Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Marah


__ADS_3

"Ayo," ajak Agam.


Mereka masuk ke dalam jet pribadi milik lelaki itu. Wajah Agam tampak gelisah, untung saja dia bisa menghindari Christoper dan Alta yang mencoba menghalangi jalan mereka.


"Apa aman?" tanya Alan.


"Tenang saja, disini aman," sahut Agam.


Alan duduk gelisah dengan tak tenang. Kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak? Bayangan Aerin terus terngiang di kepalanya, ini bukan bayangan rindu tetapi kekhawatiran.


"Yoas, apa Aerin dan Shena baik-baik saja?" tanya Agam.


"Sebentar, Tuan." Yoas mengotak-atik ponselnya.


Sementara Yoel dan Shaka tampak sibuk dengan laptop yang ada di depan mereka. Kedua lelaki berbeda usia dan generasi tersebut begitu serius menatap layar laptoo di depan mereka.


"Kita kehilangan jaringan di rumah, Pa," lapor Shaka.


"Terus pantau, Son!" perintah Yoel.


Shaka kembali fokus dengan laptop di depannya. Tangan munggil lelaki kecil itu berselancar seperti ahli IT.


"Astaga," pekik Yoel.


"Ada apa Yoel?" tanya Alan, Agam dan Yoas bersamaan.


"Lihat ini!" Yoel menunjuk layar laptop di depannya.


Mereka semua fokus melihat video yang ada di layar tersebut. Tampak rumah mewah kediaman Yoas di Sidney di serang oleh beberapa pria berbaju hitam.


"Nana," ucap Zanka dan Chana bersamaan.


"Aerin," gumam Alan dengan mata berkaca-kaca.


"Kita harus cepat sampai menyelamatkan mereka," tukas Agam panik seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Rahang lelaki itu mengeras saat melihat Jo memukul belakang Aerin hingga membuat wnaita tersebut jatuh dan pingsan di atas lantai.


"Nana." Zanka dan Chana menangis histeris ketika melihat Shena di tarik paksa oleh Anne.


"Jangan di lihat!" Alan menutup mata kedua putranya.


"Daddy, Nana hiks hiks hiks," renggek Chana.

__ADS_1


"Iya. Kita harus tenang," ucap Alan mengusap bahu kedua putranya.


Shaka terlihat marah, wajahnya memeras seketika. Beberapa urat lehernya terlihat mengeras di bagian leher. Dia kembali mengotak-atik stut keyboardnya, entah apa yang sedang dia lakukan?


Yoas dan Agam terduduk lemas, jika saja pesawat ini seperti mobil yang bisa di percepat dengan menancapkan gas atau bisa menghilang menebus waktu. Mungkin mereka sudah sampai di Sidney dan menyelamatkan kedua wanita yang begitu mereka sayang sepenuh hati jiwa dan raga tersebut.


"Brengsek!" pekik Agam memukul kursi dengan kuat. "Aku akan membunuhmu, Anne. Kau takkan selamat. Kau akan menerima ganjaran karena sudah berani menyakiti Aerin," ucapnya dengan tatapan tajam dan matan yang merah.


Alan memejamkan meresapi rasa sakit dan khawatir. Dia berusaha untuk menenangkan pikirannya. Ingin rasanya dia lompat dari pesawat dan menyusul kedua orang itu serta menyelamatkan mereka.


"Pa, aku sudah mengirim usser ke laptopmu," ucap Shaka yang masih sibuk.


"Iya Son."


Jika yang lain tampak lesu setelah melihat video tersebut. Maka berbeda dengan Yoel dan Shaka yang tetap fokus laptop yang mereka pegang.


"Apa kau sudah melihatnya, Pa?" tanya Shaka.


"Sudah, Son. Papa akan langsung pasang sistem keamanan disana," jawab Yoel.


"Jangan sampai mereka tahu, Pa," ucap Shaka.


Alan, Agam dan Yoas hanya diam saja dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Cara mereka menunjukkan kekhawatiran hampir sama. Kegelisahan dan tak tenang menyelimuti hati dan wajah.


Bahkan Alan tampak meneteskan air mata sambil menenangkan Zanka dan Chana yang terus menangis memanggil nama Aerin dan Shena. Lelaki itu mengepalkan tangannya kuat, hatinya sakit melihat gadis sekecil itu di sakiti oleh manusia tak memiliki perasaan seperti Anne. Alan takkan membiarkan Anne lepas dari hukuman. Mungkin dulu wanita itu dengan mudah bisa memperalat dan menjadikan dia boneka. Namun, sekarang Anne harus tahu siapa suaminya tersebut.


