harus mencari sang suami dan pulang ke Indonesia mungkin benar yang dikatakan oleh Zanka bahwa kini suaiunya tersebut ditekan oleh keluarga istri pertamanya. Aerin bersyukur ketiga anaknya tidak membenci Alan, awalnya dia takut menceritakan ham tersebut karena dia berpikir bahwa ketiganya akan menyalahkan Alan atas semua ini.


"Tidak, Son. Itu bahaya, kalian masih terlalu kecil!" tolak Aerin tegas. Bukan apa, Christoper dan Alta akan terus menghadang jalan mereka. Apalagi dirinya menjadi buronon.


"Ada Ayah dan Papa yang akan membantu, Mom. Biarkan kami pulang ke Indonesia, Mommy dan Shena tetap disini," jelas Shaka memberi pengertian.


Aerin menggeleng dengan tegas. Tidak, dia tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Bagaimana bisa dia membiarkan anak-anaknya mencari keberadaan sang suami tanpa dirinya. Bagaimana kalau nanti si kembar malah di celakai oleh keluarga Anne.


"Tidak. Tidak, hal Mommy tidak akan biarkan kalian pergi," tolak Aerin.


"Ayolah, Mom. Mereka tidak akan tahu siapa kami," bujuk Chana mengeluarkan jurus andalannya, yaitu puppy eyes sehingga membuat Aerin tak mampu menolak pesona anak lelakinya itu.


"Iya Mom, percaya pada kami," sambung Zanka.


"Kalian masih kecil." Aerin menggeleng.


"Tubuh kami memang kecil, Mom. Tetapi kami tidak jauh beda dengan orang dewasa," sambung Shaka.


Mata Aerin kembali berkaca-kaca, dia sudah membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada ketiga anaknya. Tak hanya Christoper dan Alta tetapi Jasmine dan Lisa pun pasti akan ikut menyakiti anak-anaknya.


"Percaya pada kami, Mom," ucap Shaka mengenggam tangan Aerin.


Aerin menghela nafas panjang dan melihat wajah polos putranya. Jujur dia ragu, bagaimanapun ketiga putranya itu masih anak kecil yang belum tahu apa-apa. Bahkan tak paham sama sekali tentang rasa sakit.


"Mommy ikut," ucap Aerin.


Shaka menggeleng, "Tidak Mom. Biarkan kami saja, ada Ayah dan Papa yang akan menjaga kami," jelas Shaka memberi pengertian.

__ADS_1


"Tapi_"


"Mommy menjaga Shena saja, biar semua kami yang kerjakan," potong Shaka.


Aerin belum menjawab apakah dia menolak atau mengiyakan, jujur saja ini sangat berat. Dia tak bisa bayangkan jika terjadi sesuatu pada ketiga anaknya walau ada Yoas dan Yoel yang menjaga. Mengingat kejadian lima tahun yang lalu membuat Aerin tahu bahwa Christoper adalah manusia berbentuk iblis.


.


.


"What's?" pekik Yoel


"Astaga Papa, tidak perlu teriak-teriak," cetus Zanka mengusap dadanya.


"Salah Kak, usap telinga," ralat Chana.


Yoas dan Yoel hampir jantungan saat ketiga saudara kembar itu mengatakan ingin bertemu ayah mereka. Apakah Aerin sudah menceritakan siapa ayah kandung dari ke-empat anak kembar itu.


"Iya, kami ingin menemui Daddy ke Indonesia, tetapi kami butuh bantuan Ayah dan Papa," jelas Shaka.


Yoas dan Yoel saling melihat satu sama lain. Lalu menatap ketiga anak kembar itu yang duduk di sofa dengan wajah lucu dan menggemaskan dengan kaki kecil yang menggantung.


"Iya Pa," sahut ketiganya kompak.


"Ayolah, Son. Kalian masih kecil, apa kalian paham apa itu menemui?" tanya Yoel tak habis pikir.


"Papa merendahkan kemampuan kami?" Zanka memincingkan matanya curiga.


"Bukan merendahkan tapi meragukan," cetus Yoel. Pria itu tak habis pikir, darimana anak-anak Aerin memiliki pemikiran mencari keberadaan ayah kandung mereka.


