
Alan duduk di jet pribadi nya dengan perasaan gelisah tak menentu. Disisi lain, dia merindukan Aerin. Disisi lain dia harus was-was karena ternyata banyak yang mengawasi dirinya.
"Huffh." Terdengar helaan nafas panjang dari mulut lelaki itu.
Alan menatap kosong kearah jendela pesawat sambil menikmati perjalanan antara Bali ke Jakarta. Lelaki tu memegang dadanya menahan sesak akan rindu yang mengembang didalam sana. Dia meninggalkan istrinya itu dalam keadaan Aerin tidur. Dia bahkan tak sempat untuk sekedar berpamitan pada istrinya itu.
"Aku pulang, Sayang. Selama kau bersama ku, semua akan baik-baik saja," ucap Alan.
Alan seorang pria yang tengah jatuh cinta pada istrinya keduanya bernama Aerin. Alan tahu jika dia salah karena sudah menikah kedua kali tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Tetapi dia tidak bisa terus hidup dalam sangkar Anne yang mengurungnya tak bisa kemana-mana.
Sampai di bandara Internasional Soekarno-Hatta, Alan berjalan cepat diikuti oleh beberapa bodyguard dibelakang nya.
"Silahkan, Tuan," ucap salah satu nya.
Alan masuk kedalam mobil dengan langkah cepat. Lelaki itu seperti tak sabar untuk datang ke rumah.
"Apa semua aman, Yoel?" tanya nya pada Yoel. Yoel adalah adik dari Yoas yang juga bekerja dengan Alan.
"Untuk saat ini masih aman, Tuan. Tetapi anak buah Tuan Alta, Tuan Christoper dan Nona Anne sedang mengawasi pergerakan Anda," jawab Yoel sambil menyetir.
"Blokir semua akses jalan yang menuju kerumah ku. Perketat penjagaan. Setelah ini pasti akan terjadi perang besar!" titah Alan.
"Baik Tuan," jawab Yoel.
Alan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Bagaimana cara dia bisa melindungi Aerin jika dalam keadaan seperti ini? Sungguh Alan tak sanggup harus kehilangan wanita itu. Dia sudah terlanjur mencintai Aerin. Bahkan perasaan cinta nya tidak bisa di halangi oleh apapun.
"Apa istriku baik-baik saja?" tanya Alan lirih.
"Nona baik-baik saja, Tuan. Nona terus menanyakan Anda pada Kak Yoas," jawab Yoel.
Alan sengaja membangun sebuah rumah yang jauh dari perkotaan dengan penjagaan bak istana kerajaan. Sebab dia tahu lambat laun pernikahan tersembunyi tersebut akan di ketahui oleh banyak orang. Alan takut jika orang-orang menyakiti Aerin.
Alan memejamkan matanya sejenak mendengar penjelasan Yoel bahwa istrinya selalu menanyakan dirinya. Dia bahagia dan senang jika wanita itu mencarinya. Hanya saja Alan merasa bersalah, karena sudah membuat Anne dalam masalah besar. Namun, lelaki itu tak pernah menyesal sama sekali telah menikahi Aerin. Dia bahagia karena Aerin adalah wanita yang dia cintai.
"Yoel, perintahkan semua anak buah untuk berjaga-jaga di sekitar Mansion. Jangan biarkan satu orang luar pun masuk tanpa seizin ku!" perintah Alan.
__ADS_1
"Baik Tuan," sahut Yoel.
.
.
Air mata Aerin meleleh wanita itu menangis segugukan. Dia masih duduk di ruang tamu menunggu suaminya.
"Hiks hiks, Hubby," renggek nya.
"Nona, sudah jangan menangis lagi. Tuan pasti pulang," ucap Bik Surti menghibur wanita hamil tersebut.
"Kenapa lama, Bik? Hiks hiks," tanya Aerin sambil terisak.
"Mungkin pekerjaan Tuan belum selesai, Nona," sambung Yoas.
Setiap hari Yoas dan Bik Surti menghibur Aerin. Wanita hamil itu memang merindukan suaminya, bahkan saat tidur saja dia sampai menyebut nama suaminya. Sebenarnya Aerin tidak boleh terlalu banyak berpikir apalagi dai sedang hamil karena itu bisa berpengaruh pada bayi dalam kandungan nya.