"Mommy, hiks hiks hiks." Chana masih terisak sambil memeluk Alan.


"Nana, maafkan Kakak. Semoga kau baik-baik saja. Tunggu Kakak, sebentar lagi kita akan bertemu," ucap Zanka sambil menarik inguse nya dan menangis segugukan.


.


.


"Mereka cukup licik." Christoper tersenyum devil ketika mengetahui bahwa musuhnya mencari jalan pintas untuk menghindari serangannya.


"Sepertinya Tuan Robson memang sudah tahu rencana kita sejak awal, Dad," jawab Alta.


"Robson?" ulang Christoper tampak berpikir keras. "Lelaki tua itu ternyata," ujar Christoper dengan senyuman iblisnya.


"Maaf, Tuan," ucap Jack.

__ADS_1


"Ada apa, Jack?" tanya Alta menatap kearah asistennya.


"Saya baru saja mendapatkan video ini dari anak buah kita," ucap Jak melaporkan sambil menunjukkan layar iPad di tangannya.


"Apa, Jack?"


Christoper dan Alta melihat rekaman video yang sepertinya berhasil diretas oleh anak buah Alta.


Seketika rahang Christoper mengeras dengan kuat saat melihat rekaman video tersebut. Begitu juga dengan Alta, dia seperti marah dan tidak terima.


Jack menatap raut wajah kedua tuan-nya yang berubah ketika melihat rekaman tersebut. Harusnya mereka senang karena Aerin dan anaknya telah di siksa dan menerima ganjaran. Tetapi kenapa wajah keduanya seperti marah dan terluka.


"Apakah ini perbuatan, Anne?" tanya Christoper.


"Iya Tuan. Perbuatan Nona Anne dan Tuan Jo," jelas Jack mematikan layar iPadnya.


"Siapa, Jo?" tanya Christoper. Nama itu seperti tak asing, dia pernah mendengarnya tetapi entah kapan dan di mana?


"Maaf Tuan, Tuan Jo adalah partner ranjang Nona Anne," jawab Jack takut-takut. Anak buahnya tidak sengaja menemukan beberapa video syur Anne dan Jo, tetapi dia tak berani mengatakan hal tersebut pada Christoper dan Alta


"Partner ranjang?" ulang Christoper dan Alta saling melihat.


Selama ini mereka tidak tahu apa yang di lakukan Anne. Kurangnya pengawasan membuat Christoper tidak tahu apa saja yang di lakukan oleh anak perempuannya tersebut, yang dia tahu jika Anne sangat terobsesi ada Alan jadi tidak mungkin ada pria lain di hidup putrinya tersebut.


"Sudah berapa lama?" tanya Christoper mengatur nafasnya. Dia memejamkan matanya sejenak.


"Sejak Nona menikah dengan Tuan Alan, Tuan," jawab Anne.


Alta langsung menatap asistennya, "Selama itu? Apa ini benar?" tanya Alta setengah tak percaya.


"Iya, Tuan," jawab Jack.


Tanpa sadar tangan Christoper mengepal kian kuat dan menimbulkan buku-buku tangannya sehingga memutih. Rasanya marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Anne memang bukan putrinya, tetapi dia sangat menyayangi wanita itu walau dengan didikan yang sangat keras dan sering mengekang keinginan Aerin.


Alta juga terlihat menghela nafas panjang. Jujur saja dia pun kecewa dengan perbuatan adiknya, dia pikir selama ini Anne sungguh-sungguh mencintai Alan sehingga tak ada lelaki lain di dalam hidupnya.


"Jack, persiapkan keberangkatan kami ke Sidney. Kirim anak buah sebanyak mungkin untuk menyelamatkan Aerin!" titah Christoper.


Alta dan Jack menatap Christoper heran. Kenapa lelaki itu ingin menyelamatkan Aerin? Apakah Christoper sedang salah bicara atau tidak tahu apa yang dia katakan? Bukankah Christoper berniat melenyapkan Aerin karena sudah menghancurkan kebahagiaan putrinya, namun baru saja dia mengatakan hal yang tak seharusnya?


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2