"Apa bedanya, Pa?" tanya Zanka tak habis pikir.


"Beda tulisannya," cetus Yoel.


Yoas tampak berpikir keras, lalu dia menatap ketiga anak kembar yang duduk dengan menampilkan wajah lucu dan menggemaskan mereka. Siapapun yang melihatnya takkan tahan untuk tidak menoel-noel pipi tembem yang berisi lemak itu.


"Apa Mommy tahu tentang hal ini?" tanya Yoas menatap ketiganya penuh selidik.

__ADS_1


Ketiga anak kembar itu mengangguk kompak. Bahkan mereka sudah meminta izin dan membicarakan hal tersebut dengan sang ibu.


"Lalu apa kata Mommy?" sambung Yoel memastikan. Anak-anak Aerin ini sangat nakal dan suka berbuat ulah.


"Mommy mengizinkan, Pa," sahut Chana cepat.


"Kalian tidak berbohong 'kan?" Yoel lagi-lagi menatap curiga.


"Cih, Papa selalu prasangka buruk pada kami," gerutu Chana.


"Karena kalian suka membuat masalah," sahut Yoel.


Jika ketiga orang itu sibuk berdebat, maka berbeda dengan Yoas dan Shaka yang tampak berpikir keras. Kedua pria berwajah dingin tersebut kompak menunjukkan ekspresi wajahnya.


"Kau yakin, Son?" Yoas menatap kearah Shaka. "Apa kalian sudah tahu siapa Daddy kalian?" tanya Yoas lagi.


Shaka mengangguk cepat, "Iya Ayah, kami sudah tahu siapa Daddy. Oleh sebab itu kami ingin mencari dan menemuinya serta melepaskan Daddy dari keluarga istri pertamanya," jelas Shaka.


Yoas dan Yoel mendelik ketika mendengar penjelasan Shaka, apa Shaka sudah mengetahui jika sang ibu adalah istri kedua? Lalu kenapa reaksinya sangat santai seperti itu?


"Lalu apa yang akan kita lakukan? Kalian tahu 'kan kalau keberadaan Mommy sekarang masih di cari oleh Tuan Christoper dan Tuan Alta. Ayah takut mereka mengetahui kedatangan kita lalu mencelakai kalian," ucap Yoas yang memiliki kekhawatiran sama seperti Aerin, sebab Yoas tahu seperti apa kejamnya Christoper.


"Shaka tahu, Ayah. Mommy tidak ikut bersama kita. Jadi kemungkinan mereka menemukan kita atau tahu kedatangan kita tipis. Jadi jangan takut," ucap Shaka menenangkan.


Yoas menghela nafas panjang, dia bingung apakah harus mengiyakan? Apakah harus menolak?


"Hem, tidak ada salahnya kita kembali ke Indonesia, Kak," saran Yoel. "Seperti yang dikatakan Shaka, mereka takkan mudah menemukan kita," sambungnya.


Yoas kembali diam dan tampak berpikir dalam. Dia menatap ketiga anak kembar tersebut yang tampak memohon dengan tatapan. Sesungguhnya dia memiliki ketakutan sendiri bertemu Christoper dan Alta, karena kedua manusia kejam itu takkan memberi ampun pada siapa saja yang berani mengusik kehidupan keluarganya.


"Kenapa Ayah?" tanya Shaka yang bisa melihat semburat kekhawatiran di wajah sang ayah.


"Ini tidak mudah, Son. Kalian harus siapkan mental," jelas Yoas.


"Shaka tahu, Ayah," jawab Shaka cepat. "Jadi kapan keberangkatan kita ke sana?" tanya Shaka lagi menatap kearah dua orang pria dewasa tersebut.


"Secepatnya," sahut Yoel. "Bantu Papa menyiapkan keberangkatan kita," mohon Yoel.

__ADS_1


Ketiganya mengangguk kompak. Wajah-wajah itu tampak tak sabar bertemu dengan sang ayah sudah lama mereka rindukan. Walau Yoas dan Yoel bisa memberikan kasih sayang seperti seorang ayah. Namun, tetap hati polos tersebut bisa membedakan antara ayah sambung dan ayah kandung.


Bersambung....


__ADS_2