"Apa Hubby tidak akan pulang?" tanya Aerin sendu.
Aerin menyeka air matanya seperti anak kecil. Dia bahkan duduk seloyoran diatas karpet ruangan tamu. Merenggek dan menangis seperti anak umur lima tahun. Entah itu karena bawaan kehamilan atau memang wanita jika sedang rindu suka aneh-aneh?
"Sayang."
Mereka menoleh kearah pintu masuk. Tampak Alan berdiri dengan senyuman manis menatap istrinya.
"Hubby," ucap Aerin berdiri dengan mata berbinar-binar.
"Sayang," balas Alan.
"Hubby."
"Stop, Sayang. Jangan lari-lari," sergah Alan saat istrinya ingin berlari kearahnya. "Biar aku yang kesana," ucapnya.
Aerin tak mampu menahan lelehan bening dipipinya. Wanita itu menangis haru karena rindu.
__ADS_1
Alan berjalan menghampiri Aerin, matanya juga berkaca-kaca. Hatinya sakit melihat air mata istrinya. Apakah dia yang menyebabkan wanita itu menangis?
"Sayang."
"Hubby."
Mereka berdua saling memeluk erat, melepaskan semua kerinduan yang mengembang dalam dada. Keduanya saling bertangsian satu sama lain.
Alan pria beristri yang jatuh cinta pada gadis perawan seperti Aerin. Bahkan dia yang mengambil keperawanan wanita tersebut. Menikahi Aerin adalah keputusan yang Alan ambil berdasarkan hatinya. Dia tidak menyesal, meski tahu jika ini mungkin akan beresiko.
Sementara Aerin tidak tahu sama sekali jika suaminya ini pria beristri. Kesibukan nya dalam meniti karier membuat dia tidak tahu informasi yang sedang tranding di media sosial. Aerin tidak tahu kenapa dia bisa benar-benar jatuh ke dalam pesona Alan? Padahal awalnya dia membenci lelaki itu karena sudah merebut harta paling berharga dalam hidupnya. Tetapi kenapa hatinya justru bisa terpaut pada suaminya itu.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Alan melepaskan pelukan nya. Rasanya Alan tak ingin berpisah dengan Aerin meski hanya satu menit saja.
"Aku baik-baik saja Bby. Hubby kemana saja? Kenapa lama? Aku rindu," jawab Aerin terisak.
"Aku juga merindukan mu, Sayang. Sangat," sahut Alan mengusap pipi Aerin dengan sayang. "Maafkan aku ya," sambung Alan merasa bersalah.
Aerin masih terisak entah kenapa air mata nya tak bisa berhenti?
"Kenapa Hubby lama? Aku menunggu setiap hari! Kenapa tidak menghubungi ku?" cecar Aerin
Mulut Alan bungkam, apa yang harus dia katakan? Bukan dia tidak mau menghubungi Aerin. Hanya saja ponselnya di sadap oleh Anne, jika dia menghubungi istrinya itu bisa jadi Anne akan membaca pesan atau panggilan telepon dari Aerin.
"Maaf, Sayang. Pekerjaan ku banyak. Aku tidak sempat memegang ponsel," jawab Alan asal.
Alan terpaksa berbohong, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bahkan jika Aerin tahu siapa dia, pasti wanita itu akan pergi meninggalkan dirinya. Rasanya Alan tidak sanggup jika saat itu tiba. Namun, bagaimanapun dia menghindari takdir tersebut, hal itu akan tetap terjadi padanya.
"Sudah jangan menangis lagi, sekarang aku sudah disini. Ayo peluk aku sepuas nya, Sayang," ucap Alan terkekeh.
Aerin kembali memeluk tubuh kekar suaminya. Harum parfum yang Alan pakai seperti menjadi wangi kesukaan Aerin. Wangi ini menjadi candu nya, dia ingin selalu memeluk tubuh ini setiap saat, setiap detik.
Para pelayan turun merasa haru dengan pertemuan kedua insan manusia tersebut. Sebab mereka tahu betapa Aerin merindukan suaminya dan bahkan wanita hamil itu tidak bisa memikirkan yang lain selain kapan sang suami akan pulang dan menemui nya?
Bersambung.....
__ADS_1